Bismillah ...

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyaat: 56).

“Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (An Nahl: 36).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk surga.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Tauhid adalah perkara yang paling penting dalam agama Islam. Sebagai tujuan diutusnya para Rasul, serta sebagai kewajiban pertama dan terakhir bagi manusia yang berakal.

Pelanggaran terhadapnya adalah bid'ah yang paling besar sebagaiman firman Allah :

“Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cinta Kepada Allah

"Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman, ....

Mereka Yang Berjatuhan Dari Dakwah Salafiyah

Namun, bagi mereka yang menghendaki agar dakwah salafiyah inilah yang berkhidmat dan menanggung mereka, lalu dicatat dan mereka ditampakkan sebagai tokoh dalam dakwah ini, hanya karena menisbatkan diri.....

Kesalahan Kesalahan Dalam Beraqidah

..Mereka mencukupkan ( لا إله إلا الله) hanya di lisan saja tanpa menyadari, bahwa kalimat tauhid ini menuntut perkara-perkara lain. Diantara perkara-perkara yang dituntut adalah nafi dan itsbat. ...

Menyelewengkan Makna La Ilaha Illallah, Wujud Penyimpangan Aqidah

Tauhid merupakan kewajiban yang pertama dan paling utama untuk diilmui dan didakwahkan. Ia juga merupakan tugas yang paling besar,......

Surat Dari Ibu yang terkoyak hatinya

Anaku…. Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya.

Tampilkan postingan dengan label Tabiin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tabiin. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 April 2012

Muhammad bin al-Hanafiyyah


Namanya adalah Muhammad Ibn al-Hanafiah, ia banyak menimba ilmu dari 'Ali bin Abi thalib."

Pada saat Telah terjadi percekcokan antara Muhammad ibn al-Hanafiyyah dan saudaranya al-Hasan ibn Ali, maka Ibn al-Hanafiah mengirim surat kepada saudaranya itu, isinya, "Sesungguhnya Allah telah memberikan kelebihan kepadamu atas diriku.  Ibumu Fathimah binti Muhammad ibn Abdullah, sedangkan ibuku seorang wanita dari Bani "Haniifah." Kakekmu dari garis ibu adalah utusan Allah dan makhluk pilihannya, sedangkan kakekku dari garis ibu adalah Ja'far ibn Qais. Apabila suratku ini sampai kepadamu, kemarilah dan berdamailah denganku, sehingga engkau memiliki keutamaan atas diriku dalam segala hal."

Begitu surat itu sampai ke tangan al-Hasan.ia segera ke rumahnya dan berdamai dengannya. Siapakah Muhammad ibn al-Hanafiyyah, seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang pandai dan berakhlak lembut ini? Marilah, kita membuka lembaran hidupnya dari awal.

Kisah ini bermula sejak akhir kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pada suatu hari, Ali ibn Abi Thalib duduk bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, maka ia berkata, "Wahai Rasulullah.apa pendapatmu apabila aku dikaruniani seorang anak setelah engkau meninggal, (bolehkah) aku menamainya dengan namamu dan memberikan kun-yah (sapaan yang biasanya diungkapkan dengan 'Abu fulan.') dengan kunyah-mu?." "Ya" jawab beliau.

Kemudian hari-hari pun berjalan terus. Dan Nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wassalam bertemu dengan ar-Rafiiqul al-A'laa (berpulang ke sisi Allah).dan setelah hitungan beberapa bulan Fathimah yang suci, Ibunda al-Hasan dan al-Husain menyusul beliau (wafat).

Ali lalu menikahi seorang wanita Bani Haniifah. Ia menikahi Khaulah binti Ja'far ibn Qais al-Hanafiyyah, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki untuknya. Ali menamainya "Muhammad" dan memanggilnya dengan kun-yah "Abu al-Qaasim" atas izin Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Hanya saja orang-orang terlanjur memanggilnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah, untuk membedakannya dengan kedua saudaranya al-Hasan dan al-Husain, dua putra Fathimah az-Zahra. Kemudian iapun dikenal dalam sejarah dengan nama tersebut.

Muhammad ibn al-Hanafiyyah lahir di akhir masa khilafah ash-Shiddiq (Abu Bakar) RA. Ia tumbuh dan terdidik di bawah perawatan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, ia lulus di bawah didikannya.

Ia belajar ibadah dan kezuhudan dari ayahnya.mewarisi kekuatan dan keberaniannya.menerima kefasihan dan balaghoh darinya. Hingga ia menjadi pahlawan perang di medan pertempuran.singa mimbar di perkumpulan manusia, seorang ahli ibadah malam (Ruhbaanullail) apabila kegelapan telah menutup tirainya ke atas alam dan saat mata-mata tertidur lelap.

Ayahnya telah mengutusnya ke dalam pertempuran-pertempuran yang ia ikuti. Dan ia (Ali) telah memikulkan di pudaknya beban-beban pertempuran yang tidak ia pikulkan kepada kedua saudaranya yang lain; al-Hasan dan al-Husain. Ia pun tidak terkalahkan dan tidak pernah melemah keteguhannya.

Pada suatu ketika pernah dikatakan kepadanya, "Mengapakah ayahmu menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan dan membebankanmu apa yang kamu tidak mampu memikulnya dalam tempat-tempat yang sempit tanpa kedua saudaramu al-Hasan dan al-Husain?"
Ia menjawab, "Yang demikian itu karena kedua saudaraku menempati kedudukan dua mata ayahku.sedangkan aku menempati kedudukan dua tangannya.sehingga ia (Ali) menjaga kedua matanya dengan kedua tangannya."

Dalam perang "Shiffin" yang berkecamuk antara Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan RA. Adalah Muhammad ibn al-Hanafiyyah membawa panji ayahnya. Dan di saat roda peperangan berputar menggilas pasukan dari dua kelompok, terjadilah sebuah kisah yang ia riwayatkan sendiri. Ia menuturkan, "Sungguh aku telah melihat kami dalam perang "Shiffin", kami bertemu dengan para sahabat Muawiyah, kami saling membunuh hingga aku menyangka bahwa tidak akan tersisa seorang pun dari kami dan juga dari mereka. Aku menganggap ini adalah perbuatan keji dan besar.
Tidaklah berselang lama hingga aku mendengar seseorang yang berteriak di belakangku, "Wahai kaum Muslimin.(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada Allah).wahai kaum Muslimin.
Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?.
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?.
Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami?*.
Wahai kaum Muslimin.takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah dan sisakan kaum muslimin, wahai ma'syarol muslimin."


Maka sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk tidak mengangkat pedangku di wajah seorang Muslim.
Kemudian Ali mati syahid di tangan pendosa yang dzalim (di tangan Abdurrahman ibn Miljam )


Kekuasaan pun berpindah kepada Muawiyah ibn Abi Sufyan. Maka, Muhammad ibn al-Hanafiyyah membaiatnya untuk selalu taat dan patuh dalam keadaan suka maupun benci karena keinginannya hanya untuk menyatukan suara dan mengumpulkan kekuatan serta untuk menggapai izzah bagi Islam dan Muslimin.

Muawiyah merasakan ketulusan baiat ini dan kesuciannya. Ia merasa benar-benar tentram kepada sahabatnya, hal mana menjadikannya mengundang Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk mengunjunginya. Maka, ia pun mengunjunginya di Damaskus lebih dari sekali.dan lebih dari satu sebab.

Di antaranya, bahwa kaisar Romawi menulis surat kepada Muawiyah. Ia mengatakan, "Sesungguhnya raja-raja di sini saling berkoresponden dengan raja-raja yang lain. Sebagian mereka bersenang-senang dengan yang lainnya dengan hal-hal aneh yang mereka miliki.sebagin mereka saling berlomba dengan sebagian yang lain dengan keajaiban-keajaiban yang ada di kerajaan-kerajaan mereka. Maka, apakah kamu mengizinkan aku untuk mengadakan (perlombaan) antara aku dan kamu seperti apa yang terjadi di antara mereka?" Maka, Muawiyah mengiyakannya dan mengizinkannya.

