Bismillah ...

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyaat: 56).

“Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (An Nahl: 36).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk surga.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Tauhid adalah perkara yang paling penting dalam agama Islam. Sebagai tujuan diutusnya para Rasul, serta sebagai kewajiban pertama dan terakhir bagi manusia yang berakal.

Pelanggaran terhadapnya adalah bid'ah yang paling besar sebagaiman firman Allah :

“Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cinta Kepada Allah

"Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman, ....

Mereka Yang Berjatuhan Dari Dakwah Salafiyah

Namun, bagi mereka yang menghendaki agar dakwah salafiyah inilah yang berkhidmat dan menanggung mereka, lalu dicatat dan mereka ditampakkan sebagai tokoh dalam dakwah ini, hanya karena menisbatkan diri.....

Kesalahan Kesalahan Dalam Beraqidah

..Mereka mencukupkan ( لا إله إلا الله) hanya di lisan saja tanpa menyadari, bahwa kalimat tauhid ini menuntut perkara-perkara lain. Diantara perkara-perkara yang dituntut adalah nafi dan itsbat. ...

Menyelewengkan Makna La Ilaha Illallah, Wujud Penyimpangan Aqidah

Tauhid merupakan kewajiban yang pertama dan paling utama untuk diilmui dan didakwahkan. Ia juga merupakan tugas yang paling besar,......

Surat Dari Ibu yang terkoyak hatinya

Anaku…. Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya.

Tampilkan postingan dengan label manhaj. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manhaj. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2012

Tafwidh Dan Mufawidhah

Oleh Ustadz Abu Asma Andre pada 22 April 2012 pukul 20:27 ·
Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
يَا أَيُّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اتّقُواْ اللّهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مّسْلِمُونَ 
 يَآ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْراً وَنِسَآءً وَاتَّقُوْا اللَّهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْباً
يَا أَيُّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اتّقُواْ اللّهَ وَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماًً
أما بعد: فإن أصدق الكلام كلام الله وخير الهدي هدي محمد  وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Pendahuluan :  Telah terjadi kesalah pahaman diantara sebagian orang dengan menganggap bahwasanya ahlussunnah dalam masalah nash - nash asma wa shifat adalah menyerahkan maknanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala, padahal ini adalah sebuah kekeliruan. Sesungguhnya yang diserahkan oleh ahlussunnah bukan maknanya akan tetapi kaifiyatnya sebagaimana tampak dalam ucapan imam - imam as salaf. Dibawah ini ada tulisan ringkas menjelaskan hakikat madzhab mufawidhah berikut penjelasan yang insyaAllah memadai.

Makna Tafwidh Secara Bahasa Dan Istilah :

Tafwidh secara bahasa, sebagaimana dikatakan oleh Al Imam Ibnu Faris rahimahullah adalah : menyerahkan urusannya kepada orang lain. ( Al Qamus Al Muhith hal 651 ).

Al Imam Zainuddin Muhammad Ar Razi rahimahullah berkata : " Tafwidh maknanya adalah mengembalikan kepada yang memberikan. "    ( Mukhtarus Shihah hal 445 - cetakan Darus Salam - Kairo )

Berkata Imam An Nawawi rahimahullah : " Berkata ahli bahasa, maknanya adalah seseorang menyerahkan urusannya atau mewakilkan dan mengembalikan urusannya, dan inilah yang disebutkan oleh Ar Rafi'i. " ( Tahdzib Asma Wa Lughat 1/75 )

Tafwidh secara istilah :  memalingkan lafadh dari zhohirnya kepada ketiadaan makna, tanpa adanya penjelasan tentang apa makna yang diinginkan selanjutnya, bahkan meninggalkan dan menyerahkan maknanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan misalnya mengucapkan : " Allah yang lebih mengetahui akan apa yang diinginkan. " ( An Nizhamul Farid hal 128 lewat perantaraan Tahdzib Asma Wa Lughat 1/75 )

Keadaan Kaum Mufawidhah :

Maka kaum mufawidhah pada hakikatnya beriman kepada lafadz - lafadz yang ada di dalam Al Qur-an dan As Sunnah tanpa kemudian mereka memahaminya - bahkan menyerahkan pemahaman kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah shalallahu alahi wa sallam. Hal ini khususnya terjadi pada dalil - dalil asma wa shifat - sehingga mereka beranggapan bahwa dalil - dalil asma wa shifat adalah tidak dapat terpahami dan mustahil untuk dipahami, dan tidak ada yang memahami maknanya melainkan Allah subhanahu wa ta'ala. Kaum mufawidhah menetapkan shifat bersama dengan menyerahkan makna dan kaifiyatnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala - dan ini bertentangan dengan pendapat ahlussunnah wal jama'ah dimana yang mereka serahkan adalah kaifiyatnya dan mereka memahami maknanya, itulah yang masyhur sebagaimana dimaukan dalam ucapan Al Imam Malik rahimahullah. ( Madzhab Ahlut Tafwidh hal 18 karya Syaikh Ismail bin Rumaih hafidzahullah )

Bangunan Madzhab Mufawidhah :

Lebih lanjut Syaikh Ismail hafidzhullah menjelaskan bangunan madzhab ahlul tafwidh beliau berkata ( Madzhab Ahlut Tafwidh hal 19 ):
1. Keyakinan mereka bahwasanya dhahir nash shifat adalah bersifat mutasyabih *, dan tidaklah mungkin dipahami oleh akal maknanya, dan telah maklum - menurut mereka - bahwasanya ketika disebutkan shifat ( shifat Allah subhanahu wa ta'ala - pent ), maka tidaklah mungkin dipahami dengan sifat makhluk, sehingga menurut akal mereka nash shifat bagi Allah tidak ada yang mengetahui maknanya melainkan Allah subhanahu wa ta'ala.
2. Bahwasanya makna yang disebutkan dalam nash - nash bersifat tidak diketahui oleh makhluk secara jalan ilmu, bahkan ilmunya Allah subhanahu wa ta'ala sembunyikan ilmunya, disinilah pembeda antara madzhab ahlul ta'wil dengan ahlul tafwidh, yang mana ahlul ta'wil** memperbolehkan berijtihad ( dan ini salah - pent ) didalam masalah penetapan asma dan shifat.

Berlepas Dirinya As Salafus Shalih Dari Bid'ah Tafwidh :

Sebagian orang menisbatkan bahwasanya tafwidh adalah madzhab ahlussunnah wal jama'ah - as salafus shalih - dalam masalah ini, dan ini keliru, madzhab As salaf sesungguhnya menyerahkan kaifiyyatnya kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan bukan maknanya ***, dan mereka memahami makna - makna yang disebutkan didalam ayat - ayat maupun hadits - hadits yang terkait dengan asma dan shifat bagi Allah subhanahu wa ta'ala.

