Bismillah ...

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyaat: 56).

“Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (An Nahl: 36).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk surga.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Tauhid adalah perkara yang paling penting dalam agama Islam. Sebagai tujuan diutusnya para Rasul, serta sebagai kewajiban pertama dan terakhir bagi manusia yang berakal.

Pelanggaran terhadapnya adalah bid'ah yang paling besar sebagaiman firman Allah :

“Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cinta Kepada Allah

"Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah, membela seseorang karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan dari Allah hanyalah bisa diperoleh dengan hal tersebut. Dan seorang hamba tidak akan menemukan rasa nikmatnya iman, ....

Mereka Yang Berjatuhan Dari Dakwah Salafiyah

Namun, bagi mereka yang menghendaki agar dakwah salafiyah inilah yang berkhidmat dan menanggung mereka, lalu dicatat dan mereka ditampakkan sebagai tokoh dalam dakwah ini, hanya karena menisbatkan diri.....

Kesalahan Kesalahan Dalam Beraqidah

..Mereka mencukupkan ( لا إله إلا الله) hanya di lisan saja tanpa menyadari, bahwa kalimat tauhid ini menuntut perkara-perkara lain. Diantara perkara-perkara yang dituntut adalah nafi dan itsbat. ...

Menyelewengkan Makna La Ilaha Illallah, Wujud Penyimpangan Aqidah

Tauhid merupakan kewajiban yang pertama dan paling utama untuk diilmui dan didakwahkan. Ia juga merupakan tugas yang paling besar,......

Surat Dari Ibu yang terkoyak hatinya

Anaku…. Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya.

Tampilkan postingan dengan label syurga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label syurga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2011

Kriteria Penghuni Surga Menurut As Sunnah (Bagian 2 Selesai)

Dari Catatan Abah Abu Muhammad Herman

source : bamboo-plantcare.com
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan sekian banyak sifat dan kriteria di dalam Al-Qur'an mengenai para calon penghuni surga selain yang telah disebutkan sebelumnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan hal itu agar orang yang ingin meraihnya mau menjadikannya sebagai sifat dan kriteria yang ada di dalam dirinya. Dalam hadits yang berasal dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga banyak disebutkan tentang kriteria-kriteria itu. Beberapa di antaranya:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga karenanya." (HR. Muslim)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

"Maukah kalian aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat?" Para Sahabat menjawab: "'Sudah tentu, ya Rasulullah." Beliau kemudian bersabda: "Yaitu menyempurnakan wudhu sekalipun memberatkan, banyak melangkahkan kaki ke masjid, dan menunggu shalat setelah mengerjakan shalat." (HR. Muslim)

Dari 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidaklah salah seorang dari kalian berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan: Asyhadu alla ilaha illallah, wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluhu (Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya), melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan jumlahnya, dan ia bisa memasukinya dari pintu mana saja yang ia suka." (HR. Muslim)

Dari 'Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan pula sebuah hadits yang menyatakan bahwa siapa saja yang mengikuti seruan yang dikumandangkan oleh mu'adzin secara tulus dari hatinya, maka ia akan masuk surga. (HR. Muslim)

Dari 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Siapa yang membangun masjid semata demi mencari keridhaan (wajah) Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga." (Muttafaq 'alaih)

Dari 'Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Ada lima shalat yang telah diwajibkan oleh Allah atas para hamba. Barang siapa yang melaksanakannya, dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena meremehkan haknya, maka ia dijanjikan oleh Allah untuk dimasukkan ke dalam surga." (HR. Iam Ahmad, Abu Dawud dan Nasa'i. Ada sekian jalur periwayatan hadits ini yang saling menguatkan)

Dari Tsauban radhiyallahu 'anhu, bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai amalan yang menyebabkannya bisa masuk surga. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudain bersabda:

"Engkau harus memperbanyak sujud. Sebab, engkau tidaklah bersujud kepada Allah sekali sujud saja melainkan dengannya Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan darimu satu kesalahan." (HR. Muslim)

Dari Ummu Habibah adhiyallahu 'anha, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan shalat karena Allah Subhanahu wa Ta'ala di setiap harinya dua belas raka'at dalam bentuk shalat sunnah dan bukan shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga." (HR. Muslim)

Shalat-shalat sunnah yang dimaksudkan adalah 4 raka'at sebelum shalat Zhuhur dan 2 raka'at sesudahnya, 2 raka'at sesudah shalat Maghrib, 2 raka'at sesudah shalat Isya', dan 2 raka'at sebelum shalat Shubuh.

Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Mohon beritahukan kepadaku tentang suatu amalan yang bisa memasukanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka." Beliau lantas bersabda:

"Sungguh engkau telah menanyakan sesuatu yang agung, akan tetapi hal itu sangatlah mudah bagi siapa saja yang diberi kemudahan oleh Allah. Yaitu, beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, berpuasa Ramadhan dan laksanakan ibadah haji ke Baitullah." (HR. Ahmad dan Tirmidzi serta dishahihkan olehnya)

Dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya di dalam surga itu ada sebuah pintu yang dinamakan Royyan yang pada hari kiamat nanti dimasuki oleh orang-orang yang melakukan puasa. Tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu itu selain mereka." (Muttafq 'alaih)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Satu umrah ke umrah berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan pada jarak waktu antara keduanya, sedangkan haji mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga." (Muttafq 'alaih)

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Siapa yang mempunyai tiga anak perempuan yang ia lindungi, ia sayangi dan ia peliara, maka ia sudah tentu akan masuk surga." Ditanyakanlah kepada beliau: "Ya Rasulullah, jika hanya dua anak perempuan?" Beliau menjawab: "Sekalipun hanya dua." Jabir berkata: "Maka sebagian Sahabat memandang bahwa kalau ada yang mengatakan 'walau hanya satu', maka tentu beliau juga akan menjawab 'sekalipun hanya satu'." (HR. Ahmad. Sanad hadits ini dha'if. Namun ia mempunyai banyak syahid yang shahih, di antaranya adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Siapa yang diberi ujian dengan diberi anak-anaka perempuan, lalu ia bisa bertindak baik kepada mereka, maka itu akan menjadi tirai baginya dari api neraka." (HR. Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai amalan yang paling banyak menyebabkan seseorang itu masuk surga, lalu beliau menjawab:

"Bertakwa kepada Allah dan berakhlak baik." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)

Dari 'Iyad bin Himar Al-Mujasyi'i, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Para penghuni surga itu ada tiga macam: (1). Penguasa yang adil, murah hati (suka bersedekah) dan suka mendamaikan; (2). Orang yang penyayang dan lentur hatinya kepada setiap kerabat; (3). Seorang Muslim yang suci dan selalu menjaga kesucian dan mempunyai tanggungan keluarga." (HR. Muslim dalam sebuah hadits yang panjang)

Demikianlah sejumlah hadits yang menjelaskan sekian banyak amalan di antara amalan-aalan penghuni surga bagi siapa saja yang ingin sampai ke sana.

Kita memohon kepada Allah agar berkenan memudahkan kita semua untuk menempuhnya dan agar meneguhkan kita di atas jalan itu. Sesungguhnya Allah Maha Pemurah. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa mencurahkan rahmat dan kedamaian kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, serta kepada keluarga dan para Sahabat beliau seluruhnya. Allahumma amin.

(Disalin dari kitab Majalisu Syahri Ramadhan, Edisi Indonesia: Kajian Ramadhan, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, penerbit: Al-Qowam)

Selasa, 23 Agustus 2011

Kriteria Penghuni Surga (Bagian 1)

Dari Catatan Abah Abu Muhammad Herman


Saudaraku sekalian, sebelumnya kita telah membahas tentang gambaran surga dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan yang ada di dalamnya. Demi Allah, itu semua semestinya semakin mendorong orang-orang yang beramal untuk bisa meraihnya dan saling berlomba untuk mendapatkannya, lalu menghabiskan seluruh usianya untuk mencarinya dengan cara hidup zuhud di dunia. Jika kita bertanya tentang jalan yang akan mengantarkan ke sana, maka Allah telah menjelaskan jalan itu sebagaimana tersebut dalam wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya yang paling mulia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali-'Imran: 133-135).

Berikut ini adalah beberapa kriteria para calon penghuni surga:


1. Muttaqin.
Yaitu orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dengan senantiasa melakukan penjagaan diri dari adzab-Nya dengan melaksanakan segala perintah-Nya dalam rangka menunaikan kepatuhan kepada-Nya dan mengharap pahala-Nya, serta dengan cara meninggalkan segala larangan-Nya juga demi patuh kepada-Nya dan takut akan siksa-Nya.



2. Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.
Mereka adalah orang-orang yang senantiasa membelanjakan harta dalam hal yang diperintahkan oleh Allah untuk dinafkahkan sebagaimana yang dituntut dari mereka, baik berupa zakat, sedekah, maupun memberikan nafkah kepada siapa saja yang ada hak untuk diberi, dan juga menafkahkan harta untuk kepentingan jihad dan untuk jalan kebaikan lainnya. Mereka menafkahkan (membelanjakan) itu semua dalam keadaan lapang maupun sempit. Kelonggaran yang ada pada diri mereka tidak menyebabkan mereka menjadi sangat cinta kepada harta dan rakus terhadapnya karena ingin selalu menambah; sedangkan keadaan sempit yang mereka alami juga tidak menjadikan mereka menahan harta karena takut bila nanti membutuhkannya.


3. Orang-orang yang menahan amarahnya.
Mereka adalah orang-orang yang bisa menahan dan mengendalikan amarahnya ketika hendak marah, sehingga ia tidak akan berbuat melampaui batas dan tidak pula dengki terhadap orang lain karenanya.


4. Orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain.
Mereka mau memberi maaf kepada orang yang berbuat zhalim kepada mereka serta tidak menuntut balas, sekalipun mereka sebenarnya mampu melakukan hal itu. Apa yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan", merupakan isyarat bahwa pemberian maaf yang terpuji itu adalah jika merupakan bagian dari kebajikan (ihsan) sehingga ia sekaligus menjadi ishlah (memperbaiki/mendamaikan). Adapun pemberian maaf yang justru akan semakin menambah tindak kejahatan yang zhalim itu, maka yang seperti ini tidaklah terpuji dan juga tidak mendatangkan pahala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya): "Barang siapa memberi maaf dan berbuat baik, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah." ((Asy-Syuro: 40).


5. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.
Yang dimaksud dengan perbuatan keji adalah dosa-dosa yang termasuk dalam katagori dosa-dosa besar (al-kaba'ir), seperti membunuh jiwa manusia yang dilarang tanpa ada alasan yang benar, durhaka kepada kedua orang tua, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, zina, mencuri, serta bentuk dosa-dosa besar lainnya. Sedangkan kezhaliman (menganiaya) diri lebih bersifat umum yang mencakup dosa-dosa kecil maupun besar. Jika mereka melakukan hal yang demikian, maka mereka lantas ingat akan keagungan Dzat yang ia durhakai, sehingga ia menjadi takut kepada-Nya, lalu mengingat akan ampunan dan rahmat-Nya. Ia pun bergegas untuk mendapatkannya, memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah ia lakukan serta memohon agar semuanya ditutupi oleh Allah dan tidak dijatuhi hukuman. Firman Allah yang mengatakan: "Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?", merupakan isyarat bahwa mereka tidak akan meminta ampunan kepada selain Allah, karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Allah.


6. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji (dosa)nya itu, sedang mereka mengetahui.
Maksudnya, mereka tidak terus-terusan melakukan dosa ketika mengetahui yang dilakukannya adalah dosa, dan juga mengetahui keagungan Dzat yang ia durhakai serta mengetahui dekatnya ampunan (maghfirah) dari Allah. Bahkan mereka akan bergegas meninggalkan perbuatan dosa itu dan bertaubat atasnya. Terus-menerus melakukan dosa-dosa besar akan terus membawa pelakunya kepada tingkatan yang semakin berbahaya dan sulit. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman (yang artinya):

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Al-Mu'minuun: 1-11)


Ayat-ayat yang mulia ini menggambarkan tentang sejumlah sifat dan kriteria penghuni surga.

Pertama: Orang-orang yang beriman.
Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada segala yang wajib diimani; beriman kepada para malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada para Rasul-Nya, kepada hari akhir dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Merke beriman kepada itu semua dengan keimanan yang berisi konsekuensi menerima secara utuh, tunduk dan patuh, dengan perkataan maupun perbuatan.

Kedua: Orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.
Yaitu mereka yang mengerjakan shalat disertai dengan kehadiran hati dan ketenangan anggota badan. Mereka merasakan bahwa dalam mengerjakan shalat itu ia sedang ada di hadapan Allah Azza wa Jalla, dimana mereka berkomunikasi dengan Allah melalui firman-firman-Nya yang dibacanya, mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya dengan dzikir mengingat-Nya, dan bermunajat kepada-Nya dengan memanjatkan do'a. Mereka mengerjakan itu semua dengan kekhusyu'an lahir dan batin.

