Bismillah ...

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyaat: 56).

“Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (An Nahl: 36).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk surga.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Tauhid adalah perkara yang paling penting dalam agama Islam. Sebagai tujuan diutusnya para Rasul, serta sebagai kewajiban pertama dan terakhir bagi manusia yang berakal.

Pelanggaran terhadapnya adalah bid'ah yang paling besar sebagaiman firman Allah :

“Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cinta Kepada Allah

"Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman, ....

Mereka Yang Berjatuhan Dari Dakwah Salafiyah

Namun, bagi mereka yang menghendaki agar dakwah salafiyah inilah yang berkhidmat dan menanggung mereka, lalu dicatat dan mereka ditampakkan sebagai tokoh dalam dakwah ini, hanya karena menisbatkan diri.....

Kesalahan Kesalahan Dalam Beraqidah

..Mereka mencukupkan ( لا إله إلا الله) hanya di lisan saja tanpa menyadari, bahwa kalimat tauhid ini menuntut perkara-perkara lain. Diantara perkara-perkara yang dituntut adalah nafi dan itsbat. ...

Menyelewengkan Makna La Ilaha Illallah, Wujud Penyimpangan Aqidah

Tauhid merupakan kewajiban yang pertama dan paling utama untuk diilmui dan didakwahkan. Ia juga merupakan tugas yang paling besar,......

Surat Dari Ibu yang terkoyak hatinya

Anaku…. Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya.

Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Mei 2012

Kesalahan - Kesalahan Dalam Beraqidah

source : fanpop.com
Kondisi umat Islam sekarang ini sudah sedemikian memprihatinkan. Krisis multi dimensi dalam tatanan kehidupan beragama semakin terasa. Sosok muslim ideal yang sesuai dengan syariat telah ditinggalkan. Kesalahan-kesalahan dalam pengamalan sehari-hari mereka tampilkan, baik dalam bentuk lisan, amalan atau keyakinan. Dan lebih parah lagi mereka tidak sadar bahwa bila telah melakukan suatu kesalahan.

Oleh karena itu kami akan mengangkat kesalahan-kesalahan umat Islam dalam permasalahan aqidah yang telah menyebar dan begitu popoler di masyarakat. Semoga kita bisa mengambil manfaat darinya.


1. Kesalahan Memahami Kalimat Lailahailallah
Ini merupakan kesalahan esensial di tengah masyarakat muslimin dewasa ini. Mereka mencukupkan ( لا إله إلا الله) hanya di lisan saja tanpa menyadari, bahwa kalimat tauhid ini menuntut perkara-perkara lain. Diantara perkara-perkara yang dituntut adalah nafi dan itsbat.

Nafi maknanya ialah seseorang yang telah mengucapkan kalimat tauhid ini harus membuang semua bentuk peribadaatan kepada selain Allah

Makna itsbat adalah menetapkan semua bentuk-bentuk peribadatan hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Maksudnya adalah pemurnian agama itu hanya untuk Allah dan kufur (mengingkari) terhadap sesembahan selainNya. Berdasarkan firman Allah,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu.” [An-Nahl 36]

Oleh karena itu dalam melafazkan kalimat tauhid ini harus ada konsekwensi yang mesti dipenuhi. Yaitu mengesakan Allah yang disertai ketaatan dan ketundukan untuk melaksanakan perintahNya dan mejauhi larangan-laranganNya. Bukan hanya sekedar beribadah kepada Allah k saja tanpa diiringi dengan pengingkaran terhadap thagut.

2. Istihzaa’ (Memperolok) Perkara-Perkara Agama
Sebagai misal meperolok-olokkan masalah jenggot, jilbab, menaikkan pakaian diatas mata kaki, Islam sudah tidak relevan dengan zaman kerena membatasi kebebasan waanita, hukum waris dan lain sebagainya.

Ketahuilah, jika olok-olokan itu ditujukan kepada syariat maka, sungguh dia telah menjadi kafir dan keluar dari ajaran agama Islam. Karena menghina syariat berarti menghina pembuat syariat, yaitu Allah. Begitu pula ia telah menghina Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam [2]. Berdasarkan dalil.

قُلْ أَبِاللهِ وَءَايَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ . لاَتَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

Katakanlah,"Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. [At-Taubah: 65-66]

Dan seandainya olok-olokkan itu ditujukan kepada orangnya (pelaku syariat), maka dia termasuk orang yang fasiq dan sudah tergelincir di tempat yang sangat berbahaya.

3. Ungkapan Sebagian Orang, “Ini sudah kehendak takdir”, atau, “Jika zaman sudah berkehendak maka akan menjadi begini dan begini”.
Ini juga merupakan kesalahan yang harus segera ditinggalkan. Karena zaman dan takdir tidak memiliki kehendak. Kehendak dan takdir kepunyaan Allah. Perhatikanlah firman Allah.

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. [Al-Furqan: 2]

Termasuk sifat Allah adalah berbuat sesuai dengan kehendakNya. Tidak akan pernah ada satu kejadianpun kecuali dengan iradahNya. Tidak akan ada di alam ini satupun yang keluar dari ketentuan takdirNya, dan tidak akan muncul kecuali karena takdirNya pula. Apa yang ditakdirkan tidak akan pernah meleset. [3]

4. Perkataan yang masyhur dari kalangan ilmuwan atau pelajar yang mempelajari ilmu Biologi, Kimia atau yang lain, “Partikel ini tidak mungkin bisa hancur” atau “Tidak mungkin zat ini akan terbentuk” dan ucapan-ucapan lain yang senada.

Mereka tidak sadar, bahwa ucapan termasuk bathil. Perlu diingat, semua yang ada di alam ini asalnya tidak ada. Allahlah yang menciptakannya dan semua makhluk pasti akan mengalami kehancuran atau kematian. Kemudian Allah hidupkan pada saat yang lain sesuai dengan kehendak Allah.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [Al-Mulk : 2]

Jadi tidak ada satu makhlukpun yang hancur atau tercipta dengan sendirinya. Adapun makhluk yang bakal Allah kekalkan adalah Syurga dan Neraka disertai dengan kenikmatan atau adzab didalamnya, begitu juga dengan penghuninya. Sedangkan yang lain akan mengalami kehancuran. -tiap-tiap yang berjiwa pasti merasakan kematian

5. Mengeluh Dan Mencela Waktu.
Kesalahan seperti ini lebih banyak dilakukan oleh para penyair, seniman dan sastrawan melalui karya-karyanya. Kemudian diikuti oleh masyarakat umum sehingga menjadi suatu yang lumrah di kalangan masyarakat. Contohnya, “Zaman telah menguasaiku” atau “Zaman telah berkhianat” atau “Zaman telah gila” dan lain sebagainya. Untuk lebih jelas, perhatikanlah penjelasan berikut ini.
Jika yang dimaksud hanya untuk memberikan tentang sifat suatu ‘zaman’, maka hal itu diperbolehkan. Contoh, “Hari ini sangat panas” atau “sangat dingin” dengan syarat tanpa disertai celaan, berdasarkan firman Allah atas ucapan Luth Alaihissallam.

هَذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

Ini adalah hari yang amat sulit.. [Huud : 77]

Jika celaan terhadap waktu diiringi dengan keyakinan bahwa ‘waktu’ adalah penentu terhadap berbagai kejadian (musibah dan bencana), maka hal ini termasuk perbuatan syirik akbar (besar) karena berkeyakinan ada kekuatan atau kekuasaan selain Allah. Berdasarkan dalil.

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَايَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. [Al-Faathir : 13]

Jika terjadi celaan terhadap waktu namun si pencela masih berkeyakinan bahwa Allahlah pelakunya dan penentunya, maka hal ini termasuk larangan. [4]. Dalilnya.

لاَ تَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللَّهَ“ هُوَ الدَّهْرُ

Janganlah kalian mencela waktu karena sesungguhnya Allah itu adalah penentu waktu.

Maksudnya, Dialah Allah yang mengatur dan mengusai waktu (masa), berdasarkan dalil.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, “Aku disakiti oleh Anak Adam ia mencela waktu, Aku adalah pengatur waktu. Aku membolak-balikkan siang dan malam. [HR. Muslim 5862]

Oleh karena itu kita harus meyakini bahwa kekuasaan mutlak hanya berada di tangan Allah. Keyakinan yang sebenar-benarnya disertai dengan membenarkan secara lisan dan amalan [5]

6. Ketika seseorang memperingatkan orang lain dengan sunnah terutama yang menyangkut perkara yang zahir seperti, “Pakailah jilbab !” atau, “Peliharalah janggutmu” atau, “Naikkanlah pakaianmu diatas mata kaki”, maka dia akan menjawab, “Hal itu tidak penting karena taqwa itu tempatnya di hati.”

Ketahuilah, bahwa jawaban itu merupakan jawaban yang benar, namun dibalik jawaban itu terselubung niat yang bathil. Rasulullah juga pernah mengatakannya, akan tetapi kapankah beliau mengucapkannya ? Beliau mengucapkannya ketika memberikan nasehat kepada para shahabatnya agar mereka berpegang teguh dengan adab-adab Islam. Beliau berkata.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling bersaing, jangan saling bermusuhan, janganlah membeli diatas pembelian orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, jangan ia mendhalimi saudaranya, jangan mentelantarkannya, jangan menghinanya. Taqwa tempatnya disini (Beliau mengisyaratkan ke dada tiga kali) Cukuplah keburukan bagi seseorang yang dia meremehkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan kepada muslim yang lain darah, harta dan kehormatannya. [Shahih Muslim 2564]

Begitulah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan perkataan itu dalam perkara-perkara mu’amalah. Sedangkan pada diri orang yang dinasehati tersebut jelaslah tidak menginginkan untuk mengamalkan nasehat dan sunnah. Seandainya hal itu benar-benar ada pada hatinya. Maka secara otomatis anggota tubuhnya akan tunduk dan segera merealisasikan taqwa dalam bentuk amalan, sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat ketika di nasehati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

7. Perkataan sebagian orang setelah terjadi satu kejadian yang tidak di sukai, “Seandainya tadi ini yang dikerjakan tentu terjadi begini dan begini”

Hal ini termasuk larangan karena berpaling dari takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Bersungguh-sungguhlah pada suatu yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah merasa lemah ! Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan, “Seandainya saya mengerjakan begini maka akan terjadi begini” akan tetapi ucapkanlah, “Allah sudah mentakdirkan dan apa yang Dia dikehendaki Allah pasti akan terjadi”. Sesungguhnya ucapan, ‘Seandainya’ akan membuka peluang syaithan.” [HR. Muslim]

Akan tetapi kadang timbul pertanyaan, “Apakah semua ucapan ‘Seandainya’ itu dilarang secara mutlak dalam semua permasalahan atau tidak ?” Jawabnya adalah sebagai berikut:

a). Jika lafaz ‘seandainya’dimaksudkan sekedar pemberitahuan, maka hal diperbolehkan. Misalnya, “Seandainya engkau datang, aku pasti akan memuliakanmu !” atau “Seandainya aku tahu engkau ada pasti aku akan mengunjungimu !”

b). Jika dimaksudkan untuk pengharapan terhadap perkara yang di syari’atkan, maka hal itu dianjurkan bahkan disunnahkan. Contoh, “Seandainya aku memiliki kemampuan, maka aku akan berhaji” atau “Seandainya aku memiliki harta, maka aku akan bershadaqah” Hal ini berdasarkan kisah dua orang yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam yang masyhur.