Mereka memahami makna istiwa, nuzul, ketinggian, wajah, mata, kaki dan semisalnya dari nash - nash asma wa shifat, dan mereka memahami bahwasanya makna dari wajah bukanlah mata, dan makna dari mata bukanlah nuzul dan seperti inilah pemahaman mereka, dan yang mereka serahkan adalah kaifiyatnya, sebagaimana pendapat ini telah kuat disisi imam - imam ahlussunnah, semisal Al Auzai, Sufyan Ats Tsauri, Malik bin Anas, Laits bin Sa'ad dan selain mereka dari kalangan as salaf yang berkata :
أمروها كما جاءت بلا كيف
" Perlakukan sebagaimana datangnya dan jangan bertanya kaifiyatnya." - hal ini menunjukkan yang mereka serahkan adalah kaifiyatnya bukan maknanya, sebagaimana perkataan Rabi'ah bin Abi Abdurrahman dan Malik bin  Anas ketika ditanya tentang istiwa mereka berkata :
الاستواء غير مجهول ، والكيف غير معقول
" Istiwa bukanlah perkara yang tidak diketahui dan kaifiyatnya tidaklah diketahui. " ( Al 'Ilam bil Mukhalafah hal 29 lewat perantaraan Madzhab Ahlut Tafwidh hal 21 )

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata - ketika menjelaskan perkataan Imam Malik rahimahullah ( tentang istiwa - pent ) : " Beginilah perkataan seluruh imam ummat ini,  perkataan mereka menyepakati Malik didalam keterangan bahwasanya yang tidak diketahui adalah kaifiyat istiwa, dan sebagaimana mereka tidak memahami tentang kaifiyat Dzat Allah subhanahu wa ta'ala****, akan tetapi mereka memahami maknanya sebagaimana nampak dalam ucapan para Imam tersebut, sebagaimana mereka memahami makna nuzul akan tetapi tidak mengetahui bagaimana caranya, dan seterusnya. ( Majmu Fatawa 5/356 )

Diantara Sebab - Sebab Munculnya Bid'ah Tafwidh :

1. Pemahaman kaum mufawidhah yang salah terhadap ucapan imam - imam as salafus shalih, dimana mereka memahami bahwasanya as salaf menyerahkan makna dan kaifiyatnya - dan ini telah dijelaskan diatas bagaimana hakikat manhaj salaf dalam masalah ini.
2. Menyandarkan diri kepada akal dan menggunakan filsafat yunani yang rusak dalam masalah agama. ( Madzhab Ahlut Tafwidh hal 33 - 36 dengan diringkas )


---##---

Catatan Kaki :

* Abu Asma Andre katakan : " Disini ada kaitan erat antara pemahaman bahwasanya nash-nash asma wa shifat adalah mutasyabih secara mutlak dengan keyakinan tafwidh, semoga Allah subhanahu wa ta'ala memudahkan saya untuk menyusun dan mengumpulkan apa - apa yang terkait dengan pembahasan ini dari apa - apa yang terdapat dikitab - kitab para ulama. Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Syaikh Ismail bin Rumaih didalam pasal dalam kitab Madzhab Ahlul Tafwidh hal 12. "

** Abu Asma Andre katakan : " Pada kesempatan yang telah lalu saya telah menjelaskan makna ta'wil disisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, silahkan lihat di akun saya.

*** Dan pada kesempatan saya ( Abu Asma Andre ) tallaqi kitab Qawaidul Mutsla dengan Ustadzuna Abu Isa Abdullah bin Sallam hafidzahullah saya bertanya kepada beliau : " Apakah yang tidak diketahui oleh ahlussunnah hanyalah kaifiyat dari asma wa shifat atau ada yang lain ? " Beliau menjawab : " Bahwasanya yang tidak diketahui oleh ahlussunnah ada dua macam : 1. Kaifiyatnya dan 2. Puncak dari kesempurnaan maknanya. " ( Tallaqi Qawaidul Mutsla dengan Ustadz Abu Isa Abdullah bin Sallam hafidzahullah - sekitar tahun 2003 )

**** Abu Asma Andre katakan : " Inilah keyakinan ahlussunnah wa jama'ah, dan terbuktilah bahwasanya ahlul bid'ah yang menuduh ahlussunnah sebagai mujasimmah ( menyerupakan Allah dengan makhluk ) adalah salah sasaran, dan insyaAllah - permasalah mujasimmah dan ahlul mujasimmah akan dibahas pada kesempatan yang lain - semoga Allah memudahkan. "


Abu Asma Andre
Ciangsana - Cileungsi
1 Jumadil Tsani 1433 H

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber : TAFWIDH DAN MUFAWIDHAH

Sabtu, 21 April 2012

Allah Ada Dimana Mana, Benarkah?

Mendongkel Pemahaman Allah Berada Dimana - Mana Dengan Dalih QS Al An'aam:3

Oleh Abu Asma Andre

Diantara syubhat yang dihembuskan ahlul hulul dan ahlut tawil dalam mengingkari keberadaan Allah subhanahu wa ta'ala berada di arsy adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala :
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
"  Dan Dialah Allah, baik di langit maupun di bumi. Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan." ( QS Al An'aam : 3 )

Ayat ini disalahpahami oleh banyak ahlul ta'thil dan ahlul hulul dengan mengatakan :  berdasarkan ayat ini maka Allah tidaklah beristiwa diatas arsy dan Allah berada dimana - mana. Ketahuilah bahwasanya membawakan ayat ini sebagai alasan untuk menolak beristiwanya Allah dan Allah berada diketinggian adalah madzhab Jahmiyyah, sehingga Imam Ahlussunnah Wal Jama'ah Ahmad bin Hanbal rahimahullah membawakan ayat ini dibawah judul Bab Bayan Maa Ankarat Al Jahmiyyah Ana Yakuna Allah 'Alal Arsy ( Bab Keterangan Pengingkaran Jahmiyyah Tentang Keberadaan Allah Di Arsy - hal 142 - 153 ), didalam kitabnya yang agung  Ar Raddu Ala Jahmiyyah Wa Zanadiqah. ( yang saya pegang cetakan Darus Tsabat - Riyadh - 1424 H - dan anda bisa lihat cover kitab ini di foto status ini  )

Didalam kitab Ar Raddu 'Ala Jahmiyyah Wa Zanadiqah - Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah betul - betul menunjukkan kualitasnya sebagai Imam Ahlussunnah Wal Jama'ah, yang dengan sebab itu maka saya ridha dan tidak merasa keberatan untuk mengikuti pendapat dan bantahan beliau terhadap Al Jahmiyyah dalam masalah ini serta menukilkan didalam risalah ringkas ini, hal ini sekaligus merupakan pukulan bagi ahlul hulul dan ahlul ta'thil yang menentang pendapat ini - sehingga mereka tahu dengan siapa mereka akan berlawanan pendapat - yaitu dengan Imam Ahmad rahimahullah.

Al Imam Ahmad berkata : " Apabila kami katakan : Mengapa kalian mengingkari keberadaan Allah beristiwa diatas arsy ? padahal Allah berfirman :
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
" Ar Rahman ( Allah ) beristiwa diatas arsy' ? " ( QS Thaha : 5 )

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
" Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwa di atas ´arsy. " ( QS Al Hadid : 4 )

Maka mereka berkata : " Dia ( Allah ) berada dibumi dan dibawah bumi yang tujuh sebagaimana Dia berada di arsy. Dia berada di arsy juga Dia berada di bumi disemua tempat, dan tidaklah ada tempat yang kosong dari keberadaan-Nya, tidaklah dari satu tempat ke tempat yang lain melainkan ada Dia ( Allah subhanahu wa ta'ala ), kemudian mereka membaca ayat :
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
" Dan Dialah Allah, baik di langit maupun di bumi. Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan." ( QS Al An'aam : 3 )

Maka kami ( Imam Ahmad ) katakan : " Sesungguhnya telah mengetahui kaum muslimin ada banyak tempat yang tidaklah disana ada Allah subhanahu wa ta'ala." ( Maksudnya - Imam Ahmad rahimahullah sedang  menunjukkan kesalahan pendapat ini dan kesalahan argumentasi mereka dengan ayat ini - pent ).

Maka mereka berkata : " Tempat mana ? "

Maka kami jawab : " Dijasadmu, dimulutmu, diperutmu, di babi dan berhala, dan tempat - tempat yang kotor ( di bumi - pent ), maka tidaklah mungkin Allah berada disana. "

( Kemudian Al Imam Ahmad rahimahullah menyebutkan 10 ayat yang menunjukkan Allah berada di ketinggian dan beristiwa di arsy - mulai dari hal 146 - 147 ).