Ketiga: Orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.
Yang dinamakan al-laghw (yang tidak berguna) adalah segala sesuatu yang tidak membawa faedah dan tidak mengandung kebaikan, apakah berupa perkataan maupun perbuatan. Mereka itu berpaling darinya disebabkan karena keteguhan hasrat mereka sehingga mereka tidak mau menggunakan waktu-waktunya yang berharga kecuali yang mengandung faedah. Sebagaimana halnya mereka senantiasa menjaga shalat dengan cara mengerjakannya secara khusyu', maka mereka pun selalu menjaga waktu-waktu mereka dari berlalu secara sia-sia. Jika di antara sifat mereka adalah berpaling dari segala yang tidak berguna, maka sudah tentu mereka akan berpaling dari setiap yang merugikan.

Keempat: Orang-orang yang menunaikan zakat.
Yang dimaksud dengan zakat di sini adalah bagian dari harta yang harus dikeluarkan zakatnya, dan juga berarti segala sesuatu yang bisa mensucikan jiwa mereka, yang berupa perkataan maupun perbuatan. (Salah satu arti zakat itu sendiri adalah mensucikan).

Kelima: Orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Mereka senantiasa menjaga kemaluan dari berbuat zina dan "liwath" (homo seksual) karena keduanya merupakan bentuk kemaksiatan kepada Allah serta merupakan kemerosotan moral dan sosial. Boleh jadi yang dimaksud dengan "memelihara" kemaluan itu bersifat lebih umum lagi dari hal itu, termasuk di antaranya menjaga pandangan dan sentuhan.

Firman Allah yang menyatakan: "Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela," berisi isyarat bahwa pada asalnya manusia itu dicela bila melakukan hal ini, kecuali kepada istri dan budak perempuan yang dimilikinya. Sebab, hal itu dilakukan karena adanya kebutuhan untuk menyalurkan kebutuhan biologis manusia, untuk menghasilkan keturunan serta untuk kemaslahatan-kemaslahatan lain. Keumuman makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas," menjadi dalil atas keharaman istimna' (masturbasi/onani), karena perbuatan itu dilakukan tidak pada istri maupun budak-budak perempuannya.


Keenam: Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
Yang dinamakan amanat adalah sesuatu yang dipercayakan (diamanatkan) kepada seseorang, baik berupa perkataan, perbuatan maupun barang.

Ketujuh: Orang-orang yang memelihara shalatnya.
Mereka senantiasa menjaga shalat, jangan sampai terabaikan atau terlalaikan. Caranya adalah dengan menunaikannya tepat pada waktunya dalam bentuk yang sesempurna mungkin dengan memenuhi syarat-syaratnya, rukun-rukunnya dan kewajiban-kewajibannya.

------------------------------

(Dikutip dengan sedikit diringkas dari kitab Majalisu Syahri Ramadhan, Edisi Indonesia: Kajian Ramadhan, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, penerbit: Al-Qowam).

Inilah Gambaran Surga



Saudara sekalian, bergegaslah untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian serta bergegas menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi; tidak ada mata yang pernah melihat, tidak ada telinga yang pernah mendengar dan ia belum pernah terbetik di dalam benak manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ

"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah seperti taman yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka." (Ar-Ra'd: 35)

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

"(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?" (Muhammad: 15)

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

"Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci dan mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah: 25)

وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلا وَيُطَافُ عَلَيْهِمْ بِآنِيَةٍ مِنْ فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا قَوَارِيرَ مِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلا عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلا وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا

"Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar." (Al-Insaan: 14-20)

فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ لا تَسْمَعُ فِيهَا لاغِيَةً فِيهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ وَأَكْوَابٌ مَوْضُوعَةٌ وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ

"Dalam surga yang tinggi, tidak kamu dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada takhta-takhta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar." (Al-Ghaasyiyah: 10-16)

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera." (Al-Hajj: 23)

عَالِيَهُمْ ثِيَابُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَإِسْتَبْرَقٌ وَحُلُّوا أَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا

"Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih." (Al-Insaan: 21)

مُتَّكِئِينَ عَلَى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

"Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah." (Ar-Rahmaan: 76)

مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الأرَائِكِ لا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلا زَمْهَرِيرًا

"Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan." (Al-Insaan: 13)

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ يَلْبَسُونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آمِنِينَ

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air; mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran)." (Ad-Dukhaan: 51-55)

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الأنْفُسُ وَتَلَذُّ الأعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ لَكُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ كَثِيرَةٌ مِنْهَا تَأْكُلُونَ إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي عَذَابِ جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

"Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan istri-istri kamu digembirakan. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa kekal di dalam azab neraka Jahanam." Az-Zukhruf: 70-74)

فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلا جَانٌّ فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ كَأَنَّهُنَّ الْيَاقُوتُ وَالْمَرْجَانُ

"Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan." (Ar-Rahman: 56-58)

فِيهِنَّ خَيْرَاتٌ حِسَانٌ فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ حُورٌ مَقْصُورَاتٌ فِي الْخِيَامِ

"Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah." (Ar-Rahman: 70-72)

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya." (Yunus: 26)

Yang dimaksud dengan al-husna (sesuatu yang terbaik) adalah surga. Sebab, tidak ada tempat tinggal yang lebih baik darinya. Sedangkan yang dimaksud dengan az-ziyadah (tambahan) adalah memandang wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mulia. Semoga Allah mengaruniakan hal itu kepada kita dengan anugerah dan kemurahan-Nya.

Ayat-ayat yang menceritakan tentang surga dan kenikmatannya cukup banyak. Sedangkan hadits-hadits mengenai hal itu, di antaranya adalah sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata: "Wahai Rasulullah, ceritakan kepada kami tentang surga, apa bangunannya?" Beliau menjawab: "Batu batanya terbuat dari emas dan perak. Lempungnya adalah kesturi, kerikilnya intan dan permata, dan tanahnya adalah za'faron. Orang yang masuk ke dalamnya akan merasakan kenikmatan dan tidak akan pernah ada gangguan. Ia akan kekal di dalamnya dan tidak akan pernah mati. Bajunya tidak akan usang dan masa mudanya tidak akan hilang." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Diriwayatkan dari 'Utbah bin Ghazwan radhiyallahu 'anhu bahwa ia pernah berkhutbah lalu memuji Allah dan menyanjungnya. Selanjutnya ia berkata:

"Amma ba'du. Sesungguhnya dunia ini hampir berakhir dan yang tinggal hanyalah sisa seperti sisa air di wadah yang dituangkan oleh pemiliknya. Dan sesungguhnya kalian akan segera berpindah darinya menuju sebuah negeri yang tidak akan ada kesudahannya. Maka dari itu, berpindahlah dengan membawa sebaik-baik apa yang kalian amalkan. Kami diberitahu bahwa jarak antara dua daun pintu surga itu adalah empat puluh tahun perjalanan, dan sungguh akan datang suatu hari dimana pintu surga itu sangat padat." (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'd radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Di dalam surga itu terdapat delapan pintu, di antaranya ada sebuah pintu yang dinamakan Ar-Rayyan yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang menjalankan puasa." (Muttafaq 'alaih).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya para penghuni surga itu saling melihat orang-orang yang berada di dalam ruangan-ruangan (ghurfah) yang ada di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang berkilauan nun jauh di ufuk timur atau barat, karena di antara mereka ada yang lebih utama dari yang lain." Mereka bertanya: "Apakah itu merupakan tempat-tempat para nabi yang tidak bisa diraih oleh selain mereka?" Beliau menjawab: "Tidak. Demi Dzat yang menguasai jiwaku, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul." (HR. Bukhari)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat tempat-tempat yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya, dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya. Tempat-tempat itu dipersiapkan oleh Allah bagi orang yang memberi makan orang lain, melanggengkan puasa, dan mengerjakan shalat malam ketika orang-orang sedang tidur." (HR. Thabrani, diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dengan tambahan: "...dan melembutkan perkataan").