إِنَّمَا الدُّنْيَا ِلأَرْبَعِ نَفَرٍ فَذَكَرَ رَجُلَيْنِ : رَجُلاً أَتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ وَ رَجُلاً لَمْ يُؤْتِهِ مَالاً لَكِنَّهُ يَقُوْلُ : لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ مَالِ فُلاَنٍ لَفَعَلْتُ مِثْلَ مَا فََعَلَ قَالَ صلى الله عليه و سلم فَهُوَ فِي اْلأَجْرِ سَوَاءٌ
Dunia ini hanya milik empat golongan. Kemudian Beliau menyebutkan dua orang. Seseorang yang diberi harta oleh Allah k lalu ia menginfakkan hartanya di jalan Allah, dan seseorang yang tidak diberi harta tetapi dia berkata, “Seandainya aku memiliki harta seperti Fulan, sungguh aku pasti beramal sebagaimana dia beramal. [Shahih Jami’ 3024]

c). Sikap mengeluh terhadap sesuatu yang telah terjadi. Maka hal ini terlarang berdasarkan hadits diatas.

8. Do’a yang diucapkan sebagian orang kepada sebagian yang lain, “Semoga Allah memanjangkan umurmu” atau, “Semoga Allah mengekalkan hari-harimu”.

Hal ini tidak diperbolehkan karena tidak akan pernah ada seorangpun yang kekal. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ . وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan. [Ar-Rahman : 26-27]

Jika ingin mendo’akan orang lain, ucapkanlah, “Semoga Allah memanjangkan umurmu dalam ketaatan” karena hidup tidak akan berguna jika jauh daari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

9. Salah memahami ‘Ibadah’.
Sebagian orang menyangka bahwa ibadah hanya berkisar pada shalat, puasa, zakat dan haji. Padahal ibadah itu mencakup seluruh cabang-cabang iman yang jumlahnya sekitar tujuhpuluh lebih.

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيمَانِ

Iman itu ada 70 atau 60 cabang lebih. Yang paling afdhal adalah ucapan laa ilaaha illaallaah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu termasuk cabang dari iman. [HR. Muslim]

Maka jelaslah, bahwa ibadah itu mencakup seluruh aspek kehidupan meliputi aspek mu’amalah, perekonomian, dan persenjataan (yang sesuai dengan syari’at)

10. Munculnya syubhat, “Terkadang kecanggihan teknologi bisa membantah nash (teks) dari Al-Qur’an maupun dari Hadits.”
Ketahuilah, wajib bagi seorang muslim berkeyakinan bahwa yang ada dalam Al-Qur’an ataupun Hadits yang shahih tidak mungkin bertentangan dengan teknologi yang benar. Ini merupakan kenyataan yang wajib bagi kita untuk mengimaninya dan membenarkan yang telah dijelaskan Allah dan RasulNya. Misalnya, muncul keragu-raguan sebagian orang terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

وَيَعْلَمُ مَافِي اْلأَرْحَامِ

Dan Dia mengetahui apa-apa yang ada di dalam rahim. [Luqman : 34]

Berdasarkan ayat diatas, apa-apa yang ada di dalam rahim hanyalah Allah yang mengetahuinya dan merupakan rahasiaNya. Namun kenyataannya (menurut mereka), para dokter juga bisa mengetahui apa yang di rahim dengan peralatan modern. Yaitu tentang jenis kelamin janin. Inilah salah satu contoh syubhat yang bisa menggoyahkan keimanan.

Maka sebagai jawabannya adalah sebagai berikut. Lafazh “maa” pada ayat tersebut termasuk lafaz yang bermakna umum. Artinya bisa mencakup semua yang berkaitan dengan janin dalam ciptaannya. Bentuk, warna, panjang, rizqi, amalan, keadaannya di dunia (sengsara atau bahagia), ajalnya dan lain sebagainya. Berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu.

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ لَهُ اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

Sesungguhnya salah seorang diantara kalian, dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah yang menggantung selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama 40 har. Kemudian seorang Malaikat diutus kepada janin tersebut, lalu ia meniupkan ruh dan diperintahkan dengan empat perkara yaitu tentang rizkinya, ajalnya, amalannya dan celaka atau bahagia. [HR. Bukhari]

Pengetahuan terhadap janin masuk dalam takdir Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dokter tidak akan bisa mengetahuinya kecuali setelah diciptakan, disempurnakan bentuknya, hampir keluar dari rahim ibunya. Bagaimana sebelum itu, maka mereka tidak akan bisa mengetahuinya, walaupun menggunakan alat yang canggih sekalipun. Oleh karena itu jelaslah bahwa nash itu tidak akan bertentangan dengan teknologi yang benar.

11. Masyhurnya beberapa nama yang selayaknya di ganti karena mengandung tazkiyah (penyucian) terhadap diri. Seperti: Iman, Fitnah, Abrar, Mallak dan lain sebagainya.

Rasulullah pernah merubah nama “Murroh” menjadi Zaenab atau Juwairiyah. [6]

12. Dugaan sebagian orang “Semua perkara itu sudah ditakdirkan, maka kita tidak perlu berdo’a kepada Allah.”
Ini juga termasuk kesalahan yang menyebar di tengah umat. Perlu diketahui bahwa do’a termasuk sebab, berdasarkan sabda Rasulullah.

لاَيَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ

Tidak ada yang bisa merubah takdir kecuali do’a. [Dihasankan oleh Al-Albani]

Maksudnya, bahwa do’a termasuk penyebab. Kadang-kadang Allah menghindarkan musibah seseorang disebabkan do’a. Atau Allah memberikan kebaikan anak dan rizki juga disebabkan do’a. Berdasarkan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Tidaklah seorang hamba berdo’a, tidak meminta keburukan atau untuk memutuskan tali silaturrahim kecuali Allah akan memberikan satu diantara tiga hal. Yaitu dikabulkan doanya, atau Allah hindarkan dia dari keburukan atau Allah simpan doanya di sisi Allah untuk dia. Mereka berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak do’a” Rasulullah menjawab, “Allah lebih memperbanyak (pengabulanNya).” [HR Tirmidzi]

Do’a merupakan ibadah dan kita diperintahkan untuk berdo’a. Do’a merupakan sebab dari takdir dan sesungguhnya do’a juga sudah ditakdirkan oleh Allah.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman, “Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. [Ghaafir : 60]

13. Jawaban seseorang ketika dilarang dari penyimpangan, ia menjawab, “Karena kebanyakan orang melakukannya.” Jelas ini merupakan jawaban yang tidak berdasar (hujjah) dan jauh dari kebenaran. Sebagaimana kita saksikan bahwa kebanyakan orang pada zaman sekarang tidak memahami syari’ah Islam serta banyak menyimpang dari Islam. Hal ini dipertegas dengan firman Allah.

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي اْلأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya [Al-An’am: 116]

Ditambah lagi dengan sedikitnya Ahlus Sunnah dibandingkan dengan banyaknya Ahlul bid’ah, belum lagi orang-orang kafir. Oleh karena itu, wajib bagi kita mengikuti yang sedikit tetapi berada di atas kebenaran.

14. Sebagian orang menggantungkan tulisan yang berlafadz Allah dan Muhammad secara sejajar di dinding-dinding rumah, papan-papan atau kitab-kitab dan lainnya.

Hal ini termasuk larangan. Karena memiliki makna menjadikan tandingan bagi Allah Azza wa Jalla. Lebih parah lagi, seandainya yang menyaksikannya dari kalangan orang-orang awam yang tidak mengetahui maknannya. Mereka menganggap bahwa, seolah ada kesejajaran kedudukan antara Allah dan Muhammad. Perhatikanlah firman Allah.

فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. [Al-Baqarah: 22]

Dan jika lafadz Muhammad dihilangkan, maka tinggalah lafadz Allah saja. Dan ini juga termasuk kesalahan. Karena lafadz Allah saja termasuk dari dzikir sufiyah yang lazimnya, dengan mengucap ‘Allah…Allah…Allah’.

Oleh karenanya, selayaknya kita meninggalkan hal yang semacam ini (menggantungkan lafadz semacam ini) . Hal ini belum pernah dicontohkan oleh Salaf As-Shalih gRadhiyallahu 'anhum.

15. Persaksian ucapan dengan ‘Syahid’ terhadap orang yang meninggal di jihad fisabilillah. Maka semacam ini termasuk kesalahan juga. Karena hanya Allahlah yang mengetahui keadaan hati orang tersebut.

اللهُ أَعْلَمَ بِمَنْ يُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Allah yang lebih mengetahui terhadap orang-orang yang jihad fi sabilillah. Kita tidak bisa mengetahui hakekat hati orang yang meninggal tersebut. Apakah benar-benar ikhlas niatnya ataukah tidak ? Sehingga masih berharap dunia. Atau apakah aqidahnya sudah lurus ataukah belum? Selayaknya kita hanya mengatakan sebagaimana yang dikatakan Rasulullah n secara umum,

مَنْ مَاتَ فِي سَبِيْلِ الله أَوْ قُتِلَ فَهُوَ شَهِيْدٌ

Barangsiapa yang meninggal atau terbunuh di jalan Allah maka dia adalah syahid.