Keterangan Al Imam Ahmad rahimahullah diatas cukup membuktikan beberapa hal :
1. Pengingkaran bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala beristiwa di arsy' adalah permasalahan yang sudah lama dan dipelopori oleh kaum Jahmiyyah dan Zindiq.
2. Imam Ahmad menetapkan Allah beristiwa di atas arsy dengan bukti beliau berhujjah dengan QS Thaha : 5 dan sepuluh ayat yang lain.
3. Imam Ahmad menetapkan bahwasanya kaum muslimin telah bersepakat bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala tidak mungkin berada di semua tempat.

Maka apa pemahaman yang shahih dari ayat :
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ
" Dan Dialah Allah, baik di langit maupun di bumi. Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan." ( QS Al An'aam : 3 ),

Maka saya ( Abu Asma Andre ) menjumpai ucapan yang sangat memadai dan penyejuk hati dalam masalah ini - sebuah ucapan yang disampaikan oleh Al Imam Muhammad Amin Asy Syanqithi rahimahullah didalam tafsirnya Adhwa'ul Bayan 2/139-140 ( yang saya pegang cetakan Maktabah Adhwa'us Salaf - Saudi Arabia - 1425 H ), beliau berkata :
" Di dalam ayat yang mulia ini ada tiga penafsiran diantara para ulama tafsir :

1. Bahwa maknanya adalah Allah adalah yang disembah di langit dan di bumi, dan sesungguhnya tidak ada sesuatu yang berhak disembah dengan sebenar - benarnya penyembahan, baik di langit maupun di bumi melainkan Allah, hal ini sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
" Dan Dialah Tuhan ( Yang disembah ) di langit dan Tuhan ( Yang disembah ) di bumi dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. " ( QS Az Zukhruf : 84 )...Dan pendapat ini yang dipilih oleh Al Imam Al Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya Jami'ul Ahkamil Qur-an.

( Abu Asma Andre katakan : cara menafsirkan ayat yang satu dengan ayat yang lain adalah ma'ruf dikenal disisi para ulama ahli tafsir, dan inilah yang dilakukan oleh Al Hafidz Ibnu Katsir Asy Syafi'i rahimahullah didalam tafsirnya - sebagaimana beliau sebutkan kaidah - kaidah tafsir seperti ini di muqadimmah tafsir beliau - silahkan merujuk kesana )

2. Makna dari ayat ini adalah : Allah subhanahu wa ta'ala mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, tidak ada sedikitpun yang terluput dari pengetahuannya, sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
قُلْ أَنْزَلَهُ الَّذِي يَعْلَمُ السِّرَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
" Katakanlah : "Al Qur-an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." ( QS Al Furqan : 6 )...dan inilah pendapat Imam Ahli Lughah Al Imam Ibnu Nuhas rahimahullah dan beliau ( Ibnu Nuhas ) berkata : " Inilah pendapat yang paling bagus dan sesuai dengan konteks ayat tersebut. "

3. Ayat ini diwaqafkan ( dihentikan bacanya ) di lafadz وَهُوَ اللَّهُ
baru dilanjutkan, sehingga menimbulkan cara baca : " Dan Dialah Allah. ( waqaf ). Dan inilah pendapat Imam besar ahli tafsir Al Imam Muhammad bin Jarir Ath Thabari rahimahullah ( Ibnu Jarir )....

Inilah ketiga pendapat ulama ahli tafsir didalam masalah ayat ini, dan dimanakah hujjah yang menyelisihinya ?

Abu Asma Andre
Ciangsana - Cileungsi
23 Jumadil Ula 1433 H
--------------------------------------------
sumber : MENDONGKEL PEMAHAMAN ALLAH BERADA DIMANA - MANA DENGAN DALIH QS AL AN'AAM : 3

Penyebutan Kata Salaf Dalam Kitab - Kitab Para Ulama

Oleh Abu Asma Andre

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
يَا أَيُّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اتّقُواْ اللّهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مّسْلِمُونَ 
 يَآ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْراً وَنِسَآءً وَاتَّقُوْا اللَّهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْباً
يَا أَيُّهَا الّذِينَ آمَنُواْ اتّقُواْ اللّهَ وَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماًً
أما بعد: فإن أصدق الكلام كلام الله وخير الهدي هدي محمد  وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Belakangan ini - kebencian terhadap dakwah salaf dan pengikutnya ( salafi ) sedang berusaha ditebarkan oleh manusia dan kelompok - kelompok yang tidak menyenangi bangkitnya Islam diatas tashfiyyah dan tarbiyyah, Islam yang murni sebagaimana dipahami oleh salaf dari ummat ini. Diantara mereka melemparkan berbagai macam tuduhan dan diantara tuduhan yang menyedihkan adalah mengatakan bahwasanya salaf adalah dakwah baru yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Maka dibawah ini saya ( Abu Asma Andre ) berusaha mengumpulkan penyebutan kata salaf dalam makna generasi salafus shalih didalam kitab - kitab para ulama terdahulu, dan akan tampak didalamnya bahwasanya mereka :
1. Mengakui kebenaran dan keutamaan salaf.
2. Mengajak manusia untuk berpegang teguh kepada manhaj salaf.
3. Memperingatkan manusia dari penyelisihan terhadap manhaj salaf.

Saya urutkan berdasarkan hal yang dapat anda baca dibawah ini, dan cukuplah nukilan dibawah ini yang berbicara tentang kebenaran manhaj salaf, dan tidak perlu dikomentari oleh siapapun yang memiliki keinshafan dan keadilan didalam dirinya.

Hadist Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam

عَنْ مَسْرُوقٍ حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ أُمُّ الْمُؤْمِنِيِنَ قَالَتْ  …..فَإِنِّي نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ
Dari Masruq (1) telah mengatakan kepadaku 'Aisyah Ummul Mu'minin radhiallahu anha beliau berkata : " …( ketika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berbicara kepada Fathimah radhiallahu anha – putri beliau ) : " Sesungguhnya sebaik – baik salaf ( pendahulumu ) adalah aku. "

Hadits diriwayatkan oleh :
Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari no 6285-6286 dan dalam Adabul Mufrad no 1030
Imam Muslim dalam Shahih Muslim no 2449-2450
Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah no 1621 dan lain - lain

Dalam Kitab Hadits

Dalam Shahih Imam Bukhari

وَقَالَ الزُّهْرِيُّ فِي عِظَامِ الْمَوْتَى نَحْوَ الْفِيلِ وَغَيْرِهِ أَدْرَكْتُ نَاسًا مِنْ سَلَفِ الْعُلَمَاءِ يَمْتَشِطُونَ بِهَا وَيَدَّهِنُونَ فِيهَا لَا يَرَوْنَ بِهِ بَأْسًا وَقَالَ ابْنُ سِيرِينَ
وَإِبْرَاهِيمُ وَلَا بَأْسَ بِتِجَارَةِ الْعَاجِ
Berkata Az Zuhri (2) tentang tulang – tulang bangkai – seperti gajah dan yang selainnya. Beliau berkata : " Saya menjumpai orang – orang dari kalangan ulama salaf ( terdahulu ) bersisir dengannya dan menggunakan minyak dengan menyimpan di tulang tersebut. Dan mereka tidak mempermasalahkan hal tersebut. "

وَقَالَ رَاشِدُ بْنُ سَعْدٍ كَانَ السَّلَفُ يَسْتَحِبُّونَ الْفُحُولَةَ لِأَنَّهَا أَجْرَى وَأَجْسَرُ
Dan berkata Rasyid bin Sa'ad (3)  : " Bahwasanya As Salaf ( pendahulu ) menyukai kuda jantan, karena lebih cepat ( larinya ) dan lebih kuat ( tenaganya )

Dalam Shahih Imam Muslim

عَلِيَّ بْنَ شَقِيقٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُا عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ دَعُوا حَدِيثَ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ
' Ali bin Syaqiq  berkata : " Saya mendengar Abdullah bin Mubarrak (4)  berkata dihadapan manusia banyak : " Abdullah bin Mubarrak berkata : " Tinggalkan hadits 'Amru bin Tsabit, karena dia mencaci As Salaf.