Kaisar Romawi mengirim dua orang pilih-tandingnya. Salah seorang darinya berbadan tinggi dan besar sekali sehingga seakan-akan ia ibarat pohon besar yang menjulang tinggi di hutan atau gedung tinggi nan kokoh. Adapun orang yang satu lagi adalah seorang yang begitu kuat, keras dan kokoh seakan-akan ia ibarat binatang liar yang buas. Sang kaisar menitipkan surat bersama keduanya, ia berkata dalam suratnya, "Apakah di kerajaanmu ada yang menandingi kedua orang ini, tingginya dan kuatnya?."

Muawiyah lalu berkata kepada 'Amr ibn al-'Aash, "Adapun orang yang berbadan tinggi, aku telah menemukan orang yang sepertinya bahkan lebih darinya.ia Qais ibn Sa'd ibn 'Ubadah. Adapun orang yang kuat, maka aku membutuhkan pendapatmu."


'Amr berkata, "Di sana ada dua orang untuk urusan ini, hanya saja keduanya jauh darimu. Mereka adalah Muhammad ibn al-Hanafiyyah dan Abdullah ibn az-Zubair."


"Sesungguhnya Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidaklah jauh dari kita," kata Muawiyyah.
"Akan tetapi apakah engkau mengira ia akan ridla bersama kebesaran kemuliaannya dan ketinggian kedudukannya untuk mengalahkan kekuatan orang dari Romawi ini dengan ditonton manusia,?" tanya 'Amr.
Muawiyah berkata, "Sesungguhnya ia akan melakukan hal itu dan lebih banyak dari itu, apabila ia menemukan izzah bagi Islam padanya." Kemudian Muawiyah memanggil keduanya, Qais ibn Sa'd dan Muhammad ibn al-Hanafiyyah.

Ketika majelis telah dimulai, Qais ibn Sa'd berdiri dan melepaskan sirwal-sirwal-nya (celana yang lebar) lalu melemparkannya kepada al-'Ilj** dari Romawi dan menyuruhnya untuk memakainya. Ia pun memakainya.maka, sirwalnya menutupi sampai di atas kedua dadanya sehingga orang-orang ketawa dibuatnya.

Adapun Muhammad ibn al-Hanafiyyah, ia berkata kepada penterjemahnya, "Katakan kepada orang Romawi ini.apabila ia mau, ia duduk dan aku berdiri, lalu ia memberikan tangannya kepadaku. Entah aku yang akan mendirikannya atau dia yang mendudukkanku.Dan bila ia mau, dia yang berdiri dan aku yang duduk." Orang Romawi tadi memilih duduk.

Maka Muhammad memegang tangannya, dan (menariknya) berdiri.dan orang Romawi tersebut tidak mampu (menariknya) duduk.

Kesombongan pun merayap dalam dada orang Romawi, ia memilih berdiri dan Muhammad duduk. Muhammad lalu memegang tangannya dan menariknya dengan satu hentakan hampir-hampir melepaskan lengannya dari pundaknya.dan mendudukkannya di tanah.


Kedua orang kafir Romawi tersebut kembali kepada rajanya dalam keadaan kalah dan terhina.

Hari-hari berputar lagi.
Muawiyah dan putranya Yazid serta Marwan ibn al-Hakam telah berpindah ke rahmatullah.Kepemimpinan Bani Umayyah berpindah kepada Abdul Malik ibn Marwan, ia mengumumkan dirinya sebagai khalifah muslimin dan penduduk Syam membaiatnya.


Sementara penduduk Hijaz dan Irak telah membaiat Abdullah ibn az-Zubair***.
Setiap dari keduanya mulai menyeru orang yang belum membaiatnya untuk membaiatnya.dan mendakwakan kepada manusia bahwa ia yang paling berhak dengan kekhalifahan daripada sahabatnya. Barisan kaum muslimin pun terpecah lagi.  Di sinilah Abdullah ibn az-Zubair meminta kepada Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk membaiatnya sebagaimana penduduk Hijaz telah membaiatnya. Hanya saja Ibn al-Hanafiyyah memahami betul bahwa baiat akan menjadikan hak-hak yang banyak di lehernya bagi orang yang ia baiat. Di antaranya adalah menghunus pedang untuk menolongnya dan memerangi orang-orang yang menyelisihinya. Dan para penyelisihnya hanyalah orang-orang muslim yang telah berijtihad, lalu membaiat orang yang tidak ia bai'at. Tidaklah orang yang berakal sempurna lupa akan kejadian di hari "Shiffin."

Tahun yang panjang belum mampu menghapus suara yang menggelegar dari kedua pendengarannya, kuat dan penuh kesedihan, dan suara itu memanggil dari belakangnya, "Wahai kaum Muslimin.(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada) Allah.wahai kaum Muslimin.

Siapakah yang akan (melindungi) para wanita dan anak-anak?.
Siapakah yang akan menjaga agama dan kehormatan?. Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami."..


Ya, ia belum lupa sedikitpun dari itu semua. Maka, ia berkata kepada Abdullah ibn az-Zubair, "Sesungguhnya engkau mengetahui dengan sebenar-benarnya, bahwa dalam perkara ini aku tidak memiliki tujuan dan tidak pula permintaan.hanyalah aku ini seseorang dari kaum muslimin. Apabila kalimat (suara) mereka berkumpul kepadamu atau kepada Abdul Malik, maka aku akan membaiat orang yang suara mereka berkumpul padanya. Adapun sekarang, aku tidak membaiatmu.juga tidak membaiatnya."

Mulailah Abdullah mempergaulinya dan berlemah lembut kepadanya dalam satu kesempatan. Dan dalam kesempatan yang lain ia berpaling darinya dan bersikap keras kepadanya. Hanya saja, Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak berselang lama hingga banyak orang yang bergabung dengannya ketika mereka mengikuti pendapatnya. Dan mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepadanya, hingga jumlah mereka sampai tujuh ribu orang dari orang-orang yang memilih untuk memisahkan diri dari fitnah. Dan mereka enggan untuk menjadikan diri mereka kayu bakar bagi apinya yang menyala.

Setiap kalii pengikut Ibn al-Hanafiyyah bertambah jumlahnya, bertambahlah kemarahan Ibn az-Zubair kepadanya dan ia terus mendesaknya untuk membaiatnya.Ketika Ibn az-Zubair telah putus asa, ia memerintahkannya dan orang-orang yang bersamanya dari Bani Hasyim dan yang lainnya untuk menetap di Syi'b (celah di antara dua bukit) mereka di Mekkah, dan ia menempatkan mata-mata untuk mengawasi mereka.
Kemudian ia berkata kepada mereka, "Demi Allah, sungguh-sungguh kalian harus membaiatku atau benar-benar aku akan membakar kalian dengan api.


Kemudian ia menahan mereka di rumah-rumahnya dan mengumpulkan kayu bakar untuk mereka, lalu mengelilingi rumah-rumah dengannya hingga sampai ujung tembok. Sehingga seandainya ada satu kayu bakar menyala niscaya akan membakar semuanya.

Di saat itulah, sekelompok dari para pengikut Ibn al-Hanafiyyah berdiri kepadanya dan berkata, "Biarkan kami membunuh Ibn az-Zubair dan menenangkan manusia dari (perbuatan)nya."
Ia berkata, "Apakah kita akan menyalakan api fitnah dengan tangan-tangan kita yang karenanya kita telah menyepi (memisahkan diri) dan kita membunuh seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan anak-anak dari sahabatnya?! Tidak, demi Allah kita tidak akan melakukan sedikitpun apa yang manjadikan Allah dan Rasul-Nya murka."


Berita tentang apa yang diderita oleh Muhammad ibn al-Hanafiyah dan para pengikutnya dari kekerasan Abdullah ibn az-Zubair sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan.