Oleh karena itu kita dilarang menetapkan seseorang tertentu yang meninggal di jalan Allah dengan sebutan ‘syahid Fulan’, karena ta’yin itu membutuhkan dalil. Jadi lafadz من menunjukkan keumuman, bukan ta’yin (pengkhususan) terhadap seseorang tertentu. Sehingga selayaknya kita mendoakan dengan mengatakan, “Semoga dia termasuk syahid”, bukan dengan “syahid Fulan.”

16. Merasa ada keberuntungan atau kesialan berkaitan dengan mushaf (al-Qur’an).
Maksudnya, ketika membuka mushaf kemudian menjumpai ayat yang didalamnya ada kebaikan, maka optimis mendapatkannya. Dan sebaliknya, ketika membaca ayat yang didalamnya ada keburukan (adzab), maka merasa pesimis terhindar darinya. Oleh karena itu para ulama melarang hal semacam ini.

17. Penulisan ص atau SAW untuk mempersingkat صلى الله عليه وسلم
Kalangan ulama musthalah hadits, melarang hal ini. Karena termasuk menghilangkan pahala shalawat atas Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bagi seseorang. Dan seandainya saja seseorang menulis shalawat secara lengkap, maka penulisnya akan mendapat pahala. Begitu pula orang-orang yang membacanya.

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Barangsiapa bershalawat kepadaku n satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali karenanya. [Abu Daud]

Maka tidak selayaknya bagi seorang muslim meninggalkan pahala yang besar hanya karena untuk mempercepat dan mempersingkat tulisan.

18. Mengiringi doa dan masyi’ah (kehendak) seperti doa sebagian orang “mudah-mudahan Allah merahmatimu, Insya Allah!” atau “semoga Allah memberikan rizqi kepadamu, Insya Allah !”

Perhatikanlah dua contoh doa di atas sehingga nampak jelas. Maka doa tersebut termasuk larangan jika dalam masyi’ah tersebut, kita bersikap masa bodoh terhadap doa kita (dikabulkan atau tidak terserah Allah Azza wa Jalla) tanpa adanya harapan. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu'laiahi wa asallam,

لاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ

Janganlah salah seorang dari kalian berkata-kata,”Ya Allah ampunilah aku jika engkau berkehendak dan rahmatilah aku jika engkau berkehendak…” [Bukhari kitab Ad-Da’awat 6339, Muslim Kitab Dzikir dan Do’a no. 2679].

Akan tetapi diperbolehkan berdo’a disertai masyi’ah ( khat ) dengan syarat bertabaruk dan mengharapkan dengan sangat dikabulkan doanya.

19. Mencaci-Maki Syetan.
Hal ini juga termasuk larangan berdasarkan sabda Nabi n ,

لاَ تَسُبُّوْا الشَّيْطَانَ وَ تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ شَرِّهِ

Janganlah kalian mencela syetan dan berlindunglah kepada Allah dari keburukkannya. [As-Shahihah no. 2422 dikeluarkan Ad-Dalimi dan selainnya]

Dan hadits yang lain.

عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ عَنْ رَجُلٍ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَثَرَتْ دَابَّةٌ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ بِقُوَّتِي وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Dari Abu Malik, dari seorang laki-lak, dia berkata, “Aku membonceng Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam maka terantuklah tungganganya.” Maka aku katakana, “Celakalah setan.” Maka beliau n bersabda,“Janganlah engkau katakan ‘celaka setan’. Jika engkau mengatakan hal itu, setan akan merasa dirinya besar sampai sebesar rumah dan dia akan berkata ‘dengan kekuatanku !’akan tetapi katakanlah,’Bismillah’. Maka jika engkau katakan demikian, dia akan merasa kecil sekecil lalat.” [Dikeluarkan Abu Daud, dan selainnya. Lihat Al-Kalam At-Thayib 237] [7]

Dan perlu diketahui bahwa pencelaan/pencacimakian kita terhadap setan tidak berpengaruh sedikitpun terhadap keputusan Allah karena kita mencaci atau tidak, syetan sudah dilaknat oleh Allah Azza wa Jalla.

20. Merasa akan mendapat sial pada bulan safar, dengan berkeyakinan akan banyak terjadi “bala” sehingga menunda safar (berpergian), pernikahan dan lain-lainnya. Perhatikanlah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

Tidak ada penyakit menular, tidak ada tathayur, tidak ada hammah tidak ada safar. [HR. Bukhari 5757, Muslim 2220]

Menurut sebagian ulama, yang dimaksud dengan shafara adalah bulan safar. Dan ini berdasarkan pendapat yang rajih. Oleh karena itu selayaknya bagi kita memperlakukan bulan ini seperti bulan-bulan yang lain, tanpa dihinggapi rasa khawatir dan dibayangi kesialan terhadap seseuatupun yang akan terjadi.

Demikianlah duapuluh kesalahan dalam beraqidah yang telah menyebar dan begitu populer di tengah umat. Pun masih banyak didapati kesalahan-kesalahan aqidah yang lain. Semoga Allah senantiasa membimbing kita, sehingga terhindar dari kesalahan-kesalahan tersebut. Amiin. Wallahu ‘alam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun VI/1423H/2002. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Disarikan dari kitab Akhta’un ‘Aqdiyah karya Syeikh Abdurrahman bin Shalih Al-Mahmud dan kitab Alfazh Wa Mafahim karya Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin disertai beberapa tambahan dari sumber lain oleh Abu Ziyad Ibnu Sofwan – Al-Furqan Gresik
[2]. Lih. At-Tauhid oleh Shalih Fauzan hal. 42
[3]. Syarh Lum’atul I’tiqad hal. 89 oleh Syaikh Shalih al-Utsaimin
[4]. Untuk lebih jelas, lihat Syarh Lum’atul I’tiqad hal. 22 atau Al-Manahi Al-Syar’iyah hal 74 oleh Syeikh Salim Al-Hilali
[5]. Tentang celaan tidak hanya terbatas pada waktu saja, karena kita juga dilarang mencela kendaraan, angin, ayam jantan dan penyakit panas. Lihat Hashaidul Alsun hal. 156-159 oleh Husein Al-Uwaisyah
[6]. Llihat Fathul Baari no. 6192, Muslim 2140
[7]. Ucapan “Celakalah engkau syaitan!” memberikan kesan, bahwa setan memiliki andil dalam suatu kejadian. Sehingga setan menjadi bangga dengan hal itu. red

sumber : http://almanhaj.or.id/content/1842/slash/0

Kamis, 25 Agustus 2011

Aqidah Shohihah Versus Aqidah Bathilah (Bagian Keempat-Selesai)

Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

source : palupisunarwati.blogspot.com
Iman Kepada Para Malikat

Iman Kepada para malikat mengandung makna keyakinan bahwa Allah mempunyai malaikat-malaikat yang diciptakan untuk menaati perintah-perintah-Nya. Para malaikat itu disifati sebagai hamba-hamba yang dimulyakan yang senantaisa melaksanakan perintah:

Allah berfirman:
“Allah mengetahui apa yang ada di hadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Al Anbiya : 28)

Para malaikat itu terdirti dari banyak kelompok, diantaranya ada yang diperintahkan untuk mengangkat ‘Arsy, menajga surga, menjaga nereka, mencatat amal perbuatan manusia, dan lain-lainya.

Seorang muslim juga harus mengimani malaikat-malaikat yang nama-namanya diperkenankan Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu diantaranya: Jibril, Mikail, Malik yang menjaga nereka, serta Israfil yang bertugas meniup sangkakala.

Berita-berita mengenai para malaikat tersebut juga terdapat dalam banyak hadits shahih, diantaranya adalah hadits dari Aisyah Radhiallaahu anha yang menyatakan bahwa Nabi telah bersabda:
" خُلِقَتِ المَلاَ ئِكَةُ مِنْ نُوْرٍوَخُلِقْاَلجْاَنُّ مِنْ مَا رِ جٍ مِنْ نَـارِ وَخُلِقَ اَ‍دَمُ ِممَّا وصِفَ لَكُمْ "
“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari percikan api, sementara adam diciptakan dari apa yang sudah kamu kenal.” (HR. Muslim)



Hal-hal yang Membatalkan KeIslaman

Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk masuk ke dalam Dinul Islam dan berpegang teguh dengannya, serta mewaspadai segala sesuatu yang akan menyim-pangkan mereka dari din yang suci ini. Dia mengutus nabi-Nya, Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam, dengan amanat da’wah yang suci dan mulia. Allah juga telah mengingatkan hamba-Nya, bahwa barangsiapa yang mengikuti seruan para rasul itu, maka dia telah mendapatkan hidayah; dan siapa yang berpaling dari seruannya, maka ia telah teresat.

