Bismillah ...

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyaat: 56).

“Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (An Nahl: 36).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk surga.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Tauhid adalah perkara yang paling penting dalam agama Islam. Sebagai tujuan diutusnya para Rasul, serta sebagai kewajiban pertama dan terakhir bagi manusia yang berakal.

Pelanggaran terhadapnya adalah bid'ah yang paling besar sebagaiman firman Allah :

“Katakanlah: marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan suatu apapun dengan Dia, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. Al An’am: 151)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Selasa, 23 Agustus 2011

Kriteria Penghuni Surga (Bagian 1)

Dari Catatan Abah Abu Muhammad Herman


Saudaraku sekalian, sebelumnya kita telah membahas tentang gambaran surga dengan segala kenikmatan dan kebahagiaan yang ada di dalamnya. Demi Allah, itu semua semestinya semakin mendorong orang-orang yang beramal untuk bisa meraihnya dan saling berlomba untuk mendapatkannya, lalu menghabiskan seluruh usianya untuk mencarinya dengan cara hidup zuhud di dunia. Jika kita bertanya tentang jalan yang akan mengantarkan ke sana, maka Allah telah menjelaskan jalan itu sebagaimana tersebut dalam wahyu yang diturunkan kepada Rasul-Nya yang paling mulia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (Ali-'Imran: 133-135).

Berikut ini adalah beberapa kriteria para calon penghuni surga:


1. Muttaqin.
Yaitu orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dengan senantiasa melakukan penjagaan diri dari adzab-Nya dengan melaksanakan segala perintah-Nya dalam rangka menunaikan kepatuhan kepada-Nya dan mengharap pahala-Nya, serta dengan cara meninggalkan segala larangan-Nya juga demi patuh kepada-Nya dan takut akan siksa-Nya.



2. Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.
Mereka adalah orang-orang yang senantiasa membelanjakan harta dalam hal yang diperintahkan oleh Allah untuk dinafkahkan sebagaimana yang dituntut dari mereka, baik berupa zakat, sedekah, maupun memberikan nafkah kepada siapa saja yang ada hak untuk diberi, dan juga menafkahkan harta untuk kepentingan jihad dan untuk jalan kebaikan lainnya. Mereka menafkahkan (membelanjakan) itu semua dalam keadaan lapang maupun sempit. Kelonggaran yang ada pada diri mereka tidak menyebabkan mereka menjadi sangat cinta kepada harta dan rakus terhadapnya karena ingin selalu menambah; sedangkan keadaan sempit yang mereka alami juga tidak menjadikan mereka menahan harta karena takut bila nanti membutuhkannya.


3. Orang-orang yang menahan amarahnya.
Mereka adalah orang-orang yang bisa menahan dan mengendalikan amarahnya ketika hendak marah, sehingga ia tidak akan berbuat melampaui batas dan tidak pula dengki terhadap orang lain karenanya.


4. Orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain.
Mereka mau memberi maaf kepada orang yang berbuat zhalim kepada mereka serta tidak menuntut balas, sekalipun mereka sebenarnya mampu melakukan hal itu. Apa yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya: "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan", merupakan isyarat bahwa pemberian maaf yang terpuji itu adalah jika merupakan bagian dari kebajikan (ihsan) sehingga ia sekaligus menjadi ishlah (memperbaiki/mendamaikan). Adapun pemberian maaf yang justru akan semakin menambah tindak kejahatan yang zhalim itu, maka yang seperti ini tidaklah terpuji dan juga tidak mendatangkan pahala. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya): "Barang siapa memberi maaf dan berbuat baik, maka pahalanya menjadi tanggungan Allah." ((Asy-Syuro: 40).


5. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.
Yang dimaksud dengan perbuatan keji adalah dosa-dosa yang termasuk dalam katagori dosa-dosa besar (al-kaba'ir), seperti membunuh jiwa manusia yang dilarang tanpa ada alasan yang benar, durhaka kepada kedua orang tua, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, zina, mencuri, serta bentuk dosa-dosa besar lainnya. Sedangkan kezhaliman (menganiaya) diri lebih bersifat umum yang mencakup dosa-dosa kecil maupun besar. Jika mereka melakukan hal yang demikian, maka mereka lantas ingat akan keagungan Dzat yang ia durhakai, sehingga ia menjadi takut kepada-Nya, lalu mengingat akan ampunan dan rahmat-Nya. Ia pun bergegas untuk mendapatkannya, memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa yang telah ia lakukan serta memohon agar semuanya ditutupi oleh Allah dan tidak dijatuhi hukuman. Firman Allah yang mengatakan: "Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?", merupakan isyarat bahwa mereka tidak akan meminta ampunan kepada selain Allah, karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Allah.


6. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji (dosa)nya itu, sedang mereka mengetahui.
Maksudnya, mereka tidak terus-terusan melakukan dosa ketika mengetahui yang dilakukannya adalah dosa, dan juga mengetahui keagungan Dzat yang ia durhakai serta mengetahui dekatnya ampunan (maghfirah) dari Allah. Bahkan mereka akan bergegas meninggalkan perbuatan dosa itu dan bertaubat atasnya. Terus-menerus melakukan dosa-dosa besar akan terus membawa pelakunya kepada tingkatan yang semakin berbahaya dan sulit. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman (yang artinya):

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (Al-Mu'minuun: 1-11)


Ayat-ayat yang mulia ini menggambarkan tentang sejumlah sifat dan kriteria penghuni surga.

Pertama: Orang-orang yang beriman.
Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan beriman kepada segala yang wajib diimani; beriman kepada para malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada para Rasul-Nya, kepada hari akhir dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Merke beriman kepada itu semua dengan keimanan yang berisi konsekuensi menerima secara utuh, tunduk dan patuh, dengan perkataan maupun perbuatan.

Kedua: Orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya.
Yaitu mereka yang mengerjakan shalat disertai dengan kehadiran hati dan ketenangan anggota badan. Mereka merasakan bahwa dalam mengerjakan shalat itu ia sedang ada di hadapan Allah Azza wa Jalla, dimana mereka berkomunikasi dengan Allah melalui firman-firman-Nya yang dibacanya, mendekatkan diri (taqarrub) kepada-Nya dengan dzikir mengingat-Nya, dan bermunajat kepada-Nya dengan memanjatkan do'a. Mereka mengerjakan itu semua dengan kekhusyu'an lahir dan batin.

Ketiga: Orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.
Yang dinamakan al-laghw (yang tidak berguna) adalah segala sesuatu yang tidak membawa faedah dan tidak mengandung kebaikan, apakah berupa perkataan maupun perbuatan. Mereka itu berpaling darinya disebabkan karena keteguhan hasrat mereka sehingga mereka tidak mau menggunakan waktu-waktunya yang berharga kecuali yang mengandung faedah. Sebagaimana halnya mereka senantiasa menjaga shalat dengan cara mengerjakannya secara khusyu', maka mereka pun selalu menjaga waktu-waktu mereka dari berlalu secara sia-sia. Jika di antara sifat mereka adalah berpaling dari segala yang tidak berguna, maka sudah tentu mereka akan berpaling dari setiap yang merugikan.

Keempat: Orang-orang yang menunaikan zakat.
Yang dimaksud dengan zakat di sini adalah bagian dari harta yang harus dikeluarkan zakatnya, dan juga berarti segala sesuatu yang bisa mensucikan jiwa mereka, yang berupa perkataan maupun perbuatan. (Salah satu arti zakat itu sendiri adalah mensucikan).

Kelima: Orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Mereka senantiasa menjaga kemaluan dari berbuat zina dan "liwath" (homo seksual) karena keduanya merupakan bentuk kemaksiatan kepada Allah serta merupakan kemerosotan moral dan sosial. Boleh jadi yang dimaksud dengan "memelihara" kemaluan itu bersifat lebih umum lagi dari hal itu, termasuk di antaranya menjaga pandangan dan sentuhan.

Firman Allah yang menyatakan: "Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela," berisi isyarat bahwa pada asalnya manusia itu dicela bila melakukan hal ini, kecuali kepada istri dan budak perempuan yang dimilikinya. Sebab, hal itu dilakukan karena adanya kebutuhan untuk menyalurkan kebutuhan biologis manusia, untuk menghasilkan keturunan serta untuk kemaslahatan-kemaslahatan lain. Keumuman makna dari firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas," menjadi dalil atas keharaman istimna' (masturbasi/onani), karena perbuatan itu dilakukan tidak pada istri maupun budak-budak perempuannya.


Keenam: Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
Yang dinamakan amanat adalah sesuatu yang dipercayakan (diamanatkan) kepada seseorang, baik berupa perkataan, perbuatan maupun barang.

Ketujuh: Orang-orang yang memelihara shalatnya.
Mereka senantiasa menjaga shalat, jangan sampai terabaikan atau terlalaikan. Caranya adalah dengan menunaikannya tepat pada waktunya dalam bentuk yang sesempurna mungkin dengan memenuhi syarat-syaratnya, rukun-rukunnya dan kewajiban-kewajibannya.

------------------------------

(Dikutip dengan sedikit diringkas dari kitab Majalisu Syahri Ramadhan, Edisi Indonesia: Kajian Ramadhan, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah, penerbit: Al-Qowam).

0 komentar:

Poskan Komentar

bismillah ...

saya akan sangat berterimakasih apabila anda berkenan membaca arikel di blog ini sampai tuntas dan kemudian meninggalkan jejak cinta dengan memposting komentar yang sopan dan sesuai dengan tema...

mohon ma'af karena komentar akan saya moderasi terlebih dahulu demi kenyamanan bersama ...