Ia melihat kesempatan emas untuk menjadikan mereka condong kepadanya.
Ia lantas mengirim surat bersama seorang utusannya, yang seandainya ia menulisnya untuk salah seorang anaknya tentunya 'dialek'nya tidak akan sehalus itu dan redaksinya tidak selembut itu.
Dan di antara isi suratnya adalah, "Telah sampai berita kepadaku bahwa Ibn az-Zubair telah mempersempit gerakmu dan orang-orang yang bersamamu.ia memutus tali persaudaraanmu.dan merendahkan hakmu. Ini negeri Syam terbuka di depanmu, siap menjemputmu dan orang-orang yang bersamamu dengan penuh kelapangan dan keluasan.singgahlah di sana dimana engkau mau, niscaya engkau akan menemukan penduduknya mengucapkan selamat kepadamu dan para tetangga yang mencintaimu.dan engkau akan mendapatkan kami orang-orang yang memahami hakmu.menghormati keutamaanmu.dan menyambung tali persaudaraanmu Insya Allah.

Muhammad ibn al-Hanafiyah dan orang-orang yang bersamanya berjalan menuju negeri Syam.sesampainya di "Ublah", mereka menetap di sana. Penduduknya menempatkan mereka di tempat yang paling mulia dan menjamu mereka dengan baik sebaga tetangga.

Mereka mencitai Muhammad ibn al-Hanafiyah dan mengagungkannya, karena apa yang mereka lihat dari kedalaman (ketekunan) ibadahnya dan kejujuran zuhudnya.
Ia mulai menyuruh mereka kepada yang ma'ruf dan mencegah mereka dari yang munkar. Ia mendirikan syi'ar-syi'ar di antara mereka dan mengadakan ishlah dalam perselisihan mereka. Ia tidak membiarkan seorang pun dari manusia mendzalimi orang lain.

Di saat berita itu sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan, hal tersebut memberatkan hatinya. Ia kemudian bermusyawarah dengan orang-orang terdekatnya. Mereka berkata kepadanya, "Kami tidak berpendapat agar engkau memperbolehkannya tinggal di kerajaanmu. Sedangkan sirahnya sebagaimana yang engkau ketahui entah ia membaiatmu atau ia kembali ke tempatnya semula."

Maka, Abdul Malik menulis surat untuknya dan berkata, "Sesungguhnya engkau telah mendatangi negeriku dan engkau singgah di salah satu ujungnya. Dan ini peperangan yang terjadi antara diriku dan Abdullah ibn az-Zubair. Dan engkau adalah seseorang yang memiliki tempat dan nama di antara kaum Muslimin. Dan aku melihat agar engkau tidak tinggal di negeriku kecuali bila engkau membaiatku. Bila engkau membaiatku, aku akan memberimu seratus kapal yang datang kepadaku dari "al-Qalzom" kemarin, ambillah beserta apa yang ada padanya. Bersama itu engkau berhak atas satu juta dirham ditambah dengan jumlah yang kamu tentukan sendiri untuk dirimu, anak-anakmu, kerabatmu, budak-budakmu dan orang-orang yang bersamamu. Bila engkau menolaknya maka pergilah dariku ke tempat yang aku tidak memiliki kekuasaan atasnya."

Muhammad ibn al-Hanafiyah kemudian menulis balasan, "Dari Muhammad ibn Ali, kepada Abdul Malik ibn Marwan. Assalamu 'alaika.Sesungguhnya aku memuji kepada Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia, (aku berterima kasih) kepadamu. Amma ba'du.   Barangkali engkau menjadi ketakutan terhadapku. Dan aku mengira engkau adalah orang yang paham terhadap hakikat sikapku dalam perkara ini. Aku telah singgah di Mekkah, maka Abdullah ibn az-Zubair menginginkan aku untuk membaiatnya, dan tatkala aku menolaknya ia pun berbuat jahat terhadap pertentanganku. Kemudian engkau menulis surat kepadaku, memanggilku untuk tinggal di negeri Syam, lalu aku singgah di sebuah tempat di ujung tanahmu di karenakan harganya murah dan jauh dari markaz (pusat) pemerintahanmu. Kemudian engkau menulis kepadaku apa yang telah engkau tuliskan. Dan kami Insya Allah akan meninggalkanmu."

Muhammad ibn al-Hanafiyyah beserta orang-orangnya dan kelurganya meninggalkan negeri Syam, dan setiap kali ia singgah di suatu tempat ia pun di usir darinya dan diperintahkan agar pergi darinya. Dan seakan-akan kesusahan belum cukup atasnya, hingga Allah berkehendak mengujinya dengan kesusahan lain yang lebih besar pengaruhnya dan lebih berat tekanannya.

Yang demikian itu, bahwa sekelompok dari pengikutnya dari kalangan orang-orang yang hatinya sakit dan yang lainnya dari kalangan orang-orang lalai. Mereka mulai berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam telah menitipkan di hati Ali dan keluarganya banyak sekali rahasia-rahasia ilmu, qaidah-qaidah agama dan perbendaharaan syariat. Beliau telah mengkhususkan Ahlul Bait dengan apa yang orang lain tidak mengetahuinya."

Orang yang 'alim, beramal dan mahir ini memahami betul apa yang diusung oleh ucapan ini dari penyimpangan, serta bahaya-bahaya yang mungkin diseretnya atas Islam dan Muslimin. Ia pun mengumpulkan manusia dan berdiri mengkhutbahi mereka.  Ia memuji Allah dan menyanjungnya dan bershalawat atas Nabi-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, kemudian berkata, "Sebagian orang beranggapan bahwa kami segenap Ahlul Bait mempunyai ilmu yang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan kami dengannya, dan tidak memberitahukan kepada siapapun selain kami. Dan kami -demi Allah- tidaklah mewarisi dari Rasulullah melainkan apa yang ada di antara dua lembaran ini, (dan ia menunjuk ke arah mushaf). Dan sesungguhnya barangsiapa yang beranggapan bahwa kami mempunyai sesuatu yang kami baca selain kitab Allah, sungguh ia telah berdusta."

Adalah sebagian pengikutnya mengucapkan salam kepadanya, mereka berkata, "Assalamu'alaika wahai Mahdi."
Ia menjawab, "Ya, aku adalah Mahdi (yang mendapat petunjuk) kepada kebaikan.dan kalian adalah para Mahdi kepada kebaikan Insya Allah, akan tetapi apabila salah seorang dari kalian mengucapkan salam kepadaku, maka hendaklah menyalamiku dengan namaku. Hendaklah ia berkata, "Assalamu'alaika ya Muhammad."

Tidak berlangsung lama kebingungan Muhammad ibn al-Hanafiyyah tentang tempat yang akan ia tinggali beserta orang-orang yang bersamanya.  Allah telah berkehendak agar al-Hajjaj ibn Yusuf ats-Tsaqofi menumpas Abdullah ibn az-Zubair dan agar manusia seluruhnya membaiat Abdul Malik ibn Marwan.

Maka, tidaklah yang ia lakukan kecuali menulis surat kepada Abdul Malik, ia berkata, "Kepada Abdul Malik ibn Marwan, Amirul Mukminin, dari Muhammad ibn Ali. Amma ba'du.Sesungguhnya setelah aku melihat perkara ini kembali kepadamu, dan manusia membaiatmu. Maka, aku seperti orang dari mereka. Aku membaiatmu untuk walimu di Hijaz. Aku mengirimkan baiatku ini secara tertulis. Wassalamu'alaika."

Ketika Abdul Malik membacakan surat tersebut kepada para sahabatnya, mereka berkata, "Seandainya ia ingin memecah tongkat ketaatan (baca: keluar dari ketaatan) dan membikin perpecahan dalam perkara ini, niscaya ia mampu melakukannya, dan niscaya engkau tidak memiliki jalan atasnya.Maka tulislah kepadanya dengan perjanjian dan keamanan serta perjanjian Allah dan Rasul-Nya agar ia tidak diusir dan diusik, ia dan para sahabatnya."

Abdul Malik kemudian menulis hal tersebut kepadanya. Hanya saja Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak hidup lama setelah itu. Allah telah memilihnya untuk berada di sisi-Nya dalam keadaan ridla dan diridlai.

Semoga Allah memberikan cahaya kepada Muhammad ibn al-Hanafiyah di kuburnya, dan semoga Allah mengindahkan ruhnya di surga.ia termasuk orang yang tidak menginginkan kerusakan di bumi tidak pula ketinggian di antara manusia.