Di dalam Kitabullah, Dia mengingatkan manusia tentang perkara-perkara yang menjadi sebab “riddah’ (Murtad dari Dinul Isalm) dan perkara-perkara yang termasuk kemusyrikan dan kekafiran. Beberapa ulama rahimahumullah selanjutnya menyebutkan peringatan-peringatan Allah itu dalam kitab-kitab mereka. Mereka mengingatkan bahwa se-sungguhnya seorang muslim dapat dainggap murtad dari Dinul Islam disebabkan beberapa hal yang bertentangan, sehingga menjadi halal darah dan hartanya. Di-antara sekian banyak hal yang dapat membatalkan keis-laman seseorang, Sayikh Al Imam Muhammad bin Ab-dul Wahab, serta beberapa ulama lainya menyebutkan sepuluh hal yang paling banyak dilakukan oleh ummat Islam. Dengan menharap keselamatan dan kesejahteraan dari-Nya, kami paparkan dengan ringan sebagai berikut:
  • Mengadakan persekutuan dalam beribadah kepada Allah. Dalam kaitan ini, Allah berfirman:
    “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dan mengampuni selain dosa syirik bagi siapa yang dikehendaki…” (An Nisa : 116)
    “Sesungguhnya siapa saja yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun.” (Al Maidah : 72)
    termasuk dalam hal ini, permohonan pertolongan dan permohonan doa kepada orang mati serta ber-nadzar dan menyembelih qurban untuk mereka.
  • Menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara doa, permohonan syafaat, serta sikap tawakkal mereka kepada Allah.
  • Menolak untuk mengkafirkan orang-orang musyrik, atau menyangsikan kekafiran mereka, bahkan membenarkan madzab mereka.
  • Berkeyakinan bahwa petunjuk selain yang datang dari Nabi Muhammad lebih sempurna dan lebih baik. Menganggap suatu hukum atau undang-undang lainya lebih baik dibandingkan syariat Rasulullah, serta lebih mengutamakan hukum thaghut diban-dingkan ketetapan Rasulullah.
  • Membenci sesuatu yang datangnya dari Rasulullah, meskipun diamalkannya. Dalam hal ini Allah berfirman:
    “Demikian itu karena sesungguhnya mereka benci terhadap apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad : 9)
  • Mengolok-olok sebagian dari Din yang dibawa Rasulullah, misalnya tentang pahala atau balasan yang akan diterima. Allah berfirman:
    “….Katakanlah, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (At Tuabah 65-66)
  • Masalah sihir. Diantara bentuk sihir adalah “ash shorf” (pengalihan), yaitu mengubah perasaan seseorang laki-laki menjadi benci kepada isterinya. Sedangkan “al ‘athaf” adalah sebaliknya, mejadikan orang senang terhadap apa yang sebelumnya dia benci dengan bantuan syaitan.
    Orang yang melaukan kegiatan sihir hukumnya kafir. Sebagai dalilnya adalah firamn Allah, yang artinya:
    “…Dan keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seseorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu kafir’…” (Al Baqarah: 102)
  • Mengutamakan orang kafir serta memberikan per-tolongan dan bantuan kepada orang musyrik lebih dari pada pertolongan dan bantuan yang diberikan kepada kaum muslimin. Allah berfirman, yang artinya:
    “…Barangsiapa di antara kamu,mengambil mereka orang-orang musyrik menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka,. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim.” (Al Maidah : 51)
  • Beranggapan bahwa manusai bisa leluasa keluar dari sayriat Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam . Dalamkaitan ini Allah berfirman:
    “Barangsiapa yang mencari agama selain Dinul Islam, maka dia tidak diterima amal prbuatan-nya, sedang dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)
  • Berpaling dari Dinullah, baik karena dia tidak mau mempelajarinya atau karena tidak mau mengamal-kannya. Hal ini berdasarkan firman Allah:
    “Dan siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungughnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As Sajadah: 22)
Itulah sepuluh naqidhah yang perlu diwaspadai oleh setiap muslaim, agar ia tidak terjerumus untuk melakukan salah satu diantara kesepuluh sebab yang dapat mengeluarkannya dari Dinul Islam. Begitu seseorang meyakini bahwa undang-undang yang dibuat manusia lebih utama dan lebih baik dibandingkan syariat Islam, maka ia telah kafir. Demikian juga jika ia menganggap bahwa ketentuan-ketantuan Islam sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan pada zaman mutakhir ini, atau bahkan beranggapan bahwa aturan Islam adalah penye-bab kemunduran dan keterbelakangan ummat Islam. Seseorang juga tergolong kafir bila beranggapan bahwa Dinul Islam hanya menyangkut hubungan ritual antara hamba dan Rabbnya, tetapi tidak ada kaitanya dengan ,masalah-masalah duniawi.

Demikan juga jika seseorang memegang bahwa pelaksanaan syariat Islam,misalnya hukum potong tan-gan bagi pencuri, hukum rajam bagi pezina muhson (pezina yang sudah kawin) tidak sesuai dengan perad-aban modern, begitu pula halnya dengan seseorang yang beranggapan bahwa seseorang boleh tidak berhu-kum dengan syariat Allah dalam hal muamalat (ke-masyarakatan), hudud, serta dalam hukum-hukum lainya. Ia telah jatuh kepada kekafiran, meskipun ia be-lum sampai pada keyakinan bahwa hukum yang dianutnya lebih utama dari hukum Islam, karena boleh jadi ia telah menghalalkan apa yng diharamkan Allah, dengan dalih keterpakasaan, seperti berzina (karena alasan mencari nafkah), minum khamr, riba, dan berhukum dengan hukum rekaan manusia.

Marilah kita berlindung kepada Allah dari hal-hal yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan dari adzab-Nya yang pedih. Shalawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada sebaik-baiknya makhluk-Nya, Muhammad Rasulullah, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.
---


Sumber : www.alsofwah.or.id

Aqidah Shohihah Versus Aqidah Bathilah (Bagian Ketiga)

Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

source : abuhalim.wordpress.com
Iman Kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir mencakup keimanan terhadap segala apa yang diberitakan Allah dan rasul-Nya yang berkaitan dengan hari akhir, misalnya berita tentang apa yang akan terjadi setelah datangnya kematian, seperti mengenai fitnah kubur, adzab atau nikmatnya.

Iman kepada hari akhir juga meliputi keyakinan kepada berita-berita mengenai apa yang terjadi setelah hari kiamat, misalnya mengenai ash shirat al mustaqim, mizan, hisab, pembalasan, dan pemberian catatan amal perbuatan manusia semasa hidup di dunia yang diterima manusia dengan tangan kanan, tangan kiri, atau dari balik punggung.

Keimanan pada hari akhir juga meliputi keyakinan terhadap adanya telaga untuk Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, keyakinan bahwa orang mukminin akan melihat Allah secara langsung dan bercakap-cakap dengan-Nya, keyakinan tentang surga dan neraka, serta hal-hal lain sepanjang telah dijelaskan dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam kita wajib meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati semua berita itu.


Iman Kepada Qadar (Takdir)

Iman kepada qadar meliputi empat perkara:
  • Keyakinan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang telah dan akan terjadi. Allah mengetahui segala keadaan hamba-hamba-Nya. Allah mengetahui rezeki, ajal, dan amal perbuatan mereka. Segala urusan dan gerak mereka tidak pernah luput dari pengawasan-Nya. Allah berfirman:
    “Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al Ankabut : 62)

    Firman Allah, yang artinya:
    “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, dan seprti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath Thalaq : 12)
  • Keyakinan akan adanya catatan Allah tentang apa yang telah ditaqdirkan dan telah duputuskan-Nya Allah berfirman:
    “Sesunguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dan tubuh-tubuh mereka dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat).” (Qaaf : 4)

    Firman Allah, yang artinya:
    “…Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam ki-tab induk yang nyata (Lauh Mahfuz).” (Yaasin: 12)
    “Apakah kamu tidak tahu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dilangit dan di bumi. Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Laul Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Al Hajj : 70)
  • Keyakinan bahwa kehendak-Nya tidak dapat diganggu gugat. Jika Allah berkehendak, maka jadilah. Dan jika Allah tidak berkhendak maka tak akan ter-jadi. Allah berfiram, yang artinya:
    “…Sesungguhnya Allah berbuat atas segala yang Dia kehendaki.” (Al Hajj : 18)
    “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia me-nghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah.’ Maka jadilah dia.” (Yaasin : 82)

    Firman Allah, yang artinya:
    “Dan tidaklah kamu berkehendak kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.” (Al Insan : 30)
  • Keyakinan bahwa Allah adalah pencipta seluruh yang ada; tidak ada pencipta selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia. Allah berfirman:
    “Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia atas segala sesuatu itu bagi Pemelihara.” (Az Zumar : 62)
    “Wahai manusia, ingatlah terhadp nikmat Allah yang telah diberikan kepada kamu sekalian; lalu adakah pencipta selain Allah yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Ilah selain Dia, lalu mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (Faathir : 3)
Itulah perinsip-perinsip keimanan sebagaimana yang diyakini Ahlussunnah wal Jama’ah, yan meliputi enam perinsip keimanan, yang lazim disebut dengan Rukun Iman. Suatu pemahaman yang berbeda sekali dengan pendngan-pendangan ahlus bid’ah.

Menurut aqidah Ahlussunnah, iman kepada Allah juga mencakup keyakinan bahwa iman itu adalah pern-yataan yag disertai dengan amalan. Iman dapat bertam-bah manakala seseorang meningkatkan ketaatannya kepada Allah, dan dapat berkurang bila seseorang ber-maksiat kepada Allah. Seorang muslim tidak boleh me-lakukan “takfir’ (mengkafirkan) seorang muslim lainya yang berbuat dosa, selain dosa syirik. Dosa-dosa seperti zina, mencuri, makan riba, meminum minuman yang memabukkan, mendurhakai orang tua, serta dosa-dosa besar lainya tidak menyebabkan seorang jatuh kepada kekafiran selama tidak menghalalkannya. Allah berfir-man:
“Sesunguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan Dia dengan sesuatu, dan men-gampuni dosa selain itu bagi orang yang Dia ke-hendaki…” (An Nisa : 116)

Dalam kaitan ini, Rasulullah bersabda bahwa:
أَنَّ اللهَ يخُرِْ جُ مِنَ النَّا رِمَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِشْقَالُ خَرْدَ لـٍر مِنْ إِ ْيمَانٍ
“Sesungguhnya Allah mengeluarkan dari nereka siap asaja yang di hatinya msaih terdapat keimanan, walaupun itu hanya sebesar biji sawi.”

Mencintai, membanci, memihak, dan memusuhi karena Allah, adalah termasuk bagian dari iman kepada Allah. Seorang mukmin hendaknya mencintai seorang mukmin lainya, memihak dan setia kepadanya, dan pada saat bersamaan, membenci dan memusuhi orang-orang kafir.