Dalam Kitab Tafsir

Dalam Tafsir Imam Ibnu Katsir
{ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ }  قال: مؤتمنا  . وبنحو ذلك قال مجاهد والسدي وقتادة وابن جريج والحسن البصري وغير واحد من أئمة السلف

Ketika Imam Ibnu Katsir menafsirkan
وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ( sebagai pengawas bagi kitab – kitab yang lain - QS Al Maidah : 48 ), beliau berkata : " Batu ujian " , dan inilah yang disebutkan oleh Mujahid, As Suddi, Qatadah, Ibnu Juraij, Hasan Al Bashri dan tidak hanya seseorang saja dari kalangan Imam – Imam Salaf.

Dalam Kitab 'Aqidah

Aqidah Imam Abu Hasan Al Asyari ( Imam Al Asyari' )

ويعرفون حق السلف الذين اختارهم الله سبحانه لصحبة نبيه صلى الله عليه وسلم ويأخذون بفضائلهم ويمسكون عما شجر بينهم صغيرهم وكبيرهم، ويقدمون أبا بكر ثم عمر ثم عثمان ثم علياً رضوان الله عليهم ويقرون أنهم الخلفاء الراشدون المهديون أفضل الناس كلهم بعد النبي صلى الله عليه وسلم.
ويصدقون بالأحاديث التي جاءت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أن الله سبحانه ينزل إلى السماء الدنيا فيقول هل من مستغفر كما جاء الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم،
ويأخذون بالكتاب والسنة كما قال الله عز وجل: " فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول " ويرون اتباع من سلف من أيمة الدين وأن لا يبتدعوا في دينهم ما لم يأذن به الله.
( Maqalat Islamiyyin hal 73 )

Dan mengetahui kebenaran As Salaf (5), yang mana telah dipilih oleh Allah subhanahu wa ta'ala untuk menemani Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam , kita mengambil keutamaan – keutamaan mereka,  dan menahan diri dari perselisihan yang terjadi diantara mereka, baik kecil maupun besar. Kita mendahulukan Abu Bakar radhiallahu anhu, kemudian Umar radhiallahu anhu, kemudian Utsman radhiallahu anhu, kemudian 'Ali radhiallahu anhu - semoga Allah meridhai mereka -, merekalah Khulafaur Rasyidun Al Mahdiyun, dan seutama-utama manusia setelah Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Dan kita membenarkan hadits-hadits yang datang dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala turun kelangit dunia dan berkata : " Adakah yang meminta ampun ? " Seperti apa yang datang dari sisi Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.

Dan kita mengambil Al Kitab dan Sunnah seperti Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya). ( QS An Nisaa : 59 )

Dan kemudian kita mengikuti Salaf ( pendahulu ) dari kalangan imam – imam agama ini dan kita tidak mengada – adakan sesuatu dalam agama, yang tidak diperbolehkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Aqidah Imam Abu Ja'far Ath Thahawi Al Hanafi

وَعُلَمَاءُ السَّلَفِ مِنَ السَّابِقِينَ ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ التَّابِعِينَ – أَهْلِ الْخَيْرِ وَالْأَثَرِ ، وَأَهْلِ الْفِقْهِ وَالنَّظَرِ – لَا يُذْكَرُونَ إِلَّا بِالْجَمِيلِ ، وَمَنْ ذَكَرَهُمْ بِسُوءٍ فَهُوَ عَلَى غَيْرِ السَّبِيلِ
Syarah Thahawiyyah fi Aqidah Salafiyyah ( Ibnu Abi Izz Al Hanafi 3/197 )

Dan 'ulama As Salaf yang terdahulu, dan yang kemudian dari kalangan tabi'in – yang mereka adalah orang yang terbaik dan ahli fiqh dan nazhar – tidaklah kita  menyebutkan ( mereka ) kecuali dengan keindahan ( keutamaan ), dan siapa saja yang menyebutkan mereka dengan keburukan, maka dia bukan berada dijalan ( yang benar ).

Aqidah Imam Al Lalika'i

1889 – عن مالك بن أنس ، قال : كان السلف يعلمون أولادهم حب أبي بكر وعمر كما يعلمون السورة من القرآن
( Syarah Ushul Itiqad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah no 1889 )

Dari Malik bin Anas (6)  berkata : " Biasanya As Salaf mengajarkan kepada anak – anak mereka mencintai Abu Bakar radhiallahu anhu dan Umar radhiallahu anhu sebagaimana mengajarkan surat dari Al Qur'an.

Dalam Kitab Fiqih Empat Mazhab

Fiqh Hanafiyyah

وَلِأَنَّ أَذَانَ النِّسَاءِ لَمْ يَكُنْ فِي السَّلَفِ
Bada'ius Shana'I fi Tartib Asy Syara'i 2/101

Dan sesungguhnya wanita adzan, tidaklah terjadi pada kalangan As Salaf ( terdahulu ).

Fiqh Malikiyyah

 ( قَائِمٌ ) يَعْنِي أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ الْمُؤَذِّنُ قَائِمًا اتِّبَاعًا لِمَا مَضَى عَلَيْهِ السَّلَفُ وَلِأَنَّهُ أَقْرَبُ إلَى التَّوَاضُعِ وَأَبْلَغُ فِي الْإِسْمَاعِ
Mawahab Jalil fi Syarah Mukhtasar Syaikh Khalil 3/344

( Berdiri – ketika adzan ) : " Yaitu disukai muadzin berdiri ketika adzan, untuk mengikuti apa yang telah dilakukan olah As Salaf, karena sesungguhnya hal tersebut lebih dekat kepada tawadhu dan lebih dapat menyampaikan suara ( muadzin ).

Fiqh Syafi'iyyah

(1471) ولا يكون لاحد أن يقيس حتى يكون عالما بما مضى قبله من السنن وأقاويل السلف وإجماع الناس واختلافهم ولسان العرب
Ar Risalah no 1471, karya Imam Asy Syafi'i

Imam Asy Syafi'i berkata  : " Tidaklah boleh seseorang untuk melakukan qiyas ( analogi ) sampai dia menjadi seseorang yang mengetahui ( alim ) tentang apa yang terjadi sebelumnya dari sunnah – sunnah, ucapan – ucapan As Salaf dan ijma manusia dan perselisihan mereka, serta bahasa 'arab.

Fiqh Hanabillah

فَصْلٌ : وَيُسْتَحَبُّ عَقْدُ النِّكَاحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ؛ لِأَنَّ جَمَاعَةً مِنْ السَّلَفِ اسْتَحَبُّوا ذَلِكَ ؛ مِنْهُمْ ضَمْرَةُ بْنُ حَبِيبٍ ، وَرَاشِدُ بْنُ سَعْدٍ ، وَحَبِيبُ بْنُ عُتْبَةَ ؛ وَلِأَنَّهُ يَوْمٌ شَرِيفٌ ، وَيَوْمُ عِيدٍ ، فِيهِ خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ
Al Mughni 15/39, Imam Ibnu Qudamah  (7)

Pasal : " Disukai melakukan akad nikah pada hari jum'at, karena sesunggunya jama'ah dari As Salaf menyukai hal sedemikian. Diantaranya adalah Dhamrah bin Habib (8) , Rasyid bin Sa'ad, Habib bin 'Utbah. Karena hari tersebut ( hari jum'at ) adalah hari yang agung, hari 'id ( berkumpulnya manusia ), dihari tersebut Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan Adam alaihi sallam

Dalam Lain – Lain Kitab

Dalam Kitab Syuabul Iman 4/358 no 1793 karya Imam Baihaqi.