Sumber: - Hilyah al-Auliyaa oleh Abu Nu'aim, III: 174, - Tahdziib at-Tahdziib, IX:354, - Shifah ash-Shafwah oleh Ibnul Jauzi (cet. Halab), II: 77-79, - Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa'd, V:91, - Al-Waafi bi al-Wafayaat (terjemah): 1583, - Wafayaat al-A'yaan oleh Ibnu Kholaqan, IV:169, - Al-Kamil, III:391 dan IV:250 pada kejadian-kejadian tahun 66 H, - Syadzarat adz-Dzahab, I:89,- Tahdziib al-Asma Wa al-Lughaat, I:88-89, - Al-Bad'u Wa at-Tarikh, V:75-76, - Al-Ma'arif oleh Ibnu Qutaibah: 123, - Al-'Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdi Rabbih, tahqiq al-'Urayyan, Juz II,III,V dan VII

Kompilasi Ulang dari www.ahlulhadiits.wordpress.com Online melalui www.alquran-sunnah.com

Kamis, 20 Oktober 2011

Umar Bin Abdul Aziz dan Putranya Abdul Malik

source : zigzagwallpaper.com
Disalin dari catatan  Abu Arini Ahmad

Belum lagi tabi'in yang agung amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz membersihkan tangannya dari mengebumikan jenazah khalifah sebelumnya Sulaiman bin Abdul Malik. Tiba-tiba beliau mendengar suara gemuruh tanah di sekitarnya, lalu beliau berkata : "Ada apa ini?" Mereka menjawab : "Ini adalah kendaraan-kendaraan khilafah wahai amirul mukminin, telah dipersiapkan agar anda sudi menaikinya." Beliau memandang dengan sebelah matanya dan berkata dengan terputus-putus karena lelahnya dan rasa kantuknya setelah semalam tidak tidur : "Apa urusanku dengan kendaraan ini?! Jauhkan ia dariku, semoga Allah memberkahi kalian. Dekatkan saja bighal milikku, karena itu cukup bagiku."

Belum sempat beliau meluruskan posisi punggungnya di atas bighal, tiba-tiba datanglah kepala prajurit yang berjalan mengawal di depan beliau beserta beberapa pasukan yang berjalan berbaris di kanan dan kiri beliau, sedang di tangan mereka menggenggam tombak yang berkilau.

Khalifah berkata kepada kepala prajurit tersebut : "Aku tidak membutuhkan anda dan juga mereka. Aku hanyalah orang biasa dari kaum muslimin, berjalan sebagaimana mereka berjalan. Kemudian beliau berjalan dan orang-orang pun berjalan hingga sampai ke mesjid, lalu dikumandangkanlah adzan serta seruan "shalat jama'ah... shalat jama'ah..." Lalu manusia memenuhi setiap sisi di dalam masjid. Setelah manusia berkumpul, Umar bin Abdul Aziz naik mimbar dan berkhutbah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya lalu mengucapkan shalawat atas Nabi kemudian berkata :

"Wahai manusia, sesungguhnya aku telah mendapat musibah dengan urusan ini (yakni diangkatnya beliau sebagai khalifah), tanpa pertimbangan dariku, tanpa aku memintanya, tanpa musyawarah antara kaum muslimin, maka aku lepaskan bai'at yang melilit leher kalian dariku... lalu silakan kalian memilih pemimpin lagi yang kalian ridhai."

Maka manusia berteriak dengan satu suara : "Kami memilih anda wahai amirul mukminin dan kami ridha kepada anda. Kami serahkan urusan kami dengan harapan keberuntungan dan keberkahan."
Ketika beliau melihat suara-suara mulai tenang dan hatipun mulai tertata, maka beliau bertahmid kepada Allah untuk kesekian kalinya dan mengucapkan shalawat atas Nabi Muhammad sebagai hamba dan utusan-Nya.


Beliau menganjurkan manusia untuk senantiasa bertakwa kepada Allah, zuhud di dunia, berharap kenikmatan akhirat serta mengingatkan kepada mereka tentang kematian. Hingga sanggup melunakkan hati yang keras dan meneteskan air mata orang yang sadar akan dosanya. Begitulah nasihat yang keluar dari hati akan sampai di hati orang yang mendengarnya.

Beliau mengeraskan suara agar semua orang mendengarnya : "Wahai manusia, barangsiapa yang taat kepada Allah maka wajib untuk ditaati dan barangsiapa yang memerintahkan maksiat maka tiada ketaatan kepadanya siapapun dia. Wahai manusia, taatilah aku selagi aku mentaati Allah dalam memerintah kalian. Namun jika aku bermaksiat kepada Allah, maka tiada kewajiban sedikitpun bagi kalian untuk mentaatiku."

Selanjutnya beliau turun dari mimbar dan beranjak menuju rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya. Beliau ingin sekali istirahat barang sejenak setelah menguras tenaganya karena banyaknya kesibukan pasca wafatnya khalifah sebelumnya.

Akan tetapi, belum lagi lurus pinggangnya di tempat tidur, tiba-tiba datanglah putra beliau yang bernama Abdul Malik -ketika itu dia berumur 17 tahun- dia berkata :

Abdul Malik : "Apa yang ingin anda lakukan wahai amirul mukminin?"

Umar bin Abdul Aziz : "Wahai anakku, aku ingin memejamkan mata barang sejenak karena sudah tak ada lagi tenaga tersisa."

Abdul Malik : "Apakah anda akan tidur sebelum mengembalikan hak orang-orang yang dizhalimi wahai amirul mukminin?"

Umar bin Abdul Aziz : " Wahai anakku, aku telah begadang semalaman untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman, nanti jika telah datang waktu dhuhur aku akan shalat bersama manusia dan aku akan kembalikan hak orang-orang yang dizhalimi kepada pemiliknya, insya Allah."

Abdul Malik : "Siapa yang menjamin bahwa anda masih hidup hingga datang waktu dhuhur wahai amirul mukminin?"


Kata-kata ini telah menggugah semangat Umar, hilanglah rasa kantuknya, kembalilah semua kekuatan dan tekad pada jasadnya yang telah lelah, beliau berkata : "Mendekatlah engkau nak!" lalu mendekatlah putra beliau kemudian beliau merangkul dan mencium keningnya sembari berkata : "Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu melaksanakan agamaku."

Kemudian beliau bangun dan memerintahkan untuk menyeru kepada manusia : "Barangsiapa yang merasa dizhalimi hendaklah segera melapor."

***

Siapakah gerangan Abdul Malik itu? Orang-orang berkata tentang beliau ini : "Sesungguhnya dialah yang memberikan motivasi kepada ayahnya hingga menjadi seorang ahli ibadah dan dia pula yang membimbing ayahnya menempuh jalan zuhud." Maka marilah kita menelusuri kisah pemuda yang shalih ini dari awalnya.

Umar bin Abdul Aziz memiliki 15 anak, tiga diantaranya adalah wanita. Mereka seluruhnya memiliki prestasi dalam hal takwa dan tingkat keshalihannya. Akan tetapi Abdul Malik bagaikan inti kalung di antara saudara-saudaranya, atau seperti bintang di tengah-tengah mereka. Beliau adalah orang yang sopan, mahir dan cerdas, umurnya masih muda namun akalnya begitu dewasa.

Beliau tumbuh dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala sejak memasuki usia remaja. Beliau adalah orang yang paling mirip dengan Abdullah bin Umar di antara seluruh keturunan Al-Khathab. Khususnya dalam hal ketakwaan, rasa takutnya bermaksiat dan taqarrubnya kepada Allah dengan ketaatan.

***

Putra paman beliau yang bernama 'Ashim bercerita :

"Aku tiba di Damaskus dan menginap di rumah putra pamanku Abdul Malik yang ketika itu masih bujang. Kami shalat Isya' dan setelah itu masing-masing masuk ke kamar tidurnya. Lalu Abdul Malik mendekati lampu dan memadamkannya. Kamipun telah merasa kantuk. Ketika aku bangun di tengah malam dan ternyata Abdul Malik tengah berdiri shalat dalam kegelapan, sedangkan ia mambaca firman Allah subhanahu wa ta'ala :


[yang artinya]
"Maka bagaiman pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun. Kemudian datang kepada mereka adzab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya."
(QS. Asy-Syu'ara' : 205-207).