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya orang mukmin di surga nanti mempunyai sebuah tenda yang terbuat dari satu jenis permata yang membentuk ruangan. Panjangnya di langit adalah enam puluh mil. Orang mukmin di dalam tenda itu mempunyai istri-istri yang mereka gilir, sedangkan sebagian darinya tidak melihat yang lain." (Muttafaq 'alaih).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Golongan pertama yang masuk ke dalam surga adalah seperti keindahan bulan purnama, disusul kemudian yang sesudahnya seperti sinar bintang di langit yang paling terang sinarnya. Selanjutnya mereka mempunyai tempat-tempat dimana mereka tidak akan buang air besar maupun kecil, serta tidak membuang ingus dan tidak meludah. Sisir-sisir mereka terbuat dari emas, dupa mereka adalah kayu gaharu, dan keringat mereka adalah kesturi. Besar tubuh mereka sama, sebesar tubuh moyang mereka, Adam, yaitu enam puluh hasta." (HR. Muslim).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya para penghuni surga itu makan dan minum di dalam surga, namun mereka tidak pernah meludah, tidak kencing, tidak buang air besar, dan tidak mengeluarkan ingus." Para Sahabat bertanya: "Lalu bagaimana dengan ampas makanan yang mereka makan?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Sendawa dan keringat mereka seperti aroma kesturi. Mereka senantiasa melantunkan tasbih dan tahmid sebagaimana menarik dan mengeluarkan udara ketika bernapas." (HR. Muslim)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, sesungguhnya salah seorang di antara kalian (yang menjadi penghuni surga) akan diberi kekuatan seratus kali kekuatan orang biasa dalam hal makan, minum, jimak dan syahwat. Buang hajatnya masing-masing dari mereka hanyalah keringat yang keluar dari kulit mereka seperti tetesan kesturi sehingga perutnya menjadi mengempis." (HR. Ahmad dan An-Nasa'i. Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib mengatakan: "Para rawi hadits ini dapat dijadikan sebagai hujjah untuk menentukannya sebagai hadits shahih. Thabrani meriwayatkannya dengan sanad shahih, demikian juga Ibnu Hibban dalam Shahih-nya serta al-Hakim).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat sebuah pasar yang mereka datangi setiap hari Jum'at, lantas angin utara akan berhembus dan menerpa wajah dan pakaian mereka sehingga mereka menjadi bertambah elok dan tampan. Sesudah itu mereka kembali ke tempat istri-istri mereka dan kemudian menyambut dengan perkataan: "Demi Allah, sungguh engkau tampak semakin elok dan tampan setelah datang dari pasar." Mereka membalas: "Sedangkan kalian sendiri juga semakin cantik dan indah saja setelah saya tinggal." (HR. Muslim).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Jika penghuni surga telah masuk ke dalam surga, maka ada yang memanggil: "Kalian akan selalu sehat dan tidak akan pernah sakit. Kalian juga akan selalu hidup dan tidak akan pernah mati. Kalian akan senantiasa muda dan tidak akan pernah menjadi tua. Kalian akan senantiasa merasakan kenikmatan dan tidak akan pernah tersiksa!" Itulah yang dikatakan oleh Allah 'Azza wa Jalla: [Diserukanlah kepada mereka: "Itulah surga yang diwariskan kepadamu disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan." (Al-A'raaf: 43). (HR. Muslim).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jika ahli surga telah masuk ke dalam surga, maka ada yang memanggil: "Wahai para penduduk surga, sesungguhnya Allah punya janji kepada kalian yang hendak ditunaikan-Nya." Mereka berkata: "Apakah itu? Bukankah Ia telah menjadikan berat timbangan amal kebaikan kami, telah menceriakan wajah kami, dan telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari nereka?!" Beliau melanjutkan sabdanya: "Lalu tirai pun disingkap, sehingga mereka langsung memandang wajah Allah. Demi Allah, tidaklah Allah memberikan sesuatu yang lebih mereka cintai daripada melihat wajah Allah, dan tidak ada yang lebih mereka senangi daripadanya." (HR. Muslim).
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami keabadian di surga-Mu, curahkanlah keridhoan-Mu, dan berilah kami kenikmatan melihat wajah-Mu dan kerinduan bertemu dengan-Mu tanpa ada aral melintang.

Ya Allah, curahkanlah rahmat, kesejahteraan, dan keberkahan kepada hamba dan Nabi-Mu, Muhammad, serta kepada seluruh keluarga dan para Sahabat. Allahumma amin.

***

(Dikutip dengan sedikit diringkas dari kitab Majalisu Syahri Ramadhan, Edisi Indonesia: Kajian Ramadhan, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, penerbit: Al-Qowam).

* Gambar di atas hanya sekedar ilustrasi, bukan bermaksud menggambarkan Surga.

Photo : ahsanfile.wordpress.com