سمعت ، أبا عبد الرحمن السلمي يقول : سمعت محمد بن أحمد الفراء يقول : ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا ؟ قال : « لأنهم تكلموا لعز الإسلام ، ونجاة النفوس ، ورضا الرحمن ، ونحن نتكلم لعزة النفس ، وطلب الدنيا ، وقبول الخلق »
Saya mendengar Abu Abdurrahman As Sulami  (9) berkata : Saya mendengar Muhammad bin Ahmad Al Fara berkata : " Apa yang menyebabkan ucapan As Salaf lebih bermanfaat dari ucapan kita ? " Maka dijawab : " Karena mereka berkata untuk kemulian Islam, keselamatan diri, ridha Ar Rahman ( Allah ), adapun kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan agar diterima manusia. "

Dalam Kitab Syarah Shahih Muslim 1/481 karya Imam An Nawawi

وَفِيهِ : جَوَاز اِسْتِخْدَام الزَّوْجَة فِي الْغَسْل وَالطَّبْخ وَالْخَبْز وَغَيْرهَا بِرِضَاهَا ، وَعَلَى هَذَا تَظَاهَرَتْ دَلَائِل السُّنَّة وَعَمَل السَّلَف وَإِجْمَاع الْأُمَّة
Dan padanya : " Bolehnya membantu istri dalam mencuci, memasak, membuat roti dan selainnya untuk meringankannya, dan untuk hal ini telah jelas dalil – dalilnya dalam sunnah, dan amal As Salaf dan ijma ummat.

Dalam Ihya 'Ulumuddin 1/129 karya Imam Al Ghazali

وقد اشتهر عن السلف قولهم: الإيمان عقد وقول وعمل
Dan telah masyhur dikalangan As Salaf ucapan mereka : " Iman adalah keyakinan, ucapan dan amalan. "(10)

--###--
Catatan Kaki :

1. Masruq bin 'Ajda bin Malik bin Umayyah bin Abdillah Al Hamdani Al Wadii' rahimahullah , seorang tabi'in, wafat tahun 62/63 H. Tentangnya berkata Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah : " Tsiqat. " ( Tahdzibut Tahdzib 10/111 ), Hadits yang diriwayatkan beliau diterima Imam – Imam Ahli Hadits.

2. Az Zuhri,  Muhammad bin Muslim bin 'Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab bin Abdullah bin Harits bin Zuhrah Al Quraisy Az Zuhri, Abu Bakar Al Madani rahimahullah, seorang tabi'in, wafat tahun 125 H. Tentangnya Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : " Al Faqih, Al Hafidz, disepakati kemuliaannya. " ( Tahdzibut Tahdzib 9/450 ). Hadits yang diriwayatkan beliau diterima Imam – Imam Ahli Hadits.

Kalau Az Zuhri adalah seorang tabi'in, maka yang beliau maksud dengan salaf adalah shahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. ( Fathul Bari 1/342 )

3. Rasyid bin Sa'ad rahimahullah, seorang tabi'in, wafat 108/113 H.Tentangnya Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : " Tsiqat. " ( Tahdzibut Tahdzib 3/226 ). Hadits yang diriwayatkan beliau diterima Imam – Imam Ahli Hadits.

Kalau Rasyid bin Sa'ad rahimahullah seorang tabi'in maka yang beliau maksud salaf adalah para shahabat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.  ( Fathul Bari 6/66 )

4. Abdullah bin Mubarrak bin Wadhih Al Hanzhali At Taimi rahimahullah, seorang tabi'ut tabi'in, lahir tahun 118 H, wafat tahun 181 H.Tentangnya Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : " Tsiqat, Tsabit, Faqih, Mujahid, orang yang pemurah, terkumpul padanya seluruh cabang – cabang kebaikan." ( Tahdzibut Tahdzib 5/386 ). Hadits yang diriwayatkan beliau diterima Imam – Imam Ahli Hadits.

Kalau Abdullah bin Mubarrak seorang tabiut tabi'in maka yang beliau maksud salaf adalah shahabat Rasulullah  shalallahu alaihi wa sallam dan para tabi'in.

5. Maka yang Imam Al Asyari maksudkan adalah para shahabat Nabi shalallahu alaihi wa sallam, karena tidak ada yang menemani Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melainkan para shahabat radhiallahu anhu, dan ini tampak jelas dari susunan kalimat berikutnya

6. Malik bin Anas rahimahullah, masyhur dengan nama Imam Malik, dinisbatkan mazhab Malikiyyah kepada beliau. Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amr bin 'Amru Al Ashabi Al Himyari rahimahullah, Abu Abdillah Al Madani Al Faqih. Lahir tahun 93 H wafat tahun 179 H. Seorang tabi'ut tabi'in. Biografi beliau dapat dilihat dalam Tahdzibut Tahdzib 10/8, karya Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah.

7. Imam Ibnu Qudamah adalah salah seorang diantara murid Syaikh Abdul Qadir Al Jailani rahimahumullah.

8. Dhamrah bin Habib bin Shuhaib Az Zubaidi rahimahullah, Abu Utbah. Seorang tabi'in, wafat tahun 130 H. Tentangnya Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : " Tsiqat.  "( Tahdzibut Tahdzib 4/459 )

9. Abu Abdurrahman As Sulami, Abdullah bin Habib bin Rabi'ah rahimahullah, seorang tabi'in, wafat tahun 70 H. Tentangnya Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata :" Tsiqat, tsabit " ( Tahdzibut Tahdzib 5/184 )

10. Dan dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al Ghazali rahimahullah menyebutkan kata As Salaf sebanyak kurang lebih 159 kali.


Abu Asma Andre
Ciangsana - Cileungsi
15 Ramadhan 1430 H

Revisi Pertama
30 Jumadil Ula 1433 H

سبحانك اللهم وبحمدك اشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
 ------------------------------------------------