Kudengar dia mengulang-ulang ayat tersebut sembari menahan tangisnya dan akhirnya keluar pula air matanya yang tak mampu dia tahan. Setiap kali sampai di ayat tersebut dia mengulanginya sampai-sampai aku berkata dalam hati : "Tangisan itu bisa menyebabkan kematiannya." Maka tatkala aku melihatnya aku mengatakan : "Laa ilaaha illallah wal hamdulillah" seperti yang biasa diucapkan orang tatkala terjaga dari tidurnya, dengan harapan agar ia menghentikan tangisnya begitu mendengar ada orang yang bangun. Tatkala dia mendengarku maka ia pun diam dan aku tidak mendengar lagi isak tangisnya.

***

Pemuda keturunan Umar ini berguru kepada ulama-ulama senior pada zamannya hingga begitu akrab dengan kitabullah, mengambil bagian yang banyak dari hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallamdan mendalami ilmu-ilmu agama. Hingga pada gilirannya beliau masuk dalam kelompok pertama dari fuqaha' penduduk Syam pada zamannya kendati masih muda belia.

Telah diriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah mengumpulkan para penghafal Kitabullah dan para fuqaha' di Syam lalu berkata : "Sesungguhnya aku mengundang kalian untuk suatu urusan kezhaliman yang terjadi dalam keluargaku (yakni pada masa Khalifah Sulaiman), bagaimana pendapat kalian?"

Mereka menjawab : "Wahai amirul mukminin, sesungguhnya hal itu bukanlah tanggung jawab anda, dan dosanya ditanggung oleh orang yang merampas hak tersebut." Namun jawaban tersebut belum bisa memuaskan hati Umar. Kemudian salah seorang diantara mereka yang tidak sependapat dengan pendapat tersebut berkata : "Undanglah Abdul Malik wahai amirul mukminin, karena beliau layak untuk anda undang karena ilmu, kefaqihan dan kecerdasanya."
Tatkala putra Umar, yakni Abdul Malik masuk, amirul mukminin bertanya : "Bagaimana pendapatmu tentang harta yang diambil oleh anak-anak paman kita (Sulaiman) secara zhalim? Padahal oarng-orang yang memiliki hak tersebut telah datang dan menuntutnya, sementara kita mengetahui hak mereka?"

Abdul Malik berkata : "Menurut hemat saya, hendaknya anda mengembalikan barang tersebut kepada yang memiliki selagi anda mengetahui urusannya, karena jika anda tidak melakukannya maka anda telah berserikat dengan orang yang mengambil hak dengan cara yang zhalim." Menjadi teranglah hati Umar, menjadi tenanglah jiwa beliau dan hilanglah rasa gelisah yag menyelimuti hatinya.


Pemuda keturunan Umar ini lebih memilih hidup di bumi ribath (perbatasan untuk menjaga serangan musuh) dan menetap di salah satu desa yang dekat dengannya daripada tinggal di Syam. Beliau menuju kesana dan beliau tinggalkan Damaskus yang penuh dengan taman yang subur, pepohonan yang rindang dan sungai-sungai yang indah.

Ayahanda beliau -kendati telah mengetahui betul akan keshalihan dan ketakwaannya- masih merasa khawatir jika anaknya tergelincir oleh tipu daya syetan, amat mendambakan jika anaknya senantiasa menjadi pemuda yang tegar. Beliau selalu ingin mengetahui urusannya selagi mampu mengetahuinya. Beliau sama sekali tidak meremehkan urusan ini.

***

Maimun bin Mahran, menteri Umar bin Abdul Aziz sekaligus penasihat yang membantu beliau, bercerita :

Aku menemui Umar bin Abdul Aziz sedangkan aku lihat beliau tengah menulis surat yang ditujukan untuk putra beliau Abdul Malik. Beliau bermaksud menasehati putranya, memberikan pengarahan, peringatan dan kabar gembira. Di antara yang beliau tulis adalah :

"Amma ba'du, sesungguhnya orang yang paling berhak menjaga dan memahami perkataanku adalah engkau. Dan sesungguhnya Allat ta'ala -alhamdulillah- telah mengaruniakan kebaikan kepada kita sejak kecil hingga sekarang. Maka ingatlah wahai anakku akan karunia Allah kepadamu dan juga kepada kedua orang tuamu. Jauhilah olehmu sifat takabur dan merasa besar, karena hal itu adalah perbuatan syetan, sedangkan syetan adalaha musuh yang nyata bagi orang-orang beriman."

"Ketahuilah, sesungguhnya aku mengirim surat ini untukmu bukan karena aku mendengar suatu berita tentangmu, aku tidak mendengar berita tentangmu kecuali yang baik-baik. Hanya saja telah sampai kepadaku tentang kebanggaanmu terhadap dirimu. Seandainya rasa ujub ini muncul pada dirimu hingga menyebabkan aku tidak menyukainya, maka engkau akan melihat sesuatu yang tidak kau sukai dariku."

Maimun berkata : "Kemudian Umar menoleh kepadaku dan berkata : "Wahai Maimun, sesungguhnya dalam pandangan mataku Abdul Malik begitu baik, namun aku khawatir jika kecintaanku kepadanya mengalahkan pengetahuanku terhadapnya, sehingga aku menempatkan diriku seperti orang tua yang buta, pura-pura tidak tahu terhadap kekurangan anaknya."

Maka datanglah kepadanya, selidikilah keadaannya dan lihatlah apakah engkau melihat tanda-tanda kesombongan dan kebanggaan pada dirinya? Karena dia masih terlalu muda, belum tentu aman dari tipu daya syetan."


Maimun berkata : "Maka aku melakukan perjalanan menemui Abdul Malik hingga bertemu dengannya. Aku meminta ijin lalu masuk. Ternya dia adalah seorang pemuda yang masih belia, pemuda yang gagah, tampan dan tawadhu', dia duduk di atas alas dari rambut. Dia mendekat kepadaku kemudian berkata :

Abdul Malik : "Aku telah mendengar ayah menyebut-nyebut kebaikan anda, saya berharap agar Allah memberikan manfaat karena anda."

Maimun : "Bagaimanakah keadaan anda hari ini?"

Abdul Malik : "Mendapatkan keyakinan dan nikmat dari Allah subhanahu wa ta'ala. Hanya saja aku takut jika terpedaya oleh sikap husnudhan ayah kepadaku, padahal saya belum mencapai keutamaan sebagaimana yang beliau duga. Aku khawatir jika kecintaan beliau kepadaku telah mengalahkan pengetahuan beliau tentang diriku, sehingga hal itu menjadi bencana bagiku."

Maimun : (aku sungguh heran bagaimana keduanya bisa sepakat pemikirannya) "Beritahukanlah kepadaku, darimana engkau mencari nafkah?"

Abdul Malik : "Dari hasil bumi yang telah aku beli dari orang yang mendapatkan warisan dari ayahnya, aku membayarnya dengan uang yang tidak ada syubhat di dalamnya. Dengannya aku dapat mencukupi kebutuhanku."

Maimun : "Apa yang kau makan setiap harinya?"

Abdul Malik : "Sehari daging, sehari adas dan sehari makan cuka dan zaitun, dengan ini cukup untuk hidup."

Maimun : "Apakah engkau merasa bangga dengan keadaanmu?"


Abdul Malik : "Begitulah pada awalnya, namun manakala ayah menasehatiku dan memberikan pengertian kepadaku dan mengingatkan akan kekuranganku, maka Allah memberikan manfaat kepadaku dengannya, semoga Allah membalas kebaikan ayah dengan balasan yang baik."

Kemudian aku (Maimun) duduk-duduk beberapa saat sambil berbincang-bincang dengannya, maka aku tidak melihat pemuda yang lebih tampan, lebih berakal, lebih bagus adabnya darinya kendati masih sangat muda dan sedikit pengalamannya.

Ketika waktu telah menjelang sore, seseorang mendatanginya dan berkata :"Semoga Allah menjadikan anda sejahtera, kami telah mengosongkannya."