Kaum mukminin yang terutama dari ummat ini, adalah para sahabat Rasulullah yang setia,. Maka Ahlussunnah wal Jama’ah pun menyintai dan menyata-kan loyalitasnya kepada mereka, serta meyakini bahwa para sahabat adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi. Keyakinan ini antara lain dilandasi oleh hadits Nabi:
"خَيْرُ اْلقُرُوْنِ قَرْيِنْ شُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَـهُمْ شُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْ نَحُمْ "
“Sebaik-baik masa adalah masaku ini, kemudian orang-orang selanjutnya (tabi’in), lalu menyusul orang-orang yang selanjutnya (tabiut tabi’in).” (Hadits Muttafaq alaih)

Ahlussunnah juga menegaskan bahwa Abu Bakar Ash Siddiq, Umar Al Faruq, Utsman Dzun Nurain (Pemilik dua cahaya), dan Ali bin Abi Thalib adalah sahabat-sahabat utama Rasulullah yang diridlai Allah. Kemudian setelah empat sahabat itu, sahabat utama Rasulullah adalah sisa sepuluh orang yang telah di beri kabar gembira dengan jaminan surga. Setelah itu adalah para sahabat lainya yang semuanya telah memeproleh ridla Allah. Kita wajib menahan diri dari apa yang mereka perselisihkan diantara para sahabat itu, dengan keyakinan bahwa mereka adalah para ahli ijtihad (mujtahid). Bagi yang benar akan mendapat dua pahala, sedang bagi yang salah ijtihadnya akan mendapatkan suatu pahala. Para sahabat menyintai Rasulullah dan ahlul baitnya. Merka menghormati para isteri Rasulullah dan ridla atas mereka semua.

Ahlussunah wal Jama’ah berlepas diri dari “Thariqatur rawafidh”, yaitu orang-orang yang membenci dan mencela sejumlah sahabat, namun menjunjung terlalu tinggi ahlul bait, sehingga mereka menganggap kedudukan ahlul bait melebihi para nabi dan bahkan sepadan dengan kedudukan Allah. Sebagaimana Ahlussunnah juga berlepas diri dari “Thariqatun Nawasib”, yakni orang-orang yang membenci ahlus bait, baik yang menyatakan kebencian itu dengan pernyataan-pernyataan ataupun dengan perbuatannya.

Aqidah shahihah yang diamanatkan kepada Rasulullah, sebagaiman dijelaskan dalam risalah ini adalah aqidah Firqatun Najiyah (golongan yang selamat) Ahlus Sunah wal Jama’ah. Dalam kaitan ini Rasulullah bersabda:
" لاَ تَزَ الُـ طَا ئِفَةُْ مِنْ اُمَّتِي عَلَ اْلحَقِّ مَنْصُوْرَةً لاَ يَضُرُّ هُمْ مَنْ خَذَ لَهُمْ حَتَّى يَأْ تَيِ اَ مْرُ اللهِ سُبْجَا نَرُ "
“Akan tetapi ada segolongan dari ummatku tegak di atas dasar kebenaran, dan mendapat pertolonan Allah tak menghiraukan orang yang mengecewakan mereka sampai akhirnya datang perintah dari Allah Subhannahu wa Ta'ala .”

Masih dalam masalah yang sama, Rasulullah bersabda:
" اِقْتَرَ قَتِ اْليَهُوْدُعَلَ اِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَافْتَرَ قَتِ النَّصَا رَحَ عَلَ اشْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ هَذِه اِلآُامَّةُ عَلَ ثَلاَ ثٍ وَسَبْحِيْنَ فِرْ قَتً،كُلُّهَافىِ الَنَّارِ،اِلاَّوَاحِدَةً، فَقَالَ الصَّحَابَتُ : مَنْ هِيَ يَارَسُوْ لَ اللهِ ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَ مِثْلِ مَاأَنَاعَلَيْهِ وَاصَحْحَابِىْ "
“Telah terpecah belah golongan Yahudi menjadi 71 golongan Nashrani terpecah menajdi 72 golongan. Sementara ummat ini (ummat Islam) akan terpecah menajdi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu saja.” Para sahabat bertanya, “siap golongan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa saja yang ber-i’tiqad seperti aku dan para sahabatku.”

Golongan yang dimaskud oleh Rasulullah adalah golongan yang berpegang teguh dan ber-istiqamah terhadap aqidah Rasulullah dan para shabatnya. Adapun orang-orang yang menyembah berhala, menyembah malaikat, aulia, jin, pohon-pohon, batu-batu, dan lain sebagainya. Mereka inilah yang tak mengindahkan seruan Rasulullah, bahkan menentang dan melawannya, seperti yang diperbuat oleh kaum kafir Quraisy serta berbagai kelompok lainya kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam. Mereka telah meminta sembahan-sembahan bahan itu untuk memenuhi kebutuhan mereka, menyembuhkan, dan memenangkan atas musuh-musuh mereka, menyerahkan qurban, serta bernadzar untuk sesembahan-sesembahan itu. maka tatkala Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam mengingkari bentuk penyembahan seperti itu, dan mengajak mereka untuk ikhlas beribadah kepada Allah semata, mereka terkejut dan terheran-heran, dan serta merta mengingkari dan menolak dengan sengit da’wah yang suci dan agung itu. mereka berkata dengan sinis:
“Mengapa ia menjadikan Tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan.” (Shaad: 5)

Itulah sambutan kaum kafir Qurasy terhadap seruan Nabi. Namun, Rasulullah tak mengendurkan seru-anya, beliau terus mengajak dan mengajak mereka un-tuk mengikuti petunjuk Allah, memperingati mereka tentang bahaya syirik, serta menjelaskan dengan penuh kesabaran, amanat yang sedang diembannya. Akhirnya Allah memberi petunjuk kepada orang yang di kehendaki-Nya, sehinga mereka masuk dalam ikatan Dinullah secara berbondong-bondong. Atas kehendak Allah pula, melalui usaha da’wah Rasulullah yang tak pernah henti, serta gelora jihad para sahabat yang tak pernah surut, Dinul Islam berhasil ditegakkan dan dimenangkan atas din lainya.

Namun, keadaan umat Isalm semakin lama semakin berubah. Kebodohan meliputi kebanyakan manusia, sehingga banyak ummat Islam yang kembali kepada cara hidup jahiliyah. Mereka mengagungkan para nabi, aulia, dan ulma, secara berlebihan (al ghu-luw), dan menjadikan mereka sebagai tempat meminta pertolongan dan perlindungan. Kemusyrikan itu berlan-jut hingga sekarang. Ummat Islam menjadi tak mengerti lagi makna kalimah “Laa Ilaha Illallah”, bahkan secara tak langsung mengingkarinya, seperti halnya yang dilakukan oleh kaum kafir Qurasy dahulu. Mereka kembali mengatakan, seprti kaum qurasy dahulu mengatakan:
“…Kami tidak menyuembah mereka melain-kan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya…” (Az Zumar : 3)

Namun, tentu saja semua pernyataaan itu adalah sangkalan belaka, dan Allah membatalkan itu semua serta menegaskan bahwa barangsiapa yang menyembah selain Dia, maka dia telah syirik kepada-Nya, dan ia telah jatuh kepada kekafiran. Allah berfirman:
“Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak dapat memberikan manfaat dan mendatangkan mudharat bagi mereka. Lalu merka berkata,’Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah , “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit maupun di bumi? Mahasuci Allah dan Maha tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” (Yunus : 18)

Allah Subhannahu wa Ta'ala menegaskan bahwa bentuk penyem-bahan terhadap apa pun selain kepada-Nya adalah syirik besar, sekalipun mereka menyebut-nya sebagai ibadah serta sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Allah berfirman, yang artinya:
“…Sesungguhnya Allah telah memutuskan di antara merka tentang apa yang mereka perselisihkan. Seseungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (Az Zumar : 3)

Segala bentuk peribadatan yang mereka tujukan selain kepada Allah, seperti doa, rasa cinta, takut adalah bentuk kekufuran kepada Allah. Dan pernyataan bahwa sesembahan mereka akan memdekatkan diri mereka kepada Allah, adalahdusta besar.

Pada zaman sekarang ini, di antara aqidah kufur yang bertentangn dengan aqidah shahihah sebagaimana yang dituturkan kepada para rasul, adalah pola pikir dan pola hidup Marxisme, Leninisme, Sosialisme, Ba’atsiyah dan yang semacamnya. Doktrin-doktrin yang mereka anut berada di dalam kerangka pikiran tidak adanya aIlah dan konsep hidup materialisme. Secara langsung, mereka mengingkari adanya hari kiamat, serga, meraka, dan ajaran-ajaran Islam lainya. Maka tak pelak lagi, ajaran hidup semacam ini bertentangan total dengan semua syariat sanawi. Inilah jalan hidup yang berujung pada jurang penderitaan dan seburuk-buruknya balasan, di dunia maupun di akhirat.

Di antara aqidah yang bertentangan dengan aqi-dah yang lurus dan bersih itu adalah aqidah yang di yakini kaum kebathinan dan sebagian ajaran kaum sufi, bahwa sebagian dari mereka sebut wali-wali ikut ber-sama Allah dalam mengatur, merancang urusan alam semesta dan mereka disebut sebagai aqthaab, Autaad, Aghwaats, dan yang semacamnya sebagai tuhan-tuhan. Ini adalah syirik yang paling besar dalam tauhid Ru-bubiyyah. Dan bentuk kemusyrikan ini adalah lebih bu-ruk dari tindak kemusyrikan yang dilakukan kaum kafir Arab dulu, sebab kaum kafir Arab saat itu tidak menye-kutukan dalam tauhid Rububiyyah, namun mereka menyekutukan-Nya dalam ibadah. Dalam hal tauhid Rububiyyah, orang-orang Arab jahili itu masih menga-kui keesaan Allah, sebagaimana tertera dalam firman Allah:
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka ?, niscaya mereka menjawab: ‘Allah.’” (Az Zuk-hruf : 87)

Dalam ayat-Nya yang lain, Allah berfirman:
“Katakanlah,‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapkah yang kuasa menciptakan pendengaran dan pengelihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah,‘Mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?’” (Yunus : 31)

Dan banyak lagi ayat-ayat yang menyatakan seperti ini.
Kemusyrikan yang dilakukan banyak orang pada zaman sekarang ini lebih buruk dibandingkan kaum musyrikin pendahulunya. Di antara mereka ada yang menyekutukan Allah dalam hal tauhid Rubuibiyyah, dan kemusyrikan ini mereka lakukan baik dalam keadaan susah maupun dalam keadaan lapang. Sebagai contoh adalah mereka yang melakukan berbagai tindak kemusyrikan di sisi Al Husain, Al Badawi, dan kubu-ran-kuburan lainya di Mesir. Mereka juga dapat kita temui di sisi Al Idrus di Aden, Al Hadi di Yaman, Ibnu Arabi di Syam, dan Syaikh Abdul Qadir Jailani di Iraq, serta kuburan-kuburan lainya. Bentuk-bentuk penyele-wengan aqidah semacam ini telah mendorong banyak orang untuk mengambil hak-hak Allah. Namun sayangnya banyak orang yang tidak mau mengingkarinya serta enggan untuk menjelaskan kepada mereka prinsip-prinsip ketauhidan sebagaimana yang telah diserukan oleh Nabi Muhammad, serta para nabi dan rasul sebelumnya. Shalawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada mereka semua.
إِنَّالِلَّهِ وَ إِنَّاإِلَيْهِ رَجِعُونَ
“Maka sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.”