sumber PENYEBUTAN KATA SALAF DI KITAB - KITAB PARA ULAMA

Selasa, 20 Desember 2011

Hadits Hudzaifah Radhiyallahu Ta'ala 'Anhu




Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali

Nash Hadits.
"Artinya : Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta'ala Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : 'Ada'. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?. Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, da'i - da'i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama'ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama'ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu". (Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399)
Makna Hadits
1. Mengenali Sabilul Mujrimin adalah kewajiban Syar'i.
Perlu diketahui bahwa Manhaj Rabbani yang abadi yang tertuang dalam uslub Qur'ani yang diturunkan ke hati Penutup Para Nabi tersebut tidak hanya mengajarkan yang haq saja untuk mengikuti jejak orang-orang beriman (sabilul Mu'minin). Akan tetapi juga membuka kedok kebathilan dan menyingkap kekejiannya supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (sabilul Mujrimin). Allah berfirman.
"Artinya : Dan demikianlah, kami jelaskan ayat-ayat, supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa". (Al-An'am : 55)
Yang demikian itu karena istibanah (kejelasan) jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (sabilul Mujrimin) secara langsung berakibat pada jelasnya pula sabilul mu'minin. Oleh karena itu istibanah (kejelasan) sabilul Mujrimin merupakan salah satu sasaran dari beberapa sasaran penjelasan ayat-ayat Rabbani. Karena ketidakjelasan sabilul Mujrimin akan berakibat langsung pada keraguan dan ketidakjelasan sabilul Muminin. Oleh karena itu, menyingkap rahasia kekufuran dan kekejian adalah suatu kebutuhan yang sangat mendesak untuk menjelaskan keimanan, kebaikan dan kemaslahatan.
Ada sebagian cendikiawan syair menyatakan.
"Artinya : Aku kenali keburukan tidak untuk berbuat buruk, akan tetapi untuk menjaga diri".
"Barangsiapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, maka akan terjerumus ke dalamnya".
Hakikat inilah yang dimengerti oleh generasi pertama umat ini -Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu 'anhu. Maka ia berkata : "Manusia bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir akan terjebak di dalamnya".
2. Kekokohan Kita Dihancurkan dari Dalam
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda berkenan dengan keinginan kaum kafir untuk membinasakan kaum muslimin dan Islam, seperti yang dinyatakan dalam hadits Tsaubah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang : Apakah karena sedikitnya kami waktu itu ? Beliau bersabda : Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya : Wahai Rasulullah, apakah wahn itu ? Beliau bersabda : Mencintai dunia dan takut mati". (Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na'im dalam Al-Hailah)
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa :
  1. Kaum kafir saling menghasung untuk menjajah Islam, negeri-negerinya serta penduduknya.
  2. Negeri-negeri muslimin adalah negeri-negeri sumber kebaikan dan barakah yang mengundang air liur kaum kafir untuk menjajahnya.
  3. Kaum kafir mengambil potensi alam negeri muslimin tanpa rintangan dan halangan sedikitpun.
  4. Kaum kafir tidak lagi gentar terhadap kaum Muslimin karena rasa takut mereka kepada kaum Muslimin sudah dicabut Allah dari dalam hati mereka. Padahal pada mulanya Allah menjanjikan kepada kaum Muslimin dalam firman-Nya :"Artinya : Akan kami jangkitkan di dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah, dimana Allah belum pernah menurunkan satu alasanpun tentangnya". ( Ali-Imran : 151). Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : "Artinya : Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku : Aku ditolong dengan rasa ketakutan dengan jarak satu bulan perjalanan ; dan dijadikan bumi untukmu sebagai tempat sujud ; .... dan seterusnya ". (Riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari I/436. Muslim dalam Nawawi V/3-4 dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu)
Akan tetapi kekhususan tersebut dibatasi oleh sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Tsauban yang lalu, yang menyatakan : "Allah akan mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian ...".
Dari hadits ini mengertilah kita bahwa kekuatan umat Islam bukanlah terletak pada jumlah dan perbekalannya, atau pada artileri dan logistiknya. Akan tetapi kekuatannya terletak pada aqidahnya. Seperti yang kita saksikan ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab pertanyaan yang berkenan dengan jumlah, maka beliau jawab : "Bahkan ketika itu kalian banyak sekali, akan tetapi kalian seperti buih di atas aliran air".
Kemudian apa yang menjadikan "pohon yang akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit" itu seperti buih yang mengambang di atas air ?
Sesungguhnya racun yang meluruhkan kekuatan kaum muslimin dan melemahkan gerakannya serta merenggut barakahnya bukanlah senjata dan pedang kaum kafir yang bersatu untuk membuat makar terhadap Islam, para pemeluknya dan negeri-negerinya. Akan tetapi adalah racun yang sangat keji yang mengalir dalam jasad kaum muslimin yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai "Dakhanun" Ibnu Hajar dalam Fathul Bari XIII/36 mengartikannya dengan hiqd (kedengkian), atau daghal (penghianatan dan makar), atau fasadul qalb (kerusakan hati). Semua itu mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni, akan tetapi keruh. Dan Imam Nawawi dalam syarh Shahih Muslim XII/236-237, mengutip perkataan Abu 'Ubaid yang menyatakan bahwa arti dakhanun adalah seperti yang disebut dalam hadits lain.
"Artinya : Tidak kembalinya hati pada fungsi aslinya". (Riwayat Abu Dawud no. 4247)
Sedangkan makna aslinya adalah apabila warna kulit binatang itu keruh/suram. Maka seakan-akan mengisyaratkan bahwa hati mereka tidak bening dan tidak mampu membersihkan antara yang satu dengan yang lain. Kemudian berkata Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah XV/15: Bahwa sabda beliau : "Dan didalamnya ada Dakhanun, yakni tidak ada kebaikan murni, akan tetapi didalamnya ada kekeruhan dan kegelapan". Adapun Al 'Adzimul Abadi dalam 'Aunil Ma'bud XI/316 menukil perkataan Al-Qari yang berkata : "Asal kata dakhanun adalah kadurah (kekeruhan) dan warna yang mendekati hitam. Maka hal ini mengisyaratkan bahwa kebaikan tersebut tercemar oleh kerusakan (fasad)".
Dan sesungguhnya penanam racun yang keji dan menjalar di kalangan umat ini tidak lain adalah oknum-oknum dari dalam sendiri. Seperti yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Mereka adalah dari kalangan bangsa kita dan berbahasa dengan bahasa kita". Berkata Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari XIII/36 : "Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab". Sedangkan Al-Qabisi menyatakan -seperti dinukil oleh Ibnu Hajar- secara lahir maknanya adalah bahwa mereka adalah pemeluk dien (agama) kita, akan tetapi batinnya menyelisihi. Dan kulit sesuatu adalah lahirnya, yang pada hakikatnya berarti penutup badan". Mereka mempunyai sifat seperti yang dikatakan dalam hadits riwayat Muslim.