Dia terdiam, lalu aku bertanya :

Maimun : "Apa maksud dia berkata, "kami telah mengosongkannya?"

Abdul Malik : "Kolam mandi"

Maimun : "Ada apa dengan kolam mandi itu?"

Abdul Malik : "Orang-orang mengosongkannya untukku"

Maimun : "Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang besar, hingga aku mendengar berita ini"

Abdul Malik : (dengan rasa takut dan membaca istirja'[inna lillahi wa inna ilaihi raji'un]) Lalu berkata : "Dalam hal mana wahai paman?"

Maimun : "Apakah kolam tersebut milikmu?"

Abdul Malik : "Bukan!"

Maimun : "Lantas atas dasar apa engkau menyuruh manusia keluar darinya kemudian engkau memakainya? Seakan engkau ingin mengunggulkan dirimu di atas mereka dan engkau menjadikan kehormatanmu di atas kehormatan mereka? Engkau juga mengganggu pemilik kolam tersebut untuk memenuhi kebutuhan hariannya dan engkau membuat orang-orang kecewa karena harus pulang lantaran tak boleh masuk."


Abdul Malik : "Tentang pemilik kolam, dia telah merelakan dan memberikan haknya kepadaku."

Maimun : "itulah pelayanan yang dengannya engkau dapat tercemari oleh takabur. Apa yang menghalangimu untuk masuk bersama manusia, sedangkan engkau seperti mereka juga?"

Abdul Malik : " yang menghalangiku adalah, sebagian orang-orang miskin masuk kolam tanpa menggunakan penutup, maka aku tidak suka melihat aurat mereka. Dan aku tidak bisa pula memaksa mereka untuk menggunakan penutup karena mereka akan menganggap saya menggunakan kekuasaan saya yang mana saya memohon kepada Allah agar membersihkan kami dari tendensi semacam itu. Maka berilah nasihat kepadaku semoga anda mendapatkan rahmat dari Allah, sehingga saya bisa mengambil manfaatnya. Dan berilah masukan agar saya bisa memecahkan persoalan ini."

Maimun : "Tunggulah sampai orang-orang keluar semua dari kolam di malam hari dan mereka telah kembali ke rumah mereka masing-masing, kemudian barulah kamu masuk kolam."

Abdul Malik : "Baik, aku janji tidak akan masuk ke dalamnya di siang hari setelah hari ini." Kemudian dia diam sejenak seakan memikirkan sesuatu. Lalu dia mengangkat kepalanya dan berkata : "Saya mohon kepada anda agar tidak menyampaikan kabar ini kepada ayah, karena aku khawatir dia akan marah kepadaku. Aku takut jika sewaktu-waktu ajal tiba sedangkan beliau dalam keadaan tidak ridha kepadaku."

Maimun : "Jika amirul mukminin bertanya apakah aku melihat suatu kejanggalan pada dirimu, maka apakah engkau rela jika aku harus berdusta kepada beliau?"

Dia menjawab : "Tentu saja tidak, na'udzu billah, akan tetapi anda bisa berkata : "aku memang melihat sesuatu darinya, lalu aku menasehatinya dan memberikan gambaran  bahwa urusannya itu besar, kemudian dia mau memperbaiki dirinya."
Karena ayah tidak akan meminta anda untuk membuka rahasia ini selagi anda tidak menceritakan kepada beliau. Dan Allah subhanahu wa ta'ala telah menjaga beliau dari mengorek sesuatu yang menjadi rahasia."


Maimun berkata : "aku belum pernah melihat seorang anak dan orang tua semisal keduanya, semoga Allah merahmati keduanya."

Semoga Allah meridhai khalifah rasyidin yang kelima Umar bin Abdul Aziz, semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada beliau di kuburnya dan juga Abdul Malik putra dan jantung hatinya. Semoga keselamatan menyertai mereka di hari perjumpaan dengan Ar-Rafiqul A'la, keselamatan menyertai keduanya di hari kebangkitan bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.

***
Untuk menambah keterangan tentang biografi Umar bin Abdul Aziz lihatlah :
  1. Siirah Umar bin Abdul Aziz Ibnu Al-Jauzi.
  2. Siirah Umar bin Abdul Aziz Ibnu Abdil Hakim.
  3. Thabaqat Al-Kubra Ibnu Sa'ad jilid 1-8.
  4. Shifatu Ash-Shofwah Ibnu Al-Jauzi 2/113-126 dan pada halaman 127 dan seterusnya khusus biografi Abdul Malik.
  5. Hilyatu Al-Auliya' Al-Ashbahani 5/302-353, pada halaman 303 dan seterusnya terdapat biografi Abdul Malik secara khusus.
  6. Wafiyaat Al-A'yaan Ibnu Khulkan jilid 2-5.
  7. Tarikh Ath-Thabari (lihat daftar isi kitab tersebut pada jilid 10).
  8. Al Aqdu Al-Fariid Ibnu Abdi Rabb-ihi (lihat daftar isi kitab tersebut pada jilid 8)
  9. Al-Bayan wa At-Tabyiin oleh Al-Jahahizh (lihat daftar isi kitab tersebut pada jilid 1).
  10. Tarikh Madinatu Damsyik Ibnu Asakir 2/115-127.
  11. Tahdzib At-tahdzib Ibnu Hajar Al-Asqalani 7/475-478.

Disalin dari buku :
"Mereka adalah para TABI'IN, kisah-kisah paling menakjubkan yang belum tertandingi hingga hari ini"

Penerbit :
At-Tibyan

Judul Asli :
Shuwaru min Hayati At-Tabi'in

Penulis : DR. Abdurrahman Ra'fat Basya



Hasan Al-Bashri


zaitun, source : menitijalansunnah.wordpress.com
Disalin dari catatan  Abu Arini Ahmad

Telah datang berita gembira kepada istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam Ummu Salamah, bahwa budaknya yang bernama Khairah telah melahirkan seorang bayi laki-laki. Ummul Mukmini hanyut dalam kegembiraa dan wajahnya berseri-seri.
Dia mengutus seseorang untuk membawa ibu dan bayinya ke rumah selama masa-masa pemulihan pasca melahirkan. Khairah adalah budak yang paling beliau sayangi dan beliau telah rindu menantikan kelahiran bayi pertama dari budaknya itu.

Tak lama setelah itu Khairah pun datang dengan bayi di gendongannya. Ketika Ummu Salamah memandangnya, beliau langsung menyukai bayi itu karena wajahnya yang tampan dan cerah, menarik hati siapapun yang memandangnya.

Ummu Salamah bertanya kepada budaknya : "Sudahkah engkau memberikan nama untuknya wahai Khairah?" Khairah menjawab : "Belum, aku ingin andalah yang memilihkan nama untuknya sesuka anda."

Ummu Salamah berkata : "Kita akan memberi nama yang diberkahi Allah subhanahu wa ta'ala yaitu Hasan." Lalu beliau mengangkat tangannya untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.

Kebahagiaan atas kelahiran Hasan itu tidak hanya dirasakan oleh keluarga Ummul Mukminin Ummu Salamah saja. Namun juga dirasakan oleh seisi rumah di Madinah, yaitu di rumah shahabat utama yang juga penulis wahyu Rasulullah, Zaid bin Tsabit. Sebab si ayah bayi, yakni Yasaar, adalah budak Zaid bin Tsabit yang paling disayangi dan diutamakan di antara budak yang lain.

Hasan bin Yassar (yang pada akhirnya lebih terkenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri) tumbuh di salah satu rumah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, besar di pangkuan salah satu istri beliau, yaitu Hindun binti Suhail yang lebih sering dipanggil dengan Ummu Salamah.

Adapun Ummu Salamah -kalau pembaca belum tahu- adalah seorang wanita Arab yang paling sempurna akalnya, paling banyak keutamaannya dan paling teguh pendiriannya. Beliau adalah istri yang paling luas pengetahuannya dan paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau meriwayatkan sebanyak 387 hadits. Beliau juga termasuk sedikit dari bilangan wanita di masa jahiliyyah yang mampu baca-tulis.