Sementara itu, ada juga sekelompok ummat yang bertentangan dengan aqidah shahihah dalam hal asma dan sifat Allah. Aqidah yang mereka ikuti adalah aqidah bid’ah dari golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah dan memutarbalikan sifat-sifat Allah Subhannahu wa Ta'ala dan memutarbalikkan sifat-sifat kesempurnaan Allah dengan sifat-sifat yang ghaib dan sifat-sifat yang mustahil bagi-Nya. Maha tinggi Allah dari segala yang mereka ucapkan.

Termasuk golongan di atas, adalah sekelompok orang yang menafikan sebagian sifat Allah dan menetapkan sifat-sifat lainya bagi Allah. Kelompok ini adalah kelompok Asy’ariyah. Merka menetapkan beberapa sifat bagi Allah dan membandingkannya dengan sifat-sifat yang dinafikan.merka lalu membuat ta’wil atas sifat-sifat itu dengan dalil-dalil yang menyalahi dalil pendengaran dan dalil akal serta bertentangan dengan aqidah shahihah.

Dalam masalah asma dan sifat Allah ini, Ahlussunah wal Jama’ah telah menetapkan bagi Allah nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, baik yang telah ditetapkan sendiri oleh Allah dalam Al Qur’an atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya, Muhammad shallallaahu alaihi wasalam. Ahlus-sunnah menjauhkan diri dari penyertaan Allah dengan makhluk-Nya. Ahlussunnah menerima sepenuhnya ketetapan Allah dan rasul-Nya mengenai sifat dan asma-Nya, tanpa menambah atau menguranginya, sehingga mereka terhindar dari berbagai bentuk kontradiksi akibat penafsiran manusia. Inilah jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan dunia dan ahirat Ash-shirot al mustaqim, jalan yang dilalui oleh pendahulu ummat ini. 



Aqidah Shohihah Versus Aqidah Bathilah (Bagian Kedua)

Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

source : buttermilkpress.com
Iman Kepada Para Malikat

Iman Kepada para malikat mengandung makna keyakinan bahwa Allah mempunyai malaikat-malaikat yang diciptakan untuk menaati perintah-perintah-Nya. Para malaikat itu disifati sebagai hamba-hamba yang dimulyakan yang senantaisa melaksanakan perintah:
Allah berfirman:
“Allah mengetahui apa yang ada di hadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (Al Anbiya : 28)

Para malaikat itu terdirti dari banyak kelompok, diantaranya ada yang diperintahkan untuk mengangkat ‘Arsy, menajga surga, menjaga nereka, mencatat amal perbuatan manusia, dan lain-lainya.

Seorang muslim juga harus mengimani malaikat-malaikat yang nama-namanya diperkenankan Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu diantaranya: Jibril, Mikail, Malik yang menjaga nereka, serta Israfil yang bertugas meniup sangkakala.

Berita-berita mengenai para malaikat tersebut juga terdapat dalam banyak hadits shahih, diantaranya adalah hadits dari Aisyah Radhiallaahu anha yang menyatakan bahwa Nabi telah bersabda:

" خُلِقَتِ المَلاَ ئِكَةُ مِنْ نُوْرٍوَخُلِقْاَلجْاَنُّ مِنْ مَا رِ جٍ مِنْ نَـارِ وَخُلِقَ اَ‍دَمُ ِممَّا وصِفَ لَكُمْ "

“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari percikan api, sementara adam diciptakan dari apa yang sudah kamu kenal.” (HR. Muslim) 

Iman Kepada Kitab-Kitab

Secara umum, seorang muslim harus meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dab rasul-Nya dengan tujuan untuk menjelaskan kebenaran. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Dan telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan nereaca (keadilan) supaya manusia dapat me-laksankan keadilan itu….” (Al Hadid: 25)

Firman Allah, yang artinya:
“Dahulu manusia itu adalah ummat yang satu, (setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Allah menurunkan bersama merek akitab yang benar untuk memberi keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan….” (Al Baqarah : 213)

Selanjutnya, secara khusus seorang muslim harus meyakini kitab-kitab yang nama-namanya telah diberitakan Allah kepada manusia, seperti Taurat, Injil, Zabur dan Al Qur’an.
Kitab Al Qur’an adalah kitab yang paling utama diantara kitab-kitab lainya. Al Qur’an , merupakan penutup, dan pembenaran terhadap kitab-kitab lainya. Al Qur’an itulah yang harus diikuti oleh seluruh umat manusia di dunia ini. Allah menurunkan Al Qur’an kepada Muhammad Rasulullah untuk dijadikan sumber hukum bagi seluruh manusia.

Di samping sebagai penyejuk dan penyembuh hati, sebagai penerang, atas segala masalah, serta sebagai petunjuk dan rahmat untuk semesta alam. Allah berfirman:
“Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan, yang diberkahi; maka ikutilah dia, dan bertaqwalah agar kamu sekalian mendapat rahmat dari Allah.” (Al Anam : 155)

Firman Allah , yang artinya:

“…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An Nahl : 89)
“Katakanlah (Muhammad): ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu sekalian, yaitu Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tiada Ilah selain Dia, yang meng-hidupkan dan mematikan. Oleh karena itu, berimanlah kepada Allah dan utusan-Nya seo-rang nabi yang ummi, yang beriman keapda Al-lah dan firman-firman-Nya, maka ikutilah Dia agar kamu mendapat petunjuk.” (Al Araf : 158)


Iman Kepada Rasul

Secara umum, setiap muslim harus beriman bahwa Allah Ta'ala telah mengutus kepada hamba-hamba-Nya beberapa rasul dari jenis mereka sendiri, untuk menyampaikan kabar gembira dan pemberi peringatan. Mereka itulah para da’i kebenaran yang hakiki. Maka barangsiapa yang menyambut ajakannya, dia akan ber-hasil mencapai puncak kebahagiaan. Dan barangsiapa yang menentang seruan mereka, ia akan terjerumus dalam kesengsaraan dan penyesalan.

Allah berfirman:
“Dan kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang utusan, (untuk menyerukan)” beribadah-lah hanya kepada Allah dan jauhilah thaghut (se-sembahan selain Allah)…” (An Nahl : 36)

Firman Allah, yang artinya:
“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan Allah adalah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (An Nisa : 165)

Secara khusus, setiap muslim harus meyakini rasul-rasul yang namnaya telah diberitakan dalam Al Qur’an dan yang dijelaskan oleh Rasulullah diantara nabi-nabi itu adalah: Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, dan Nabi Muhammad, sebagai nabi terkhir. Kepada para nabi itu, kita haturkan shalawat dan semurni-murninya salam.
Nabi yang paling utama di antara para nabi adalah Nabi Muhammad. Dia adalah para nabi.
Allah berfirman:
“Bukanlah Muhammad itu bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al Azab : 40)

--

Aqidah Shohihah Versus Aqidah Bathilah (Bagian Pertama)

Oleh : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz


source : gallerydunia.com
Muqaddimah

Sanjungan dan pujian hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, tidak ada lagi nabi setelahnya. Shalawat dan salam juga semoga dilimpahkan atas keluarga dan sahabatnya.

Buku kecil ini mengetengahkan masalah aqidah, masalah yang sangat penting dan menjadi fondasi bagi Dinul Islam. Sebagaimana dimaklumkan oleh ummat Islam, berdasarkan dalil-dalil syar’iyah dari Al Qur’an dan As Sunnah, bahwa setiap amal serta ucapan dipan-dang benar dan dapat diterima, hanya bila berdasarkan aqidah yang benar. Maka jika aqidah itu tidak benar, dengan sendirinya setiap tindakan maupun ucapan yang bersumber dari aqidah tadi adalah tidak sah atau batal. Allah berfirman:
“…Barangsiapa yang mengingkari keimanan maka batallah amalnya, dan ia termasuk orang-orang yang merugi di akhirat nanti.” (Al Maidah : 5)

“Dan telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan (nabi-nabi) yang sebelum kamu, jika kamu mempersekutukan Allah, pasti hapuslah amal perbuatanmu, dan kamu pasti tergolong orang-orang yang merugi.” (Az Zumar 65)

Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya Al Amin telah memberikan petunjuk, bahwa aqidah yang benar itu meliputi: iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada para rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadar baik dan buruk . keenam prinsip keimanan itulah sumber aqidah yang benar. Dengan keenam prinsip keimanan itu pula Allah menurunkan kitab-kitab-Nya yang mulia dan mengutus rasul-Nya. Cabang dari prinsip-prinsip ini diantaranya adalah keimanan pada hal-hal yang ghaib.