"Artinya : Akan ada di kalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia". (Riwayat Muslim)
Yakni mereka memberikan harapan-harapan kepada manusia berupa mashalih (pembangunan), siyadah (kepemimpinan) dan istiqlal (kemerdekaan dan kebebasan) .. dan umat merasa suka dengan propaganda mereka. Untuk itu mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar dan diskusi-diskusi. Oleh sebab itu mereka diberi predikat sebagai da'i atau du'at -dengan dlamah pada huruf dal- merupakan bentuk jama' dari da'a yang berarti sekumpulan orang yang melazimi suatu perkara dan mengajak serta menghasung manusia untuk menerimanya. (Lihat 'Aunil Ma'bud XI/317).
3. Jama'ah minal Muslimin dan bukan Jama'ah Muslimin/'Umm.
Kalau kita mengamati kenyataan, maka kita akan melihat bahwa faham hizbiyah (kelompok) telah mengalir di dalam otak sebagian besar kelompok yang menekuni medan da'wah ilallah, dimana seolah-olah tidak ada kelompok lain kecuali kelompoknya, dan menafikan kelompok lain di sekitarnya. Persoalan ini terus berkembang, sehingga ada sebagian yang menda'wahkan bahwa merekalah Jama'ah Muslimin/Jama'ah 'Umm (Jama'ah Induk) dan pendirinya adalah imam bagi seluruh kaum muslimin, serta mewajibkan berba'iat kepadanya. Selain itu mereka mengkafirkan sawadul a'dzam (sebagian besar) muslimin, dan mewajibkan kelompok lain untuk bergabung dengan mereka serta berlindung di bawah naungan bendera mereka.
Kebanyakan mereka lupa, bahwa mereka bekerja untuk mengembalikan kejayaan Jama'atul Muslimin. Kalaulah Jama'atul Muslimin dan imam-nya itu masih ada, maka tidaklah akan terjadi ikhtilaf dan perpecahan ini dimana Allah tidak menurunkan sedikit pun keterangan tentangnya.
Sebenarnya para pengamal untuk Islam itu adalah Jama'ah minal muslimin (kumpulan sebagian dari muslimin) dan bukan Jama'atul Muslimin atau Jama'atul 'Umm (Jama'ah Induk), karena kaum muslimin sekarang ini tidak mempunyai Jama'ah ataupun Imam.
Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa yang disebut Jama'ah Muslimin adalah yang tergabung didalamnya seluruh kaum muslimin yang mempunyai imam yang melaksanakan hukum-hukum Allah. Adapun jama'ah yang bekerja untuk mengembalikan daulah khilafah, mereka adalah jama'ah minal muslimin yang wajib saling tolong menolong dalam urusannya dan menghilangkan perselisihan yang ada diantara individu supaya ada kesepakatan di bawah kalimat yang lurus dalam naungan kalimat tauhid.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari Rahimahullah yang menyatakan : "Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa Jama'ah adalah Sawadul A'dzam. Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas'ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika 'Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jama'ah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah satu firqah. Hindarilah semua firqah itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan".
4. Mejauhi Semua Firqah
Dinyatakan dalam hadits Hudzaifah tersebut supaya menjauhi semua firqah jika kaum muslimin tidak mempunyai jama'ah dan tidak pula imam pada hari terjadi keburukan dan fitnah. Semua firqah tersebut pada dasarnya akan menjerumuskan ke dalam kesesatan, karena mereka berkumpul di atas perkataan/teori mungkar (mungkari minal qaul) atau perbuatan mungkar, atau hawa nafsu. Baik yang mendakwahkan mashalih (pembangunan) atau mathami' (ketamakan) dan mathamih (utopia). Atau yang berkumpul di atas asas pemikiran kafir, seperti; sosialisme, komunisme, kapitalisme, dan demokrasisme. Atau yang berkumpul di atas asas kedaerahan, kesukuan, keturunan, kemadzhaban, atau yang lainnya. Sebab mereka semua itu akan menjerumuskan ke dalam neraka Jahannam, dikarenakan membawa misi selain Islam atau Islam yang sudah dirubah ...!
5. Jalan Penyelesaiannya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada Hudzaifah untuk menjauhi semua firqah yang menyeru dan menjerumuskan ke neraka Jahannam, dan supaya memegang erat-erat pokok pohon (ashlu syajarah) hingga ajal menjemputnya sedangkan ia tetap dalam keadaan seperti itu.
Dari pernyataan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
Pertama.
Bahwa pernyataan itu mengandung perintah untuk melazimi Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafuna Shalih. Hal ini seperti yang diisyaratkan dalam hadits riwayat 'Irbadh Ibnu Sariyah.
"Artinya : Barangsiapa yang masih hidup diantara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barangsiapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa'ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian". (Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 440 dan yang lainnya)
Jika kita menggabungkan kedua hadits tersebut, yakni hadits Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu 'anhu yang berisi perintah untuk memegang pokok-pokok pohon (ashlu syajarah) dengan hadits 'Irbadh ini, maka terlihat makna yang sangat dalam. Yaitu perintah untuk ber-iltizam pada As-Sunnah An-Nabawiyah dengan pemahaman Salafuna As-Shalih Ridlwanalahu Ta'ala 'alaihim manakala muncul firqah-firqah sesat dan hilangnya Jama'ah Muslimin serta Imamnya.
Kedua.
Di sini ditunjukkan pula bahwa lafadz (an ta'adhdha bi ashli syajarah) dalam hadits Hudzaifah tersebut tidak dapat diartikan secara dzahir hadits. Tetapi maknanya adalah perintah untuk berpegang teguh, dan bersabar dalam memegang Al-Haq serta menjauhi firqah-firqah sesat yang menyaingi Al-Haq. Atau bermakna bahwa pohon Islam yang rimbun tersebut akan ditiup badai topan hingga mematahkan cabang-cabangnya dan tidak tinggal kecuali pokok pohonnya saja yang kokoh. Oleh karena itu maka wajib setiap muslim untuk berada di bawah asuhan pokok pohon ini walaupun harus ditebus dengan jiwa dan harta. Karena badai topan itu akan datang lagi lebih dahsyat.
Ketiga.
Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengulurkan tangannya kepada kelompok (firqah) yang berpegang teguh dengan pokok pohon itu untuk menghadapi kembalinya fitnah dan bahaya bala. Kelompok ini seperti disabdakan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam akan selalu ada dan akan selalu muncul untuk menyokong kebenaran hingga yang terakhir dibunuh dajjal.
Maraji' :
  1. Al Ilzamat wa at Tatabu oleh Ad-Daruquthni
  2. Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim, oleh Ibnu Katsir
  3. Al Jami' As Shahih, oleh Bukhari dengan Fathul Bari
  4. Haliyatul Auliya' oleh Abu Na'im Al- Ashbahani.
  5. Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, oleh Muhammad Nashiruddien Al-Albani
  6. As-Sunnan, oleh Ibnu Majah
  7. As-Sunnan, oleh Abu Dawud
  8. As-Sunnan, oleh Tirmidzi
  9. Syiar A'lam An-Nubala, oleh Adz-Dzahabi
  10. Syarhu Sunnah, oleh Baghawi
  11. As-Shahih, oleh Muslim bin Al-Hujjaj
  12. 'Aunil Ma'bud, oleh Syamsul Al-Abadi
  13. Al-Kaasyif, oleh Dzahabi
  14. Al-Mustadrak, oleh Hakim
  15. Al-Musnad, oleh Ahmad bin Hambal 
---------------------------------------------
Tulisan ini disadur dan diringkas dari kutaib yang berjudul "Qaulul Mubin fi Jama'atil Muslimin" karangan Salim bin 'Ied Al-Hilali, Penerbit Maktab Islamy Riyadh tanpa tahun, dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 07/1/1414-1993 hal. 8-13
sumber : www.assunnah.or.id
 