Hubungan bayi yang beruntung itu dengan Ummu Salamah tidak hanya sebatas itu. Lebih jauh lagi, karena seringkali ibunda beliau  Khairah, harus keluar rumah untuk mengurus kebutuhan Ummul Mukminin sehingga harus meninggalkan bayinya. Bila sang bayi menangis karena lapar, maka Ummul Mukminin meletakkan bayi itu di pangkuannya, lalu disusui supaya diam. Karena rasa cintanya terhadap bayi itu, Ummul Mukminin bisa mengeluarkan air susu yang kemudian diminum oleh si bayi hingga merasakan kenyang dan diam dari tangisnya. Dengan demikian kedudukan Ummu Salamah bagi Hasan Al-Bashri adalah sebagai ibu dalam dua sisi.. pertama karena Hasan Al-Bashri adalah seorang dari mukminin sedang Ummu Salamah adalah Ummul Mukminin. Kedua : Ummu Salamah adalah ibu susuan bagi beliau.
***

Anak ini meraih kesempatan emas untuk bergaul dengan istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sebab rumah-rumah mereka berdekatan sehingga ia bisa bermain dari satu rumah ke rumah yang lain. Sudah barang tentu akhlak beliau terwarnai oleh para penghuni rumah itu dan mendapatkan bimbingan mereka.

Seperti yang diceritakan oleh Hasan Al-Bashri sendiri, dia mengisi rumah Ummul Mukminin dengan ketangkasannya yang menyenangkan. Sering dia naik atap rumah lalu berpindah-pindah dengan lincahnya.

Hasan dibesarkan dalam suasana yang diterangi oleh cahaya nubuwah dan meneguk sumber air jernih (ilmu) yang tersedia di rumah ummahatul mukminin. Beliau juga berguru kepada shahabat-shahabat utama di Masjid Nabawi. Beliau meriwayatkan dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy'ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah dan lain-lain.

Meski demikian kekaguman yang paling menonjol jatuh kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Dia mengagumi keteguhan agamaya, ketekunan ibadahnya, kezuhudannya terhadap dunia, kefasihan lidahnya, hikmah-hikmahnya yang berkesan di hatinya, kemantapan tutur katanya dan nasihat-nasihatnya yang menggetarkan hati. Sehingga beliau berusaha berakhlak dengannya dalam hal takwa dan ibadah serta mengikuti jejaknya dalam memberikan keterangan dan kefasihan bahasanya.

Menginjak usia 14 tahun, ketika memasuki usia remaja, beliau berpindah bersama kedua orang tuanya ke Bashrah dan menetap disana. Dari sinilah muncul julukan Al-Bashri, yang di nisbahkan pada kota Bashrah. Lalu keutamaan beliau mulai dikenal orang-orang Bashrah.
***

Di saat Hasan Al-Bashri menjadi imam, kota Bashrah merupakan benteng Islam yang terbesar dalam bidang ilmu pegetahuan. Masjidnya yang agung penuh dengan para shahabat dan tabi'in yang hijrah ke sana dan halaqah-halaqah keilmuan dengan beraneka ragam dan coraknya memakmurkan masjid-masjid dan suraunya.

Hasan Al-Bashri tinggal di Masjid itu dan menekuni halaqah Abdullah bin Abbas Habru Umati Muhammad (Ustadznya umat Muhammad). Dia mengambil pelajaran tafsir, hadits, qira'ah, fiqh, adab, bahasa dan sebagainya. Hingga beliau menjadi seorang ulama besar dan fuqaha yang terpercaya.

Maka, umat banyak menggali ilmunya, mendatangi majelisnya serta mendengarkan ceramahnya yang mampu melunakkan jiwa-jiwa yang keras dan mencucurkan air mata orang-orang yang terlanjur berbuat dosa. Banyak orang terpikat dengan hikmahnya yang mempesona.
Nama Hasan Al-Bashri telah menyebar di seluruh daerah dan terkenal di mana-mana.
Para gubernur dan khalifah menanyakan dan mengikuti beritanya.
***

Khalid bin Shafwan bercerita : "Aku bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik di daerah Hijaz, beliau berkata : "Wahai Khalid, ceritakan kepadaku tentang Hasan Al-Bashri, aku rasa engkau lebih mengenalnya dari yang lain."

Aku berkata : "Semoga Allah menjaga anda. Saya sebaik-baik orang yang akan memberikan keterangan tentang Hasan Al-Bashri wahai Amir, karena saya adalah tetangga sekaligus muridnya yang setia. Saya lebih mengenal beliau daripada orang Bashrah lainnya. "

Beliau berkata : "Ceritakan apa yang anda ketahui tentangnya." Saya berkata : "Beliau adalah orang yang hatinya sama dengan lahiriyahnya, perkataannya serasi dengan perbuatannya. Jika menyuruh perkara yang ma'ruf, maka beliau pula yang paling sanggup melakukanya. Jika melarang yang mungkar, beliau pula yang paling mampu meninggalkannya. Saya mendapatinya sebagai orang yang tidak memerlukan pemberian; dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan orang lian. Sebaliknya saya dapati betapa orang-orang memerlukan dan menginginkan apa yang dia miliki."

Maslamah berkata : "Cukup wahai Khalid, cukup. Bagaimana kaum itu bisa sesat, bila ada orang semisal dia di tengah-tengah mereka?"
***


Ketika Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi berkuasa di Irak, bertindaksewenang-wenang dan kejam di wilayahnya, Hasan Al-Bashri termasuk dalam bilangan sedikit orang yang berani menentang dan mengecam keras akan kezhaliman penguasa itu secara terang-terangan.

Suatu ketika Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di kota Wasit. Ketika pembangunan selesai diundangnya orang untuk melihat dan mendoakannya. Hasan Al-Bashri tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik di mana banyak orang sedang berkumpul. Dia tampil memberikan ceramah, mengingatkan mereka agar bersikap zuhud di dunia dan menganjurkan manusia untuk mengejar apa yang ada di sisi Allah subhanahu wa ta'ala.

Begitulah, ketika Hasan Al-Bashri tiba di tempat itu dan melihat begitu banyak orang-orang mengelilingi istana yang megah dan indah dengan halamannya yang luas, beliau berdiri untuk berkhutbah. Di antara yang beliau sampaikan adalah : "Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Fir'aun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun kemudian Allah membinasakan Fir'aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj sadar bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya..."

Beliau terus mengkritik dan mengecam hingga beberapa orang mengkhawatirkan keselamatannya dan memintanya berhenti : "Cukup wahai Abu Sa'id, cukup."

Namun Hasan Al-Bashri berkata : "Wahai saudaraku, Allah subhanahu wa ta'ala telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tak boleh menyembunyikannya."

Keesokan harinya Hajjaj menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya dengan memendam amarah dan berkata keras : "Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Bashrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorangpun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai pengecut!"

Hajjaj memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh polisi untuk menangkap Hasan Al-Bashri.


Dibawalah Hasan Al-Bashri, semua mata mengarah kepadanya dan hati mulai berdebar menunggu nasibnya. Begitu Hasan Al-Bashri melihat algojo dan pedangnya yang terhunus dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca sesuatu. Lalu berjalan mendekati Hajjaj dengan ketabahan seorang mukmin, kewibawaan seorang muslim dan kehormatan seorang da'i di jalan Allah.

Demi melihat ketegaran yang demikian, mental Hajjaj menjadi ciut. Terpengaruh oleh wibawa Hasan Al-Bashri, dia berkata ramah: "Silakan duduk di sini wahai Abu Sa'id, silakan..."

Seluruh yang hadir menjadi bengong dan terheran-heran melihat perilaku amirnya yang mempersilakan Hasan Al-Bashri duduk di kursinya. Sementara itu, dengan tenang dan penuh wibawa Hasan Al-Bashri duduk di tempat yang telaah disediakan. Hajjaj menoleh kepadanya lalu menanyakan berbagai masalah agama, dan dijawab Hasan Al-Bashri dengan jawaban-jawaban yang menarik dan mencerminkan pengetahuan yang luas.

Merasa cukup dengan pertanyaan yang diajukan, Hajjaj berkata: "Wahai Abu Sa'id, anda benar-benar tokoh ulama yang hebat." Dia semprotkan minyak ke jenggot Hasan Al-Bashri lalu diantarnya sampai dekat pintu.