Dalil yang mendasari prinsip-prinsip itu tertera banyak ayat-ayat Al Qur’an. Diantaranya adalah :
“Bukanlah kebaikan jika kamu sekalian men-ghadap wajah-wajahmu ke timur dan barat, namun kebaikan itu adalah barangsiapa yang beriman kepada Allah, hari akhir, malikat, kitab-Nya, dan para nabi….” (Al Baqarah : 177)

“Rasul telah beriman terhadap apa yang telah diturunkan oleh Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dan rasul-rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan satu di antara mereka…” (Al Baqarah : 285)

“Wahai orang-orang yang beriman, percayalah kamu sekalian kepada Allah, rasul-Nya, kitab yang diturunkan kepada rasul-Nya (Muhammad) dan kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang ingkar kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, utusan-utusan-Nya, dan hari akhir , maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya.” (An Nisaa’ : 136)

“Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa Allah itu Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam kitab (Laul Mahfuz), dan hal itu mudah bagi Allah.” (Al Hajj : 70)

Di samping ayat-ayat di atas, hadits-hadits shahih juga banyak yang menegaskan hal yang sama. Di antara sejumlah hadits itu, terdapat sebuah hadits shahih yang mashur, diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari hadits Amirul Mukminin Umar bin Khaththab yang menyatakan bahwa Malaikat Jibril pernah bertanya kepada Nabi Shalallaahu alaihi wasalam tentang iman, maka jawab Nabi kepadanya:
اَْلإِ يْمَا نُ أَ نْ تُوْ مِنَ بِا للهِ وَمَلاَ ئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُ سُلِهِ وَاْليَوْمِ الا~ خِرِ وَتُؤْمِنَ بِاْلقَدَرِخَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman itu adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dan rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta beriman kepada qadar baik dan buruk.” (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)

Keenam prinsip keimanan tersebut kemudian di bagi lagi menjadi cabang-cabang , diantaranya adalah kewajiban seorang muslim untuk percaya sepenuh hati terhadap hak Allah Subhannahu wa Ta'ala, terhadap tempat kembali di hari akhir, dan perkara-perkara ghaib lainya. 


Iman Kepada Allah

Di antara pengertian iman kepada Allah, adalah iman atau yakin bahwa Allah adalah Illah (sembahan) yang benar. Allah berhak di sembah tanpa menyembah kepada yang lain, karena Dialah pencipta hamba-hamba-Nya, dialah yang memberi rezeki kepada manu-sia, yang mengetahui segala perkara yang dilakukan manusia, baik yang dilakukan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Dialah Yang Maha Kuasa, yang memberikan pahala bagi yang taat kepada-Nya, dan mengadzab manusia yang berbuat maksiat. Untuk tujuan ibadah inilah Allah menciptakan jin dan manu-sia, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya, yang artinya:


“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali un-tuk beribadah kepada-Ku. Aku tak mengharapkan rezeki dari mereka, juga tidak mengharap makanan dari mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezeki, yang memilki kekuatan lagi san-gat kokoh.” (Adz Dzariat : 56-58)

“Hai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap; dan Dia menghasilkan den-gan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengada-kan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahuinya.” (Al Baqarah 21-22)


Dalam ayat-Nya yang lain, Allah juga menegaskan bahwa ia mengutus para rasul kepada manusia untuk mengingatkan mereka agar beribadah kepada Allah semata. Ia berfirman :
“Dan Sesungguhnya telah Kami utus pada tiap-tiap ummat seorang rasul agar mereka beribadah kepada Allah dan mejauhi taghut (sesembahan selain Allah)…” (An Nahl 36)
“Dan tidaklah kami utus seorang rasul sebelum kamu (Muhammad) kecuali kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Ilah yang patut dis-embah selain Aku, oleh karena itu sembahlah Aku.” (Al Anbiya’ : 25)
“Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara rinci, yang di-turunkan dari sisi Allah yang Mahabijaksana dan Mahatau. Agar kamu tidak menyembah selain Al-lah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira keapdamu dari-Nya.” (Hud : 1-2)


Hakikat ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala macam bentuk perhambaan seperti, doa, shalat, shaum, qurban, nadzar, serta berbagai macam ibadah lainya yang dilakukan dengan penuh ketundukan dan kepatuhan kepada Allah, disertai rasa cinta kepada-Nya dan rasa hina dalam naungan keagungan-Nya.

Nash-nash di bawah ini melengkapi dalil-dalil di atas:
“Maka sembalah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya ingatlah hanya kenpunyaan Allah-lah din yang bersih (dari syirik)….” (Az Zummar 2-3)
“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia…” (Al Isra : 23)
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (Al Mu’min : 14)

Sebauh hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Mu’az menyatakan bahwa Rasulullah telah bersabda:
"حَقُّ اللهِ عَلَىالعِبَادِأَنْ يَعْبُدُ وْهُ وَلاَيُشْرِكُوْاِبحِ شَيْأً "
“Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menye-kutukan-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim)


Iman kepada Allah juga mencakup keyakinan terhadap semua yang telah diwajibkan Allah keapda manusia, diantaranya yang tercakup dalam Rukun Islam, yaitu: syahadat (persaksian) bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; mengeluarkan zakat; shaum bulan Ramadhan; dan haji ke Baitullah Al Haram bagi yang mampu melakukkanya. Diantara lima rukun tersebut, yang paling penting adalah syahadat Laa Ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah.

Shahadat Laa Ilaha Illallah bermakna ketulusan ibadah tertuju hanya kepada Allah semata dan penolakan terhadap sesembahan lain. Tidak ada yang patut disembah selain Allah. Oleh karen itu, setiap yang dis-embah selain Allah, baik berbentuk manusia, malaikat, jin ,atau yang lainya, semuanya itu bathil atau bertolak. Allah berfirman:
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Rabb Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil.” (Al Hajj : 62)


Allah menciptakan jin dan manusia, mengutus para rasul-Nya, serta menurunkan kitab-kitab-Nya ,adalah demi kepentingan yang pokok ini. Selanjutnya, marilah kita waspadai agar kita tidak menyertakan seseorang atau sesuatu apapun selain Allah dalam pelaksanaan seluruh kegiatan ibadah kita, sehinga tidak kita serahkan keikhlasan kita selain kepada Allah, karen dialah penolong dan sandaran harapan kita.

Di antara pengertian lainya dari prinsip iman kepada Allah, adalah keyakinan bahwa Allah Ta’ala pencipta alam semesta. Dialah pengatur alam semesta dengan ilmu dan kekuasaan yang dimiliki-Nya . dialah Raja di dunia dan akhirat, Rabb semesta Alam.

Allah berfirman:
“Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan Dia sebagai pemeliharanya.” (Az Zumar : 62)
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang te-lah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada saing yang mengi-kutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan, dan bintang-bintang, masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta Alam.” (Al A’raf : 54)


Iman keapda Allah berarti pula iman kepada nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung seperti yang tertera dalam Al Qur’an dan telah ditetapkan pula oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wa-salam, tanpa mengubah, mengingkari, membatasi, dan menyerupakan dengan yang lain. Setiap muslim wajib menyakininya tanpa mempersoalkannya. Nama-nama itu memiliki arti yang agung dan mulia, sesuai dengan sifat-sifat Allah sendiri. Allah berfirman:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Asy Syuro : 11)
“Maka janganlah kamu mengadakan perumpa-maan-perumpamaan bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahuinya.” (An Nahl : 74)


Inilah aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, aqidah para sahabat Rasulullah dan para pengikutnya yang setia. Dan aqidah ini pulalah yan daimbil sebagai rujukan oleh Imam Abul Hasan Al Asy’ari dalam kitab-nya “Al Maqolat an Ashhabil Hadits wa Ahlissunnah”, dan juga diambil oleh para ahli ilmu dan iman.
Al Imam Al Awza’i berkata bahwa Az-Zuhri dan Makhul pernah ditanya tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat Allah Ta’ala; mereka berdua menajwab: “Perlukah itu seperti apa yang sudah datang.”
Al Walid bin Muslim pernah berkata bahwa Imam Amlik, Al Awza’i, Al Laits bin Saad, dan Shofyan Ats Tsauri pernah ditanya tentang berita yang datang mengenai sifat-sifat Allah; mereka semua menjawab, “Perlakukan seperti apa yang datang , dan jan-ganlah kamu persoalkan.”

Al Imam Al Awza’i juga mengatakan, “ Kami beserta para tabi’in sepakat bahwa sesungguhnya Allah di atas ‘Arsy, dan kami mempercayai sebagaimana yang tersebut dalam Sunnah Rasul tentang sifat-sifat-Nya.”
Dan tatkala Rabi’ah bin Abi Abdurahman gurunya Imam Malik ditanya tentang, ia menjawab “Al istiwa (persemayaman) itu tidak samar, sedang mempersoalkan adalah diluar kemampuan akal. Dari Allah datangnya risalah ini, tanggung jawab Rasulullah untuk menyampaikannya, dan kewajiban kita membenarkannya.”

Demikian pula halnya ketika Imam Malik rahimahullah ditanya tentang hal itu, beliau menajwab, “Persemayaman itu sudah jelas artinya tapi bagaimana hakikatnya tidak diketahui, sedang beriman kepada perkara itu adalah kewajiban dan menanyakannya adalah bid’ah.” Kemudian ia berkata kepada si penanya, “Saya tidak melihat kamu keculai sebagai orang bodoh.” Imam Malik lalu memerintahkannya keluar.

Telah diriwayatkan hal seperti itu dari Ummmul Mu’minin Ummu Salmah Radhiallaahu anha.
Al Imam Abu Abdurrahman Abdillah bin Al Mubarak rahimahullah berkata, “Kami mengerti bahwa Rabb kami itu diatas langit, bersemayam diatas ‘arsy, tidak bersatu dengan makhluknya.”

Banyak pernyataan para imam yang senada dengan kutipan-kutipan diatas, namun tentu saja tidak dapat dimuat dalam buku kecil ini. Para pembaca disarankan untuk merujuk langsung kepada kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama Ahlussunnah yang berkaitan dengan masalah ini, misalnya kitab “As sunnah” karangan Abdullah bin Al Imam Ahmad, kitab “At Tauhid” oleh Al Imam Al Jalil Muhammad bin Huzaimah, kitab ‘As Sunnah” karya Abul Qasim Al Laalakaiy Aththobariy, kitab “As Sunnah” karya Abu Bakar bin Abi Ashim, dan risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang merupakan jawaban untuk penduduk Hamaa, Syiria. Di dalam risalah Ibnu Taimiyah tersebut, beliau menjelaskan aqidah Ahlussunnah dengan sangat rinci, dengan mengutip ucapan imam-imam lain serta berbagai dalil syar’iyah maupun aqliyah, dan tercakup di dlamanya bantahan-bantahannya terhadap penentang aqidah Ahlussunnah.