Sabtu, 10 Desember 2011

Kejayaan Hanya Milik Islam


Oleh : Syaikh Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali
Sesungguhnya termasuk hal yang sangat menggembirakan, kita bisa bersua kembali dalam masjid ini, di universitas ini, di tengah saudara-saudara kami, kita bersatu dikalimat yang sama, yaitu kalimat tauhid dan di atas kebesaran Islam. Tema kita di pagi hiri yang cerah ini ialah kebesaran milik Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman. Maksudnya, kebesaran hanya milik Islam semata.
Dalil-dalil yang menunjukan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan kaum muslimin serta Islam banyak sekali. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
 
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui. [Al-Munafiqun : 8]
Ayat ini menegaskan bahwa kejayaan hanya milik Allah, RasulNya dan kaum mukminin.
فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَن يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
Janganlah kamu merasa lemah dan meminta perdamaian, padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu. [Muhammad : 35]
Dan sudah di ketahui bagi orang yang mendalami Al-Quran, ia menetapkan bahwa kalimatullah adalah paling tinggi, sedangkan kalimat orang kafir berada dalam tingkat yang paling rendah. Jadi kebesaran milik Islam dalam kitabullah. Demikian juga, hal ini di tegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga pernyataan dari generasi salaf, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
لَا يَنْبَغِي لِمُسْلِمٍ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ
Tidak selayaknya seorang mukmin menghinakan dirinya” [Hadits Riwayat Ahmad]
Ini dalil agar setiap muslim merasa mulia dengan agamanya. Karena Islam mengajarkan al ‘izzah kepadanya.
Perhatikan dialog antara Abu Sufyan yang masih dalam kekufurannya -padawaktu itu- dengan Umar bin Khaththab, tatkala kaum musyrikin mendapatkan kemenangan dalam perang uhud.
Abu Sufyan berkata: Agungkanlah Hubal, kemudian nabi memerintahkan Umar bin Khaththab untuk menyanggah dengan (perkataan) : ”Allah lebih besar dan lebih tinggi”.
Ini merupakan sebagian dalil dari al kitab dan as Sunnah yang menunjukan bahwa izzah (kebesaran) hanya milik Allah, RasulNya dan Islam.
Apabila kita telah mengetahui bahwa kebesaran itu milik Islam, apakah yang dimaksud dengan izzah dalam Islam, dan bagaimana Islam bisa mengangkat kaum muslimin dari konsep kebesaran jahiliyah menuju kosep izzah imani. Renungkanlah ayat ini, kita lihat dan bandingkanlah. "Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al–Munafiqun : 8]
Lihatlah, Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan kaum munafqin dalam perang bani Musthaliq. Setelah orang-orang pulang dari perang tersebut –termasuk Rasulullah- dia memunculkan ide penyebaran hadits ifk (berita palsu). Dia menuduh ummul mukminin ash Shiddiqah bin ash Shiddiq (‘Aisyah) dengan tuduhan zina. Wal iyyadzu billah.
Lihatlah, ia mengalihkan peperangan ke rumah beliau, pada kehormatan beliau. Dalam suasana panas penuh isu, simpang-siur sarat berita bohong, orang munafik ini ingin memanfaatkan kesempatan ini, atau ingin menghantam beliau, atau ingin memancing dalam air keruh.
Pada situasi demikian ia mengatakan: لَئِن رَّجَعْنَآ إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ اْلأَعَزُّ مِنْهَا اْلأَذَلَّ (Sesungguhnya jika telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya). Yang ia maksud dengan orang yang kuat adalah dia sendiri. Sedangkan yang ia maksud orang yang lemah adalah Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Inilah konsep izzah dalam kaca mata jahiliyah, membanggakan diri, membanggakan kedudukan sosial, dengan nasab, nenek moyang, golongan, banyaknya pengikut, banyaknya harta, dengan jabatan dan harta. Inilah izzah menurut jahiliyah.
Dalam masalah berita palsu ini, Allah tidak membiarkan ada orang yang membantah para penyebar isu berita palsu tersebut. Yang membantah adalah langsung Allah sendiri. Allah merehabilitasi nama baik Ummul Mukminin dalam sebelas ayat pertama dari surat An-Nur. Sementara di dalam surat Al-Munafiqin, Allah membantah Abdullah bin Ubay bin Salul (dengan firmanNya).
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui” [Al-Munafiqun : 8]
Firman Allah ini seolah-olah mengatakan, tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dialah yang maha perkasa dan bijak, Maha kuat dan perkasa.Tidak ada kebesaran, kecuali milik Allah. Tidak ada kejayaan, kecuali bersama dengan Allah.
Siapa saja yang tergantung dengan yang maha kuat, niscaya ia menjadi insan yang kuat. Oleh karena itu, Rasulullah berpegang dengan Allah, sehingga ia menjadi kuat. Dan demikian pula dengan kaum mukminin, mereka berpegang kepada Allah dan RasulNya, mereka menjadi insan–insan yang kuat.
Inilah makna izzah dalam kosep imani, bangga diri dengan agama, dengan Allah, Rasul, amal shalih, ilmu yang bermanfaat, serta dakwah kepada Allah. Lihatlah, bagaimana konsep Islam mengangkat manusia dari permukaan bumi menuju ketinggian izzah. Menuju tingginya tekad. Kendatipun jasad-jasad mereka bersentuhan dengan yang ada di bumi, tetapi jiwa-jiwa mereka terikat dengan malail a’la (majlis yang paling tinggi), dengan kenikmatan-kenikmatan yang ada di sisi Allah. Jadi izzah milik Islam.
Apakah (yang menjadi) sumbernya?
Sudah kami katakan tadi, bahwa tidak ada kebesaran kecuali milik Allah. Dan siapa saja yang bersama dengan yang maha perkasa, ia menjadi perkasa Dan siapa saja yang mencari kejayaan dengan selain Allah, niscaya akan hina.
Faktor paling besar yang mendukung kukuhnya izzah ini, adalah aqidah Islamiyyah. aqidah ini bertumpu pada tauhidullah (mentauhidkan Allah), terhadap dzatNya, tindakan-tindakanNya dan asma wa sifatNya,Tidak ada dzat yang berhak di sembah kecuali Allah. Karena itu, barang siapa menyambah Allah, ia menjadi insan yang perkasa. Dan orang yang meyekutukan Allah, akan menjadi manusia hina. Allah-lah yang mengangkat derajat atau menghinakan seseorang. Allah berfirman .
وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ
Dan Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. [Ali–Imron : 26]
Barang siapa konsisten pada aqidah yang benar dan tauhid yang lurus, niscaya Alloh akan memuliakannya dengan aqidah dan agama ini. Dan barang siapa yang menyimpang darinya, hendaknya tidak mencela kecuali dirinya sendiri saja.
Faktor lain yang juga dapat mewujudkan ‘ izzah adalah manhaj. Oleh karena itu, Alloh berfirman.
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh dan berkata : “Sesungguhnya aku termsuk orang–orang yang berserah diri.” [Fushiliat : 33]
Lihatah, setelah ia berpegangan dengan manhaj dan dakwah, kemudian mempunyai rasa bangga dengan agama. Dia mengumandangkan suaranya, bahwa ia seorang muslim, termasuk yang bertauhid kepada Allah dan mengikuti Allah dan RasulNya. Firman Allah :
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا
(Dan siapakah yang lebih baik perkataannya …), maka jawabannya, tidak ada seorang pun yang lebih baik darinya. Dalam ayat ini Allah mengikat dakwah dengan manhaj. Baru kemudian mengerjakan amalan shalih. Setelah itu, akhirnya ia bangga dengan Islam.
Oleh karena itu, berkaitan dengan syarat diterimanya amalan shalih, ada syarat sah dan syarat kamal (kesempurnaan).
Tentang syarat sah diterimanya amal adalah ikhls bagi Allah dan ittiba’ kepada Nabi. Sedangkan syarat kesempurnaannya amal ialah.
Pertama : Seseorang harus menggenggam agamanya dengan kuat. Allah berfirman.
يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ
Hai, Yahya. Ambillah Al–Kitab (Taurat) itu dengan sungguh–sungguh. [Maryam : 12]
Allah berfirman :
خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ
"Pegangilah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu” [Al–Baqarah : 63]
Dan yang dimaksud dengan quwwah ini adalah berbangga diri dengan agama Islam.
Kedua : Tidak malas beramal shalih dan menyegerakan diri dalam mengerjakan amal kebaikan maupun ketaatan.
Sumber kemuliaan Islam yang lain, yaitu menjadi seorang muslim yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam aqidah, cara–cara beribadah, penampilan lahiriah atau batiniah.
Dalam seluruh aspek, seorang muslim memiliki ciri khas tersendiri. Umat Islam memiliki nilai istimewa dengan menonjolnya kebaikannya. Allah berfirman :
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia” [Al–Imran : 110]
Memiliki nilai tersendiri sebagai umat yang adil dan pilihan. Allah berfirman :
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kami (umat Islam), sebagai umat yang adil dan pilihan” [Al–Baqarah : 143]
Mereka menjadi saksi–saksi Allah di bumi. Lihatlah nilai istimewa yang dimiliki kaum Muslimin dalam ayat.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang–orang yang telah Engkau anugerahkan kenikmatan kepada mereka, bukan (jalan) yang dimurkai Allah (yaitu : Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (yaitu : Nashara” )" [Al–Fatihah : 6–7]
"Tunjukilah kami wahai Rabb ke jalan yang benar dan lurus, bukan jalan orang–orang yang dimurkai Allah, yaitu kaum Yahudi. Juga bukan jalan orang–orang yang sesat, yaitu kaum Nashara. Seorang muslim berbeda dengan Yahudi dan Nashara, penganut agama dan golongan lain. Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa salaam melarang tasyabbuh (berserupa) dengan orang–orang kafir. Larangan itu tertuang dalam nasihat beliau yang sangat mengagumkan.
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
"Aku diutus dengan pedang, saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah. Ditimpakan kehinaan dan kerendahan pada orang yang menentang perintahku. Rezekiku ditetapkan berada di bawah ujung tombak. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, niscaya ia termasuk dari mereka” [Hadits Riwayat Ahmad]
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ
Aku diutus dengan pedang saat hari Kebangkitan sudah dekat, supaya Allah saja yang disembah”
Ini adalah ‘izzatul Islam. Kita memperjuangkan Islam sampai orang–orang menyembah Pencipta mereka. Kita berjuang untuk mengeluarkan orang–orang dari kegelapan menuju cahaya. Kita memperjuangkan Islam dengan kata–kata, dakwah, dengan hujjah dan burhan sebelum memasuki perjuangan dengan pedang, di setiap tempat dan moment.
Kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa salaam mengatakan :
بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