Sesampainya di luar istana, pengawal yang mengikuti Hasan Al-Bashri berkata: "Wahai Abu Sa'id sesungguhnya Hajjaj memanggil anda untuk suatu urusan yang lain. Ketika anda masuk dan melihat algojo dan pedangnya yang terhunus, saya lihat anda membaca sesuatu, apa sebenarnya yang anda lakukan ketika itu?"

Beliau berkata: (aku berdo'a) "Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."

Kejadian serupa sering dialami Hasan Al-Bashri berhubungan dengan para wali negeri dan amir, dimana beliau selalu lolos dari setiap kesulitan tanpa menjatuhkan wibawanya dimata para penguasa dengan lindungan dan pemeliharaan Allah subhanahu wa ta'ala.

Setelah wafatnya khalifah yang zuhud, Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan beralih ke tangan Yazid bin Abdul Malik. Khalifah baru ini mengangkat Umar bin Hubairah Al-Farazi sebagai gubernur Irak sampai Khurasan. Yazid ditengarai telah berjalan tidak seperti jalannya kaum salaf yang agung. Dia senantiasa mengirim surat kepada walinya, Umar bin Hubairah agar melaksanakan perintah-perintah yang adakalanya melenceng dari kebenaran.

Untuk memecahkan problem itu, Umar bin Hubairah memanggil para ulama di antaranya Asy-Sya'bi dan Hasan Al-Bashri. Dia berkata: "Sesungguhnya amirul mukminin, Yazid bin Abdul Malik telah diangkat oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya. Sehingga wajib ditaati dan aku diangkat sebagai walinya di negeri Irak sampai daerah Persia. Dia selalu menulis surat perintah yang ada kalanya kupandang tidak adil. Dalam keadaan yang demikian, bisakah kalian memberikan jalan keluar untukku, apakah aku harus mentaati perintah-perintahnya yang bertentangan dengan agama?"

Asy-Sya'bi menjawab dengan jawaban yang lunak dan sesuai dengan jalan pikiran pemimpinnya itu, sedangkan Hasan Al-Bashri tidak berkomentar sehingga Umar menoleh kepadanya dan bertanya : "Wahai Abu Sa'id, bagaimana pendapatmu?"

Beliau berkata: "Wahai ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut Yazid karena Allah. Sebab ketahuilah bahwa Allah subhanahu wa ta'ala bisa menyelamatkanmu dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabb-nya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabb-mu dan Rabb[nya] Yazid."

"Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepada-Nya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu di dunia dan di akhirat. Namun jika engkau lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan kepada makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah."

Umar bin Hubairah menangis hingga basah jenggotnya karena terkesan mendengarnya. Dia berpaling dari asy-Sya'bi kepada Hasan Al-Bashri, Umar semakin bertambah hormat dan memuliakannya. Setelah kedua ulama itu keluar dan menuju masjid, orang-orang pun datang berkerumun ingin mengetahui berita pertemuan mereka dengan amir Irak tersebut.

Asy-Sya'bi menemui mereka dan berkata: "Wahai manusia, barangsiapa mampu mengutamakan Allah atas makhluk-Nya dalam segala keadaan dan masalah, maka lakukanlah. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, semua yang dikatakan Hasan Al-Bashri kepada Umar bin Hubairah juga aku ketahui. Tapi yang kusampaikan kepadanya adalah untuk wajahnya, sedangkan Al-Bashri menyampaikan kata-katanya demi mengharap wajah Allah subhanahu wa ta'ala. Maka akau disingkirkan Allah subhanahu wa ta'ala dari Ibnu Hubairah, sedangkan Al-Bashri didekati dan dicintai..."

Allah memberikan karunia umur kepada Hasan Al-Bashri hingga berusia lebih dari 80 tahun dan telah memenuhi dunia ini dengan ilmu, hikmah dan fiqih. Warisan yang diunggulkannya bagi generasi kini di antaranya adalah kehalusannya yang mampu menyegarkan jiwa dan nasehat-nasehatnya yang mampu menyentuh hati dan menjadi petunjuk bagi mereka yang lalai akan hakikat kehidupan dan dunia serta ihwal manusia dalam menyikapi dunia.

Beliau pernah ditanya oleh seseorang tentang dunia dan keadaannya. Beliau berkata: "Anda bertanya tentang dunia dan akhirat. Sesungguhnya perumpamaan dunia dan akhirat adalah seperti timur dan barat, bila yang satu mendekat, maka yang lain akan menjauh.
Dan bila anda memintaku supaya menggambarkan tentang keadaan dunia ini, maka aku katakan bahwa dunia di awali dengan kesulitan dan di akhiri dengan kebinasaan, yang halal akan dihisab dan yang haram kan berujung siksa. Yang kaya akan menghadapi ujian fitnah, sedang yang miskin selalu dalam kesusahan."

Adapun jawaban tehadap pertanyaan orang lain tentang keadaannya dan keadaan orang lain dalam menyikapi dunia beliau berkata: "Duhai celaka, apa yang telah kita perbuat terhadap diri kita? Kita telah menelantarkan agama kita dan menggemukkan dunia kita, kita rusak akhlak kita dan kita perbarui rumah, ranjang serta pakaian kita. Bertumpu pada tangan kiri, lalu memakan harta yang bukan haknya.

Makanannya hasil menipu
Amalnya karena terpaksa
Ingin yang manis setelah yang asam
Ingin yang panas setelah yang dingin
Ingin yang basah setelah yang kering

Hingga manakala telah penuh perutnya ia berkata: "Wahai anakku, ambillah obat pencerna."
Hai orang dungu, sesungguhnya yang kau cerna itu adalah agamamu.

Mana tentanggamu yang lapar?
mana yatim-yatim kaummu yang lapar?
Mana orang miskin yang menantikan uluranmu?
Mana nasehat Allah dan Rasul-Nya?

Kalau saja engkau sadari hisabmu. Tiap kali terbenam matahari, berkuranglah satu hari usiamu dan lenyaplah sebagian yang ada padamu.
***


Kamis malam bulan Rajab 110 H, Hasan Al-Bashri pergi memenuhi panggilan Rabbnya. Pagi harinya menjadi pagi duka cita bagi kota Bashrah.
Jenazahnya dimandikan, dikafani dan dishalatkan setelah shalat Jum'at di masjid Jami' Bashrah, masjid dimana beliau menghabiskan banyak waktu hidupnya, belajar dan mengajar serta menyeru ke jalan Allah.

***

*Untuk menambah keterangan tentang Hasan Al-Bashri lihatlah :
  1. Thabaqaat Al-Kubra Ibnu Sa'ad 7/156, 179, 182, 188, 195, 197, 202 dan halaman lain (lihat daftar isi kitab tersebut pada jilid terakhir).
  2. Shifatu Ash-Shofwah Ibnu Al-Jauzi 3/233-237 (Cetakan Daar An-Nasyir bi Halb).
  3. Hilyatu Al-Auliya' Al-Shifatu Ash-Shofwah Ibnu Al-Jauziahani 2/131-161.
  4. Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath 123, 189, 287,331, 356.
  5. Wafiyaat Al-'Ayaan Ibnu Khulkan 1/354-356.
  6. Syazarat Adz-Dzahab 1/138-139.
  7. Mizaan Al-I'tidal 1/254 dan setelahnya.
  8. Amali Al-Murtadha 1/152, 153, 158, 160.
  9. Al Bayaan wa At-Tabyiin 2/173 dan 3/144.
10.  Al Muhabbar oleh Muhammad bin Hubaib 235, 278.
  1. Kitab Al-Wafiyaat Ahmad binHasan bin Ali bin Al-Khatib 108, 109.
12.  Al-Hasan Al-Bashri oleh Ihsan Abbas.

Disalin dari buku :
"Mereka adalah para TABI'IN, kisah-kisah paling menakjubkan yang belum tertandingi hingga hari ini"

Penerbit :
At-Tibyan

Judul Asli :
Shuwaru min Hayati At-Tabi'in

Penulis : DR. Abdurrahman Ra'fat Basya