Setiap orang yang pendapatnya bertentangan dengan Ahlussunnah dalam masalah keyakinan terhadap asma dan sifat Allah tentu menyimpang dari dalil naqli dan ‘aqli, serta terperosok dalam kontradiksi nyata dalam setiap yang ditetapkan dan dinaikan. Ahlussunnah telah menetapkan asma dan sifat Allah sebagaimana yang ditetpkan-Nya sendiri dalam Al Qur’an serta sebagimana yang dijelaskan oleh Rasullullah Muhammad tanpa tamtsil (menserupakan dengan makhluk) dan mereka mensucikan Allah dari segala yang menyerupakan-Nya dengan makhluk tanpa ta’thil (menolak asma dan sifat-sifat-Nya) sehingga mereka terhidar dari kerusakan dan kebathilan serta mengamalkan semua dalil.

Inilah sunnah Allah bagi yang berpihak keapda kebenaran, dengan itulah Allah mengutus para nabi dan rasul-Nya. Para nabi dan rasul itulah pengemban hakikat kebenaran untuk dimenangkan di atas kebathilan.
Allah berfirman:
“Bahkan kami melontarkan yang haq kepada yang bathil, lalu yang haq itu mengahncurkan-nya maka dengan serta merta yang bathil itu len-yap.” (Al Anbiya : 18)
“Tidak orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan keapdamu sesuatu yang benar dan pal-ing baik penjelasannya.” (Al Furqan : 33)


Dengan memperhatikan ayat-ayat di atas, para ulama Ahlussunnah semakin berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, khususnya yang berkenaan dengan dzat Allah, misalnya ayat yang telah disebutkan terdahulu, yaitu:
“Sesungguhnya Rabbmu Allah Subhannahu wa Ta'ala yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.” (Al A’raf : 54)


Berkaitan dengan ayat diatas, Al Hafidz Ibnu Katsir mengatakan. “Orang-orang mempunyai banyak sekali pendapat tentang masalah ini, tetapi tidak dapat dijadikan sandaran. Kita mengikuti madzab Salafuna Sahlih (para pendahulu kita) seperti Imam Malik, Al Awza’i Ats Tsauri, Al Laits bin Saad, Imam Syafi’i. Imam Ahmad. Ishaq bin Rahawi, serta ulama-ulama lainya, baik yang dahulu maupun yang sekarang. Yaitu: perlakukanlah ayat itu sebagai mana adanya, tanpa dipersoalkan, diserupakan, atau diubah. Dan sangkaan yang tergesa-gesa oleh madzab yang menyerupakan Allah dengan makhluk lain, semuanya tertolak, karena sesungguhnya Allah Ta'ala tidak boleh disamakan dengan makhluknya dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya: Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

Pendapat Ibnu katsir tersebut didukung dan dipertegas lagi oleh sejumlah imam, daintaranya oleh Na’im bin Hamad Al Khuzaiy, guru Imam Al Bukhari. Ia menyatakan, “Barangsiapa menyamakan Allah dengan makhluk lain, maka dia telah kafir. Dan barangsiapa mengingkari sifat Allah maka dia pun telah kafir. Apa yang telah Allah sifatkan tentang diri-Nya, Apa yang telah ditetapkan oleh rasul-Nya, bukanlah merupakan persamaan dengan makhluk. Barangsiapa yang telah menetapkan sifat Allah, sebagaimana yang tertera dalam ayat-ayat dalam Al Qur’an dan berita-berita yang benar sesuai dengan kebesaran Allah Ta’ala tanpa mengurangi sedikit pun keagungan-Nya, dia telah melangkah pada jalan kebenaran.” 


Senin, 18 Juli 2011

Tanda-Tanda Kiamat

Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


source : koma5design.wordpress.com
Tentang datangnya hari Kiamat, maka tidak ada seorang pun yang mengetahui, baik Malaikat, Nabi, maupun Rasul, masalah ini adalah perkara ghaib dan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah yang mengetahuinya. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


“Mereka bertanya kepadamu tentang Kiamat: ‘Kapankah terjadinya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” [Al-A’raaf: 187]


Juga firman-Nya:


“Manusia bertanya kepadamu tentang hari Berbangkit. Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Berbangkit itu hanya di sisi Allah.’ Dan tahukah kamu wahai (Muhammad), boleh jadi hari Berbangkit itu sudah dekat waktunya.” [Al-Ahzaab: 63]


Juga ketika Malaikat Jibril Alaihissalam mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bertanya:


...فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ؟


“Kabarkanlah kepadaku, kapan terjadi Kiamat?”


Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab:


مَا الْمَسْئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.


“Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” [1]


Meskipun waktu terjadinya hari Kiamat tidak ada yang mengetahuinya, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tanda-tanda Kiamat tersebut. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada ummatnya tentang tanda-tanda Kiamat. Para ulama membaginya menjadi dua: (pertama) tanda-tanda kecil dan (kedua) tanda-tanda besar.


Tanda-tanda kecil sangat banyak dan sudah terjadi sejak zaman dahulu dan akan terus terjadi di antaranya adalah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, munculnya banyak fitnah, munculnya fitnah dari arah timur (Iraq), timbulnya firqah Khawarij, munculnya orang yang mengaku sebagai Nabi, hilangnya amanah, diangkatnya ilmu dan merajalelanya kebodohan, banyaknya perzinaan, banyaknya orang yang bermain musik[2] , banyak orang yang minum khamr (minuman keras) dan merebaknya perjudian, masjid-masjid dihias, banyak bangunan yang tinggi, budak melahirkan tuannya, banyaknya pembunuhan, banyaknya kesyirikan, banyaknya orang yang memutuskan silaturrahim, banyaknya orang yang bakhil, wafatnya para ulama dan orang-orang shalih, banyaknya orang yang belajar kepada Ahlul Bid’ah, banyaknya wanita yang berpakaian tetapi telanjang[3], dan lain-lainnya. [4]


Banyak sekali dalil tentang hal ini, diantaranya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :


اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِيْ، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِيْنَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا، ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَتْهُ، ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُوْنُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي اْلأَصْفَرِ، فَيَغْدِرُوْنَ فَيَأْتُوْنَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِيْنَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اِثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.


“Perhatikanlah enam tanda-tanda hari Kiamat: (1) wafatku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3) wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, (4) melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, (5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan (6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.” [5]


Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam


إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا.


“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah : diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, diminumnya khamr, dan merajalelanya perzinaan.” [6]


Kemudian munculnya tanda-tanda yang kedua, yaitu tanda-tanda Kiamat yang besar sebagai tanda telah dekatnya hari Kiamat. Penulis khususkan pembahasan tentang sebagian tanda-tanda Kiamat yang besar, karena ada sebagian orang (golongan) yang menolak tentang tanda-tanda besar tersebut berdasarkan akal, ra’yu dan hawa nafsu. Padahal para ulama Ahlus Sunnah sudah membahas permasalahan ini dalam kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits, dan kitab-kitab ‘aqidah mereka.


Pembahasan mengenai permasalahan ini mengikuti jejak para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka, seperti dalam kitab Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah [7] dan kitab-kitab lainnya.


Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani tentang adanya tanda-tanda Kiamat yang besar (kubra) seperti,[8] keluarnya Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa Alaihissalam dari langit, Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat, dan yang lainnya.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan Malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), atau kedatangan Rabb-mu atau kedatangan sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengu-sahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu sesungguhnya kami pun menunggu (pula).’” [Al-An’aam: 158]


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّى تَكُوْنَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، ودَابَّةٌ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ


“Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda: (1) penenggelaman permukaan bumi di timur, (2) penenggelaman permukaan bumi di barat, (3) penenggelaman permukaan bumi di Jazirah Arab, (4) keluarnya asap, (5) keluarnya Dajjal, (6) keluarnya binatang besar, (7) keluarnya Ya’juj wa Ma’juj, (8) terbitnya matahari dari barat, dan (9) api yang keluar dari dasar bumi ‘Adn yang menggiring manusia, serta (10) turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissalam.” [9]


[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, PO BOX 7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]
_________
Footnotes
[1]. HSR. Muslim (no. 2, 3, 4 dan 8), Abu Dawud (no. 4605, 4697), at-Tirmidzi (no. 2610), Ibnu Majah (no. 63) dan Ahmad (I/52).
[2]. Musik di dalam Islam hukumnya haram, sebagaimana haramnya khamr, zina, perjudian, dan lain-lain.
[3]. Terbukanya aurat termasuk dosa besar.
[4]. Untuk mengetahui lebih lengkap, lihat Asyraathus Saa’ah (hal. 57-235), oleh Dr. Yusuf bin ‘Abdillah al-Wabil.
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 3176), dari Sahabat ‘Auf bin Malik z.
[6]. HR. Al-Bukhari (no. 80).
[7]. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 499) tahqiq Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.
[8]. Untuk lebih lengkapnya lihat an-Nihaayah fil Fitan wal Malaahim karya Ibnu Katsir, tahqiq Ahmad Abdusy Syaafi’, cet. Daarul Kutub al-Ilmiyah 1411 H, Asyraathus Saa’ah oleh Dr. Yusuf al-Wabil, cet. Maktabah Ibnul Jauzi, Qishshatul Masiih ad-Dajjaal wa Nuzuuli ‘Isa Alaihissalam wa Qatlihi Iyyaahu oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. Maktabah Islamiyyah dan Fashlul Maqaal fii Raf’i ‘Isa Hayyan wa Nuzuulihi wa Qatlihid Dajjaal oleh Dr. Muhammad Khalil Hirras, cet. Maktabah As-Sunnah.
[9]. HR. Muslim (no. 2901 (40)), Abu Dawud (no. 4311), at-Tirmidzi (no. 2183), Ibnu Majah (no. 4055), Imam Ahmad (IV/6), dari Sahabat Hudzaifah bin Asiid Radhiyallahu 'anhu dan ini lafazh Muslim. At-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.” Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Tahqiiq Musnadil Imaam Ahmad (no. 16087). 


sumber : almanhaj.or.id